Iman (Faith) | 2014 | Durasi: 3 menit | Sutradara: Nurul Ibrahim | Penulis: Nurul Ibrahim | Produksi: Sleepwalking Production | Negara: Indonesia | Pemeran: Jean Marais


Saya rasa kita semua akan setuju dengan pernyataan “Masyarakat Indonesia tak pernah lepas dari wacana keagamaan”. Coba sekali-sekali anda mendengar pembicaraan di kiri-kanan Anda. Entah seberapa sering saya mendengar perdebatan sengit tentang perspektif agama tertentu terhadap suatu peristiwa. Atau paling tidak, ada saja keluar kata ‘insyallah’ atau ‘kalau Tuhan menghendaki’, entah kata itu bermakna fatalisme atau memang sang penutur benar-benar mengimaninya. Intinya, kedekatan kita terhadap agama dalam kehidupan sehari-hari sudah menjadi suatu hal yang biasa, bahkan mungkin topik utama.

Hal ini tercermin dalam spektrum perfilman Indonesia. Wacana agama dalam film bukan lagi suatu kebaruan, bahkan membentuk genre tersendiri yang biasa kita sebut sebagai ‘religi’ yang lebih spesifik bicara soal agama Islam. Mulai dari biopik seperti Sang Pencerah (2010) dan Sang Kiai (2013), yang memberikan bumbu romantisme seperti Ayat-ayat Cinta (2008) dan Dalam Mihrab Cinta (2010), hingga sub-genre terbaru Thriller Religi yang ditawarkan Pesantren Impian (2016). Film religi menjadi suatu komoditas sendiri dalam masyarakat kita yang mayoritas beragama Islam. Selain film-film religi, masih banyak berbagai wacana agama dalam perfilman kita, seperti Cin(T)a (2009) serta 3 Hati Dua Dunia, Satu Cinta (2010) yang mengangkat tema masalah beda agama, atau film kontroversial Tanda Tanya (2011) karya Hanung Bramantyo yang berani membicarakan interaksi antara umat beragama yang terbilang gambang.

Namun agaknya, tak banyak film Indonesia yang berani berbicara agama tanpa membawa institusi keagamaan itu sendiri. Mencoba mengupas dalamnya spiritualitas seseorang lewat apa yang ia percaya dan ia pegang erat. Dan sepertinya, film pendek Iman karya Nurul Ibrahim berusaha memberikan kedalaman tersebut, dengan pembawaan yang ringan dan tidak menggurui namun penuh dengan kritik terselubung.

Film berdurasi sangat pendek—tak sampai empat menit—ini dibuka dengan kutbah seorang ustadz pada saat Shalat Jumat hari itu, di tengah-tengah jamaah yang malah mengobrol dan bahkan ketiduran. Momen ini adalah sindiran pertama yang diberikan sang pembuat film atas realitas yang ada di tengah umat beragama, seolah bertanya, “Buat apa anda datang Shalat Jumat?” Kita sebagai penonton dipaksa untuk memepertanyakan kembali motivasi kita sebagai umat beragama dalam menjalankan ritual-ritual keagamaan. Apakah kita melakukan ini semua karena kepercayaan saya? Ataukah ini semua hanyalah obligasi yang saya harus jalankan? Apakah ritual keagamaan hanya dimaknai sebagai rutinitas (yang membosankan)?

 

Lain Dikata, Lain Dibuat

Dalam film ini, Ubai bertanya, “Pernahkah engkau melewati jalan yang penuh duri?” “Ya, Pernah,”  jawab Umar. Ubai  bertanya lagi, “Lalu apa yang anda lakukan saat itu?” Umar pun menjawab,  “Saya akan berjalan dengan sungguh-sungguh dan berhati-hati agar tidak terkena dengan duri itu.” Ubai berkata, “Itulah  taqwa.”

Begitulah sepenggal kutipan dari kutbah sang ustadz siang itu. Sesaat setelahnya, jamaah sudah berdiri rapi, siap melakukan shalat berjamaah dipimpin sang ustadz. Namun tak lama setelah membaca surat Al-Fatinah (terima kasih kepada seorang teman yang menginformasikan hal ini), sang ustadz diberikan cobaan ‘kecil’. Seekor serangga jatuh diatas sajadahnya. Serangga tersebut memiliki capit yang siap mencubit sang ustadz. Berbagai cara ia lakukan untuk menghindari serangga tersebut, mulai dari menyentil hingga bersujud secara serong untuk menghindari ‘sang pengganggu’. Namun tetap saja, serangga itu punya seribu satu cara untuk kembali memecah konsentrasi sang ustadz.

Adegan demi adegan yang ditampilkan dalam film berusaha memberikan perbandingan-perbandingan ironi yang ada dalam kata dan perbuatan sang ustadz. Penggalan kutbah sang ustadz adalah bentuk penggambaran idealisme iman yang diajakarkan dalam agama. Sebagai seseorang yang memiliki iman, kita harus tetap berusaha berpegang teguh pada segala perintah dan larangan-Nya, meski dikelilingi oleh duri-duri cobaan. Konsentrasi kita untuk terus memandang Yang Di Atas di tengah kerikil cobaan yang dunia lemparkan adalah bentuk iman kita kepada Sang Pencipta. Begitupun juga isi dari Surat Al-Fatinah yang sang ustadz haturkan. “Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan,” begitu isi penggalan surat ini.

Namun ironisnya, tak berapa lama setelah ia memberikan pengajaran pada jamaah dan berdoa memohon bantuan-Nya, sang ustadz malah sibuk dengan serangga yang mengganggunya. Semua doa yang ia ucapkan, doa yang berisi permohonan akan pertolongan-Nya, malah sia-sia terbuang lewat sentilan dan halauan yang ia lakukan. Disinilah dark comedy yang ingin ditampilkan pembuat film. Jukstaposisi ironis yang ada dalam diri sang ustadz memperlihatkan sebuah paradoks dalam kehidupan beragama. Seakan doa adalah sebuah oksimoron; buat apa minta tolong kalau toh ujung-ujungnya kita akan berusaha sendiri dan menghiraukan doa yang diucapkan?

 

Cobaan Jadi Tontonan

Momen lain yang lebih menyentil adalah ketika sang jamaah malah senyum-senyum sendiri melihat kelakuan sang ustadz saat menghindari serangga. Adegan ini juga bentuk sindirian kepada realitas yang ada dalam masyarakat: cobaan orang lain adalah tontonan buat kita. Manusia memang sering menjadikan permasalahan orang lain sebagai sebuah pertunjukan. Bukannya membantu, kita kadang hanya melihat dan menertawakan (atau bahkan menghakimi). Padahal, belum tentu kita akan melakukan hal yang berbeda saat kita mendapatkan masalah yang sama. Lalu, bukankah kita sebagai umat beragama harusnya saling menolong sesama?

Namun adegan di atas juga bisa jadi bentuk sindiran yang lebih ironis lagi untuk kita, para penonton film. Pada akhirnya, kita sendiri baru saja menonton film berdurasi tiga menit tentang seorang ustadz yang mencoba menghindar dari seekor serangga di tengah khusyuknya Shalat Jumat. Entah apakah ini intensi dari pembuat film atau tidak, tapi ironi tersebut cukup menyentil.

Kejadian yang dialami sang ustadz dalam Iman memaksa kita untuk kembali bercermin atas segala kelakuan dan perbuatan kita sebagai umat beragama. Melalui setiap adegan yang ada dalam film, kita kembali diajak untuk berintrospeksi diri mengenai iman kita kepada-Nya. Pembawaan film yang ringan malah memberikan banyak bahan kontemplasi yang cukup berat bagi kita untuk melihat kembali apa itu ‘iman’ dan apa artinya menjadi umat ‘beragama’. (Yesaya Ferdinand)