I Killed My Mother (J’ai Tué Ma Mère)2009 | Durasi: 96 min | Negara: Canada | Genre: Drama | Sutradara: Xavier Dolan | Pemain: Anne Dorval, Xavier Dolan, François Arnaud, Suzanne Clément, Patricia Tulasne, Niels Schneider.


Tumbuh bersama seseorang bukanlah sebuah proses yang mudah, apalagi jika orang tersebut adalah orang yang kita benci. I Killed My Mother merupakan kisah emosional yang mungkin dekat dengan kita. Pergulatan hati seorang anak yang benci tetapi mencintai ibunya sendiri. Xavier Dolan berhasil menyuguhkan sebuah potret kehidupan penuh gejolak dari seorang remaja tanggung, Hubert Minel, yang tinggal berdua bersama ibunya, Chantale (Anne Dorval).

I Killed My Mother adalah film Kanada dengan judul asli J’ai Tué Ma Mère. Bercerita tentang Hubert (Xavier Dolan) yang memiliki hubungan penuh konflik dengan ibunya. Keduanya tidak pernah akur dalam kondisi apapun termasuk masalah kecil sekalipun. Hubert yang selalu mempermasalahkan banyak hal dari ibunya, seperti ibunya yang selalu mengemudi sambil berdandan atau selera ibunya yang tidak pernah bagus. Di umurnya yang masih 16 tahun menjadikan emosi Hubert masih bergejolak, ia juga begitu sensitif serta mudah marah

Hubert yang mendapatkan sebuah tugas dari sekolahhnya untuk menulis sebuah esai mengenai orangtua memilih untuk berbohong dengan “membunuh” keberadaan ibunya melalui esai tersebut. Kebencian itu terlihat setiap kali Hubert dan ibunya bertengkar. Ibu Hubert lebih sering terlihat jadi sosok yang lebih tenang, tetapi dapat tiba-tiba meledak di hadapan Hubert. Hubungan tidak sehat ini seperti tanpa akhir, kisah anak dan ibu yang hanya akan terus bertengkar kemudian berbaikan kemudian bertengkar lagi. Layaknya cinta remaja yang putus-sambung, mereka berdua bagai meneriakan, kebencian dan cinta secara bersamaan dalam hati mereka.

 

Tidak Ada yang Sempurna

Saya seperti melihat kisah yang dekat dengan kebanyakan orang. Mengapa begitu sulit untuk bilang “aku sayang kamu”, sedangkan dengan mudahnya kita mengatakan hal serupa kepada orang lain yang bahkan masih ragu atas dirinya atau belum benar-benar paham arti cinta. Terkadang begitulah remaja dan pemikirannya, berbahaya. Mereka egois. Dan yang mereka pahami adalah apa yang mereka ketahui. Seperti Hubert yang hanya paham bahwa ia dapat melakukan apapun yang ia mau, padahal seharusnya sebagai anak seusianya, ia bisa lebih banyak membantu ibunya daripada sibuk dengan hidupnya sendiri.

Pada film ini juga diperlihatkan sisi seorang ibu yang tidak bisa selamanya sabar. Seorang Ibu bisa terkadang marah serta lelah dengan hidupnya. Seperti saat Chantale kesal menunggu Hubert yang terlalu lama saat membeli film. Atau saat di awal film ketika ia kesal karena Hubert marah-marah mengomentari cara ia mengemudi hingga menurunkan Hubert di tengah jalan. Akan tetapi, cinta seorang ibu tidak akan ada akhirnya. Walaupun anak sematawayangnya selalu mengecewakannya, ia tetap mencintai Hubert. Seperti halnya seorang anak, seorang ibu juga bukan makhluk yang sempurna, terkadang ia melakukan kesalahan dan banyak mengecewakan anaknya.

Hubungan ini seakan rusak tanpa sebab. Hubert yang lebih banyak diam dan menutup diri serta Chantale yang seperti tidak siap memiliki anak menjadi dasar pertengkaran ini. Mereka berdua saling kecewa atas diri mereka masing-masing. Hubert yang ternyata seorang homoseksual semakin membuat hati ibunya sedih, bukan karena apa-apa tapi karena Hubert tidak mau terbuka dengan ibunya. Hubert selalu berharap punya ibu layaknya Ibu Antonio, kekasihnya, yang lebih periang dan berpikiran terbuka. Namun, sesungguhnya mereka berdua akan selalu menerima kekurangan masing-masing.

 

Muda, Berbakat, Liar

Xavier Dolan menulis naskah film ini pada umurnya yang masih sangat muda, yaitu 17 tahun, lalu menyutradarainya di umur 20 tahun. Film semi-otobiografi ini merupakan kisah alter-ego milik Dolan. Pemuda asal Kanada ini merupakan seorang filmmaker bertalenta, tidak hanya piawai dalam membuat naskah dan menyutradarainya, tapi juga baik dalam bermain peran. Hasilnya, I Killed My Mother mampu menarik perhatian begitu besar pada Festival Film Cannes di tahun 2009  dengan kesuksesan memenangkan berbagai penghargaan serta delapan menit standing ovation pada saat pemutaran perdananya.

Di umurnya yang terbilang masih muda, Xavier Dolan membuktikan dirinya sebagai jenius dalam menciptakan sebuah pengalaman visual. Dalam debut pertamanya ini sebagai sutradara, ia memiliki gaya yang bebas dan terlihat berani untuk break the rules. Dramatisasi yang cukup baik, menarik perhatian penonton tanpa banyak memamerkan banyak gambar. Dolan terlihat sangat senang menggunakan komposisi yang ekstrim. Terlihat dari ia menaruh karakter ke sisi frame, atau ke bawah frame sehingga terdapat ruang-ruang kosong yang tidak lazim pada film-film umumnya. Komposisi ekstrim ini menyiratkan hubungan kedua karakter yang tidak dekat atau seakan bermusuhan, membantu penceritaan antara Hubert dan Ibunya yang tak pernah akur. Penggunaan gaya gerak lambat dan gerak cepat juga ia manfaatkan untuk kebutuhan pendramatisasian. Seperti saat scene Hubert dikejar Ibunya di sekolah atau saat Hubert emosi dan merusak barang-barang.

Jika diperhatikan, gambar sepanjang film didominasi gerakan kamera yang sangat minim, kita akan disuguhkan gambar diam dengan karakter yang bebas bergerak. Dolan sebisa mugkin menggunakan gerak kamera pada scene tertentu saja. Dari segi pencahayaan pun tidak banyak penaruhan cahaya buatan, sehingga sebisa mungkin semuanya terlihat alami. Malah  terkadang gambar bisa terlalu gelap karena tidak dibantu cahaya manapun. Pemilihan scoring musik yang digunakan Dolan begitu indah. Kesan orkestral yang megah membantu membangun emosi gundah-gulana dari Hubert yang emosional dan sensitif.

Scene hitam-putih dengan khas rekaman kamera video close-up diri Hubert menjadi cerita yang berbeda. Dalam potongan-potongan gambar yang disisipkan dalam beberapa scene menghasilkan perasaan berbeda atas sosok Hubert. Kita yang sepanjang film disuguhkan dengan sikap emosional Hubert, perlahan memperlihatkan sisi lain Hubert yang sensitif. Dengan gaya video diary, Dolan berusaha meyakinkan penonton bahwa Hubert tidak pernah membenci ibunya. Serta yang paling penting, mereka saling membutuhkan.

Dia tidak akan pernah tahu jika kau tidak pernah mengatakannya. Mungkin yang memisahkan kalian berdua sekarang adalah keengganan. Je  t’aime, maman. (Radifan Cakra Aji)