Jamila dan Sang Presiden | 2009 | Durasi: 98 menit | Sutradara: Ratna Sarumpaet | Produksi: Satu Merah Panggung & MVP Pictures | Negara: Indonesia | Pemeran: Atiqah Hasiholan, Christine Hakim, Dwi Sasono, Surya Saputra, Eva Celia, Fauzi Baadila, Jajang C. Noer.


Perdagangan manusia adalah sebuah fenomena yang sudah tidak asing di Indonesia. Tercatat pada tahun 2015 International Organization for Migration (IOM) menjadikan Indonesia sebagai negara yang memiliki tingkat perdagangan manusia cukup tinggi di dunia dengan jumlah kasus mencapai 74.616 sampai 1 juta per tahun. Sehingga setiap satu detik pasti ada korban human trafficking di Indonesia. Jawa Barat menempati urutan pertama provinsi penyumbang manusia untuk diperdagangkan. (nasional.sindonews.com)

Fakta tersebut yang menjadikan Ratna Sarumpaet, didukung oleh lembaga pemerhati kesejahteraan anak dunia, UNICEF, harus membuat film Jamila dan Sang Presiden pada tahun 2009. Film ini diadaptasi dari karya teatrikal Ratna sendiri yang berjudul Pelacur dan Sang Presiden yang sudah menuai banyak respon dari para pemerhati seni di Indonesia. Diperankan oleh anak bungsu Ratna, yakni Atiqah Hasiholan, film ini membicarakan hal yang tidak jauh dari sindikat perdagangan manusia dan hubungannya dengan pemerintah.

Jamila dan Sang Presiden bercerita tentang seorang perempuan bernama Jamila, seorang pelacur kelas atas yang harus mengalami pergulatan pahit dalam hidupnya. Pahit yang mungkin benar-benar terasa pahit karena dalam setiap langkahnya selalu saja ada orang-orang yang membuatnya merasakan sakit secara fisik maupun batin. Jamila pun harus mendekam di penjara dan mendapatkan hukuman mati atas perbuatannya terhadap seorang menteri bernama Nurdin.

Ketika mendekam di penjara, Jamila bertemu seorang kepala sipir bernama Ria (Christine Hakim) yang juga memberikan label manusia tidak beradab pada Jamila. Melalui kurungan penjara ini, Jamila tidak henti-hentinya mengenang masa lalunya, dimana ia pernah dijadikan objek perdagangan manusia oleh ayahnya sendiri. Berhasil kabur, Jamila kemudian dititipkan oleh ibu kandungnya untuk tinggal bersama keluarga Wardiman. Di sana ia merasakan untuk pertama kalinya diperlakukan secara amoral oleh dua orang lelaki di keluarga tersebut. Namun, pengalaman pahit yang paling diingat oleh Jamila adalah saat ia harus menghadapi kenyataan bahwa adiknya, Fatimah, harus menjadi korban perdagangan manusia dan mengakhiri hidupnya di Kalimantan.

Sebelum mendekam di penjara, Jamila menghabiskan hari-hari bahagianya bersama Nurdin, seorang menteri yang peduli dengan kesejahteraan rakyat miskin di Indonesia. Berkat Nurdin, hidup Jamila yang sebelumnya hancur lebur menjadi berubah karena Jamila merasa ada seseorang yang benar-benar mencintainya. Sampai akhirnya, Jamila menemukan fakta menyakitkan dan membuat Jamila harus melakukan perbuatan keji terhadap Nurdin hingga menyeretnya pada hukuman mati.

Bersama Jamila, kita diajak mengalami setiap inci kehidupan Jamila dari kecil sampai ia menghabiskan sisa hidupnya di penjara. Menggunakan pola penceritaan maju mundur, film ini menggambarkan secara eksplisit bagaimana perdagangan manusia dan pelacuran di bawah umur terjadi dalam kehidupan sehari-hari di Indonesia. Berbagai macam kejadian tragis yang dialami Jamila disampaikan dengan dramatisasi yang cukup baik dari para pemeran yang memerankan tokoh utama film ini. Tokoh pendukung lainnya pun memerankan perannya dengan kadar yang tidak berlebihan, sehingga cerita masih tetap berfokus pada Jamila.

Secara bertahap kita akan melihat kegetiran hidup Jamila melalui flashback yang hampir seluruhnya terjadi ketika Jamila di penjara. Lihat bagaimana Jamila kecil menangis diikat di tiang oleh mucikari saat hujan lebat, mengelap darah aborsi menggunakan kerudungnya, serta dikejar-kejar para preman yang ingin “menggerayanginya”. Bahkan, semua itu terjadi di saat usia Jamila belum genap menyentuh 17 tahun.

 

Karakter dan Masalah Lainnya

Jamila dan Sang Presiden memiliki premis yang cukup kuat. Namun, masih banyak lubang di sana-sini dalam penceritaannya. Seperti bagaimana pertemuan Jamila dengan Ibrahim, sang penulis? Sejauh mana latar belakang keluarga Jamila? Dan yang paling penting kenapa Sang Presiden malah menjadi sekadar tambahan?  Cerita pada film ini terkesan hanya menyadur dari naskah teater pendahulunya tanpa adanya penyesuaian.

Menonton Jamila dan Sang Presiden layaknya menonton teater di atas panggung yang difilmkan. Akting Atiqah Hasiholan pada awalnya cukup membuat kita terkesan. Akan tetapi, efek yang ditimbulkan selanjutnya adalah kejenuhan. Adegan di diskotik contohnya, dialog yang kaku antara Jamila dengan Ibrahim, serta beberapa voice over Jamila yang terlalu didramatisasi.

Masalah selanjutnya adalah pada pendalaman karakter yang tidak cukup kuat. Beberapa tokoh sepertinya terlalu tergesa-gesa untuk diperkenalkan, tanpa dijelaskan secara mendalam apa motivasi mereka dalam film ini. Tokoh Ibrahim (nama anak ketiga Ratna Sarumpaet) tidak begitu jelas datang dari mana. Penampilan dan gayanya lebih mengarah kepada karakter seorang eksmud ketimbang penulis. Motivasinya untuk membantu Jamila masihlah dibilang samar karena kalau hanya sekadar cinta pada pandangan pertama sepertinya belum cukup sampai ia mau menangani segala biaya yang berkaitan dengan kasus Jamila.

Lain lagi dengan teknik kamera yang digunakan, kesadaran kamera Ratna dan sinematografernya, Nur Hidayat, masih terlihat lemah. Banyak sekali shot yang diambil tidak begitu memiliki kedalaman makna. Adegan yang sarat akan emosi banyak yang diambil secara long shot, seperti pada adegan Jamila bertengkar dengan Ria di dapur. Keseluruhan film menggunakan shot yang dapat dilihat stabil, cara monoton tersebut kontradiksi dengan karakter Jamila yang kondisi emosionalnya sangat tidak stabil. Sudut pengambilan gambar adegan Jamila remaja diperkosa tidak begitu membuat hati penonton tersayat apabila dibandingkan dengan adegan serupa pada film Han Gong-Ju arahan sutradara Su-jin Lee.

Alhasil, film Jamila dan Sang Presiden tidak membawa kita pada pergulatan Jamila yang lebih autentik. Masalah hanya berputar-putar pada penuturan realitas dan hukuman mati. Penjara tidak lebih dari sekadar simbol pengekangan terhadap idealisme Jamila, terbukti dengan sebagian besar gambar diambil dari luar jeruji besi sel tahanan Jamila.

 

Birahi dan Hubungannya dengan Ketidakadilan

Lalu terbersit pertanyaan, bagaimana Jamila mengatasi masalah yang semata-mata berakar dari nafsu birahi? Jamila menjawabnya dengan nafsu birahi juga. Sedari kecil kita diperlihatkan bahwa Jamila dijual oleh ayahnya kepada mucikari untuk dijadikan sebagai pelacur. Setelah itu hidupnya memang tidak jauh dari tempat-tempat pelacuran. Setidaknya kita bisa melihat Jamila memutuskan untuk melacur atas kemauannya sendiri saat bertemu Nurdin.

Rangkaian adegan di penjara menegaskan bahwa Ratna memiliki logika penuturan yang konsisten. Kita tidak diajak sedikit pun keluar dari yang namanya ketidakadilan, dimana Jamila selalu terjebak dalam posisi korban, entah korban perdagangan anak, korban pemerkosaan, atau pun korban percintaan. Tiap dialog yang diucapkan Jamila selalu menegaskan bahwa dirinya memang tidak butuh keadilan. “Saya sudah lama mati Bu. Sejak di rahim ibu saya sudah mati.”

Jamila dan Sang Presiden sebenarnya hanya gambaran kecil mengenai kejamnya perdagangan manusia dan efek yang ditimbulkannya melalui perspektif Ratna Sarumpaet. Karya-karya yang dipresentasikan oleh Ratna memang akan selalu menitikberatkan pada persoalan Hak Asasi Manusia. Melalui jalan itu, Ratna akan selalu memperjuangkan keadilan sampai titik tinta penghabisan. (Razny Mahardhika)