Invasion Of Body Snatchers | 1978 | Durasi: 1 jam 55 menit | Sutradara: Philip Kaufman | Produksi: Solofilm| Negara: Amerika Serikat | Pemeran: Donald Sutherland, Brooke Adams, Jeff Goldblum, Veronica Cartwright, Leonard Nimoy, Art Hindle


Satu persatu warga San Fransisco mulai mengalami perubahan perilaku yang signifikan. Hal ini pertama diketahui oleh Elizabeth Discroll, seorang pegawai di Departemen Kesehatan San Fransisco mengalami hal yang sama juga, dari hari ke hari perilaku kekasihnya semakin janggal. Merasa ada yang tidak beres, akhirnya Eliizabeth meminta saran kepada temannya Matthew Bennell, seorang inspektur kesehatan di tempat kerjanya. Matt menyarankan Elizabeth agar menemui Dr. David Kibner, psikiater ternama yang juga merupakan sahabat Matthew. Akhirnya mereka bertiga menemukan kesamaan perubahan yang terjadi antara Geoffrey dan warga San Fransisco. Apa yang sebenarnya terjadi?

Setiap tahunnya film remake bermunculan di dunia perfilman, entah itu remake dengan menonjolkan aktor baru, fitur baru, atau special effects yang baru. Sayangnya film – film remake itu bernasib sial dibanding pendahulunya. Sulit rasanya mencari film remake yang mendapatkan respon lebih baik dibanding film pendahulunya, selain kesan yang dibangun film orisinil, para penggarap film remake pun harus tau apa keunggulan ide ceritanya dibandingkan membombardir filmnya dengan efek – efek dan overbudget.

Invasion of The Body Snatchers (1978) tidak terlahir tanpa pendahulunya. Film ini merupakan besutan ulang dari film berjudul sama pada 1952. Apakah film ini terselamatkan dari kutukan remake gagal? Jika kita sempat menonton The Omen (2006) yang merupakan remake dari film berjudul sama yang terbit 40 tahun sebelumnya, maka Anda akan bertanya – tanya apa yang sebenarnya berusaha dibangkitkan dalam The Omen? Setiap shoot yang diambil sama, pembangunan karakter yang sama, dengan pilihan aktor yang lebih murahan. Well, itu baru the The Omen, belum lagi jika kita berbicara sebanyak apa film – film Wes Craven yang dia sendiri berusaha buat kembali. Sangat menyedihkan.

Remake bukanlah tentang nostalgia bukan pula tentang menyempurnakan, film remake bagi saya adalah tentang terlahir kembali dengan gaya baru, atau dengan lebih baik dari pendahulunya. Syarat kedua memang lebih sulit, salah satu yang berhasil adalah Bad Lieutenant : Port of Call New Orleans (2009) yang merupakan remake dari Bad Lieutenant (1992), ada cerita lucu sekaligus menyedihkan dari kisah daur ulang Bad Lieutenant. Werner Herzog yang merupakan sutradara dari film remake tidak pernah membaca script dari film aslinya bahkan dia tidak pernah menonton film aslinya, dan ketika remake-nya dibuat responnya jauh lebih baik dibanding pendahulunya, well played.

Jadi kembali ke pertanyaan awal, “Apakah film ini terselamatkan?” Bagi Saya, film ini terselamatkan, dalam Rottentomatoes, Philip Kauffman menyelamatkan muka film remake dengan skor 94% dan fresh. Mereka jauh dari kata buruk dan hampir menyentuh sempurna. Film ini bisa menjadi salah satu figure sci-fi horror thriller suspense? Ya, apalah sebutannya pada era 80an.

Keseburan film – film horror dan sci-fi murahan mulai tumbuh pertama di Amerika Serikat semenjak era 1930an B movie sudah mulai bermunculan dengan genre sci-fii dan horror. Sebagai intermezzo film B merupakan film low budget dengan layer cerita yang hanya satu dimensi (seperti bunuh-bunuhanan dengan motif seadanya, yang hanya terfokus satu dan sulit meluas). Dengan menonton bioskop  Tr4ns TV kita dapat mengenali banyak B movie. Mereka umumnya menyiarkan film – film Nature Horror kelas B, yang paling sering film Tremors horror tentang cacing raksasa yang menyerang melalui tanah, dan sci-fi horror lainnya. Invasion of The Body Snatchers menjadi salah satu film dengan judul B, genre B namun kualitas yang jauh dari B-Movie.

Philip Kauffman, Sang Sutadara kembali menyajikan sebuah kritikan sosial, kritikan sosial secara implisit di dunia film sudah bukan hal aneh, bukan? Jika akrab dengan sci-fi era 70-80an kita mungkin akan ingat dengan Blade Runner dan unicornnya, Star Wars dengan ajaran force-nya, Terminator dengan skynet dan masih banyak lagi. Sci-fi memiliki keunggulan dalam menyampaikan sebuah pesan, sebuah kritikan bagaimana dunia paralel yang dimaksud merupakan representasi dari dunia nyata, sci-fi layaknya sebuah gambaran apa yang terjadi, dan dari sana muncul pertanyaan apa yang tidak ada? Mengapa bisa terjadi?

Invasion of Body Snatchers tahun 56 dikenal sebagai film propaganda, anti-komunisme. Dituangkan secara eksplisit seperti, keberagaman yang menyita kebebasan, semua orang tidak memiliki emosi, tujuan utama mereka adalah bertahan hidup dan berkembang semua dilakukan atas kepentingan bersama, dan tidak ada kepentingan individu. Sebuah alegori perang dingin.  

Pesan yang sama pun disampaikan Kauffman, dengan cara yang berbeda, dengan latar masa yang berbeda. Tidak mungkin kita mereka ulang kembali film dengan menggunakan latar belakang berbeda dan mengharapkan hasil yang sama. Kauffman lebih indah dalam menyampaikan dibantu dengan sinematografi apik dari Michael Chapman (“The Front”, “Raging Bull”, “Taxi Driver”), Chapman menggunakan hanheld yang liar pada adegan kejar-kejaran, shading khas film noir, dan masih banyak lagi. Semua itu disajikan dalam film sci-fi yang umumnya hanya menyajikan sebuah fakta fiksi yang dibuat selogis mungkin, dengan teknis yang berfokus kepada kostum dan special effect. Kalau mau menilik bisa dilihat Invasion of The Body Snatchers menggunakan special effect yang minim, baik dari practical effect maupun kostum dan lainnya. Semua unsur sci-fi hampir dibangun dengan teknik sinematografi-suara-akting-dan special effect low budget. (jika dibandingkan dengan Blade Runner atau Star Wars)

Ketika berbicara genre film ini masih abu – abu. Banyak yang masih ragu apakah ini film sci-fi atau horror atau keduanya, padahal unsur suspense dan thriller pun masuk ke film ini. Bisa dilihat dari penyamaran menjadi Body Snatchers yang dilakukan Matthew dan Elizabeth, kamuflase yang mudah terbongkar itu membuat film ini menjadi menegangkan, saat pertama kali menonton “Argo (2012)” Saya banyak teringat dengan adegan di Invasion of The Body Snatchers. Suspense dibangun dari premis yang ditawarkan, walaupun dari awal kita bisa mengindikasi bahwa perubahan terjadi karena spora – spora pencuci otak, namun bagaimana caranya? Dan suspense yang dibangun pun pecah saat kita mengetahui bahwa spora alien tersebut langsung menghancurkan raga asli si manusia saat mereka berhasil mencuri tubuh, lagi pula plot ceritanya sangatlah berbau suspense.

Wes Craven pernah berkata, ““Horror films don’t create fear. They release it.” Invasion of The Body Snatcher memang tidak membuat paranoia bagi penonton, namun membangkitkan kembali dan mengingatkan kembali bagaimana mengerikannya kehilangan jiwa dan menjadi budak negara, kengerian itu akan terbenam dalam ingatan penonton, entah sebagai propaganda, atau self-note. Jadi sekali lagi, Apakah film ini terselamatkan? (M. Damarwan Syahid)