Heavenly Forest (Tada, Kimi o Aishiteru) | 2006 | Durasi: 116 menit | Sutradara: Takehiko Shinjo | Produksi: Avex Entertainment, IMJ Entertainment, & Toei Company | Negara: Jepang | Pemeran: Aoi Miyazaki, Hiroshi Tamaki, Meisa Kuroki.

 

Keindahan, baik yang terkandung di dalam suatu benda maupun seseorang mempunyai nilai-nilai yang berbeda. Tergantung makna yang terkandung di dalamnya dan bagaimana orang lain menilainya. Tampaknya suatu keindahan merupakan hal yang selalu ingin diabadikan nilainya melalui sebuah foto, dan ini yang terjadi di film Heavenly Forest.

Film Heavenly Forest dimulai dengan sebuah voice over “Dia sering berbohong”, yang lalu dilanjutkan dengan adegan seorang pria sedang membaca surat dalam perjalanannya menggunakan bis transportasi umum di negeri julukan Paman Sam, Amerika. Dari awal film, penonton sudah diberi teka-teki tentang kalimat tersebut yang jelas memiliki arti penting karena diletakkan di awal film, teka-teki mengenai siapa dia dan apa saja kebohongannya?

Makoto dan Shizuru, keduanya adalah mahasiswa yang memasuki tahun ajaran baru di salah satu Universitas di Jepang. Film ini terpusat oleh kedua pemain yang memiliki banyak kesamaan karakter yang unik, juga cukup berbeda. Makoto, pria yang memilih untuk menjauh dari orang-orang di sekitarnya karena ia takut orang-orang akan merasa terganggu oleh bau yang dikeluarkan dari obat yang harus ia gunakan tiap saat. Sama halnya dengan Shizuru, wanita yang belum cukup dewasa pada umurnya. Shizuru memiliki sifat yang masih kekanak-kanakan dari perilakunya yang terlihat, membuatnya seperti memiliki dunia sendiri dimana sebagian besar orang akan beranggapan bahwa dia merupakan orang yang aneh.

Keduanya dipertemukan ketika mereka sama-sama tidak hadir dalam acara orientasi kampus pada hari pertama kuliah. Makoto yang sedang penasaran dengan suatu tempat yang tidak lazim berada di tengah perkotaan, mendengar kericuhan klakson mobil di jalan raya, dan di sanalah ia melihat Shizuru untuk kali pertama. Shizuru yang dengan gigih ingin menyeberangi jalan raya, tetapi banyak mobil yang berlalu lalang. Dari peristiwa ini Makoto menangkap sifat unik dari Shizuru karena tingkah lakunya, yang juga ia abadikan melalui medium foto karena fotografi merupakan hobi Makoto.

Semenjak hari itu, pertemuan-pertemuan berikutnya menjadikan mereka sahabat dekat. Makoto yang masih penasaran dengan tempat yang ia temukan saat bertemu dengan Shizuru, mencoba untuk membobol masuk ke dalam dan diikuti oleh Shizuru. Ternyata tempat tersebut adalah sebuah hutan kecil yang terdapat banyak pohon dan sebuah danau. Hutan kecil di tengah perkotaan. Hutan yang menjadi tempat Makoto berburu foto. Hutan ‘milik’ Makoto dan Shizuru.

Dalam suatu film drama romantis, tidak sulit untuk melihat apakah sudah terjadi suatu ketertarikan dari satu pemain terhadap pemain lainnya. Penampakan ketertarikan satu sama lain dapat dilihat dari perilaku yang ditunjukkan dari pemain tersebut. Jelas terlihat bahwa Shizuru menyukai sosok Makoto yang selalu menemaninya. Hal ini dapat dilihat dari Shizuru yang dengan kehendaknya sendiri ingin mempelajari hal yang disukai oleh Makoto. Shizuru terinspirasi oleh Makoto dan mulai menggemari fotografi juga. Hutan ‘milik’ mereka berdua pun sering dijadikan tempat hunting foto. Shizuru makin jatuh hati kepada Makoto.

Ketika Shizuru sedang jatuh cinta kepada Makoto, di sisi lain Makoto terlihat menyukai Miyuki, teman sekelasnya yang sangat berbeda dengan Shizuru. Miyuki memiliki sifat yang dewasa dan juga anggun. Meskipun Shizuru seperti mencintai sendirian dan cinta yang tidak berbalas, Shizuru memutuskan untuk tetap Mendukung Makoto dalam hal menyukai Miyuki dan ia juga berteman baik dengan Miyuki. Sifat unik yang dimiliki Shizuru kadang memang akan membuat kita merasa bingung dengan apa yang dirasakan oleh Shizuru.

Meskipun begitu, Makoto lebih sering menjalani aktivitas kesehariannya bersama Shizuru. Apalagi dengan perisiwa Shizuru melarikan diri dari rumah akibat bertengkar dengan ayahnya, Makoto yang tidak tega, mengajak Shizuru untuk tinggal bersamanya. Kebersamaan membuat mereka saling tahu lebih dalam satu sama lain.

Suatu hari, Shizuru memutuskan untuk ingin mengikuti kompetisi fotografi dengan tema “Lover’s Kiss” dan Shizuru meminta Makoto untuk menjadi artis di foto tersebut. Shizuru meminta Makoto untuk menciumnya dan lalu diabadikan melalui medium foto. Adegan ciuman tersebut diambil di pinggir danau dalam hutan ‘milik’ mereka. Ciuman itu ternyata bukan hanya sekedar ciuman untuk objek foto. Namun, ciuman yang selanjutnya menjadi sebuah tanda tanya bagi  perasaan Makoto.

Makoto merasa ciuman yang ia lakukan bersama Shizuru begitu nyata dan menyisakan rasa yang terus ada di hatinya. Rasa yang selama ini ditutupinya bahwa sebenarnya Makoto juga menyukai Shizuru. Namun sayang, kata terlambat merupakan kata yang cocok untuk Makoto. Makoto belum sempat menyampaikan perasaannya kepada Shizuru, tetapi ia sudah pergi dari rumah Makoto dan pergi entah ke mana, bukan hanya dari rumahnya, tapi juga dari kehidupan Makoto sampai waktu yang tidak diketahui. Pupuslah harapan Makoto terhadap Shizuru.

Dua tahun tanpa kabar dari Shizuru, Makoto menerima surat yang berisi undangan untuk datang ke pameran foto karya Shizuru di New York. Makoto datang dengan penuh harap bisa bertemu dengan Shizuru, hanya saja takdir berkata lain. Makoto dihadapkan pada kenyataan bahwa Shizuru ternyata bukan hanya meninggalkan Makoto untuk beberapa waktu, tapi untuk selamanya. Shizuru yang selama ini menyimpan rapi rahasia penyakit genetiknya. Dan pameran foto yang ia gelar, memang tampaknya ia persembahkan untuk Makoto. Karena ada satu ruang di mana terdapat dinding dengan penuh pajangan foto diri Makoto. Di sisi lainnya, terdapat foto mereka berciuman di hutan ‘milik’ mereka dengan tulisan “It was the only kiss, the love I’ve ever known” oleh Shizuru. Mungkin Shizuru memang pergi selamanya dari hidup Makoto. Namun, sosok Shizuru akan tetap abadi dalam foto tersebut dan diri Makoto.

Film Heavenly Forest memiliki alur maju-mundur diisi oleh flashback di tengah-tengah beberapa adegan. Dengan terdapat voice over, sebenarnya film ini memberikan beberapa petunjuk di dalamnya, sama halnya dengan film My Sassy Girl. Film drama Jepang memang mempunyai alur yang khas, dalam film Heavenly Forest tidak terdapat peran antagonis. Miyuki sekali pun yang bisa dibilang ‘orang ketiga’ dalam film ini ternyata memiliki sifat yang baik dan berteman baik pula dengan Shizuru sampai akhir hidup Shizuru. Tidak ada kecenderungan memihak dalam menonton film ini.

Penonton film drama memang harus dimanjankan dengan shot-shot yang menunjukkan keindahan film dalam bentuk visual. Shot yang sebagian besar terdiri dari medium dan long shot, dipadu dengan sentuhan artistik yang manis membuat kita akan menikmati film drama ini. Kekuatan dari film ini terdapat pada plot cerita yang tidak tertebak. Penonton seakan-akan tahu adegan selanjutnya. Kita akan merasa tertipu dengan apa yang sesungguhnya terjadi. Apalagi pada adegan akhir yang dilatar belakangi di Amerika. Shot-shot yang menunjukkan gerak gerik khas Shizuru, membuat kita penasaran dan ternyata kita akan merasa tertipu dengan pikiran kita sendiri.

International Kissing Day memang cocok jika dikaitkan dengan film Heavenly Forest. Satu-satunya ciuman yang terjadi antara Shizuru dan Makoto merupakan ciuman yang dapat mengeluarkan rasa sayang Makoto terhadap Shizuru, karena ciuman yang rasanya begitu nyata bagi mereka berdua. Ketulusan cinta Shizuru terhadap Makoto tersampaikan lewat ciuman itu. Namun sayang, Makoto hanya bisa merasakan hal itu kembali lewat sebuah foto yang akan selalu abadi untuk dikenang.

Memang sebuah kebohongan yang Makoto rasakan di akhir film Heavenly Forest. Namun, pada akhirnya ia membiarkan dirinya untuk dapat merasakan ‘kebohongan’ itu. Karena hanya itu yang dapat dikenang oleh Makoto. Dan kita pun akan keluar dari teka-teki yang diberikan di awal film, mengenai siapa dia dan apa saja kebohongannya. (Annisa Mutia)