Miracle in Cell No. 7 | 2013 | Durasi: 127 menit | Sutradara: Lee Hwan-Kyung| Penulis Naskah: Lee Hwan Kyung, Kim Hwang Sung, Kim Young Suk, Yoo Young A | Produksi: Next Entertainment World | Negara: Korea Selatan | Pemeran: Ryoo Seung Ryong, Park Shin Hye, Kal So Won, Oh Dal Su, Park Won Sang, Jeong Man Sik, Kim Jung Tae, Kim Ki Cheon, Jung Jin Young


Keadilan, merupakan hak dan kewajiban bagi semua mahluk hidup. Manusia, hewan, serta tumbuhan menjalani hidup yang aman dan damai bila adanya dasar keadilan. Namun, hanya mahluk hidup yang berpikirlah yang dapat memberikan keadilan dengan porsi yang sesuai. Manusia, yang diklaim sebagai mahluk paling sempurna karena kemampuannya dalam berpikir terkadang kalah dengan ego yang tumbuh dari tujuannya menjaga prestise diri sendiri. Efek dari perilakunya mungkin tidak berdampak makro dan merugikan banyak orang. Namun, jika dilihat secara personal, dampak makro pada seseoranglah yang menjadi taruhannya. Dirinya, lingkungannya, penilaian orang lain, pekerjaannya, keluarganya, dan hidupnyalah yang dipertaruhkan demi membuat pihak yang tinggi menjadi lebih tinggi.

Film asal Korea Selatan ini dari judul filmnya, seakan menceritakan tentang sesuatu yang berbinar dalam salah satu sel penjara. Mengingat film Korea identik dengan pemainnya yang berparas dewa-dewi, bisa saja ada orang mengira di dalam sel penjara tersebut muncul pria tampan calon model atau wanita cantik ketua komplotan jahat. Tapi tidak, penonton tidak akan menemukan hal-hal seperti itu dalam film ini. Tidak ada pria tampan, melainkan lima orang pria dengan kehidupan penjaranya yang membosankan, hingga satu orang masuk dan membuat cerita mereka jadi lebih berwarna di dalam penjara.

Lee Yong Gu (Ryoo Seung Ryong), pria dengan cacat mental sekaligus seorang ayah yang sangat mencintai putrinya, harus masuk penjara atas tuduhan tiga pasal sekaligus. Tidak main-main, pasal-pasal tersebut antara lain mengenai penculikan anak di bawah umur, pemerkosaan dan pembunuhan, pelecehan seksual, dan pencabulan anak dibawah umur. Pada hari kedatangannya, Yong Gu habis disiksa penghuni sel nomor 7 setelah mereka membaca laporan hasil sidang pertamanya. So Yang Ho, Choi Won Sang, Shin Bong Sik, Man Bum, dan Seo benar-benar tidak habis pikir dengan kelakuan penghuni barunya tersebut. Meskipun masuk penjara, mereka masih punya hati mengenai anak kecil.

Setelah beberapa hari bersama, mereka mulai meragukan tuduhan yang dibebankan kepada Yong Gu. Keraguan itu makin besar setelah mereka berhasil memasukkan Ye Sung kecil (Kal So Won), putri semata wayang Yong Gu, ke dalam sel. Rasa kesalpun berubah menjadi penasaran. Hari-hari yang mereka lewati penuh dengan canda tawa karena kepolosan Yong Gu dan keceriaan Ye Sung. Kecerdikan sang aktor memerankan seorang cacat mental patut diacungi jempol karena terlihat seakan ia benar-benar seperti itu di dunia aslinya.

Setelah lama bersama, akhirnya salah seorang dari kelima penghuni awal sel nomor 7 bertanya mengenai kasus Yong Gu. Setelah Yong Gu menceritakannya, mereka menemukan banyak kejanggalan. Cara mereka mengusut kasus tersebut hanya mengandalkan pengetahuan dan analisis yang terbatas seperti adegan-adegan dalam film detektif yang dikemas secara lucu. Tidak ada special effect yang membuat tercengang dalam film ini, tapi  penyajian plot maju mundurnya membuat penonton dapat mengerti dengan mudah jawaban atas keganjilan dari alur sebelumnya.

 

Persahabatan Tanpa Pamrih Para Penghuni Penjara

Pada awal kedatangan Ye Sung, penghuni sel nomor 7 mati-matian menyembunyikannya agar tidak ketahuan oleh sipir. Semua berjalan lancar hingga suatu malam, kepala penjara datang dan memergoki mereka semua. Mereka memang mendapat hukuman, tapi diterimanya dengan senyuman dan tetap santai. Tidak hanya itu, saat mereka mengetahui kebenaran dari kasus Yong Gu, mereka dan beberapa penghuni penjara lainnya memberi dukungan dengan berbagai cara. Yong Gu yang memiliki keterbatasan dibantu dalam mempersiapkan jawabannya di depan hakim pada persidangan selanjutnya. Kejadian lucu dari persahabatan mereka ketika So Yang Ho, ketua gang sel nomor 7, akhirnya ketahuan bahwa ia tidak bisa baca dan menulis. Bahkan Ye Sung juga ikut membantu agar si ketua memiliki keahlian dasar tersebut.

 

Keluarga Adalah Segalanya

Tidak diceritakan bagaimana kehidupan awal Yong Gu dan Ye Sung, yang pasti mereka saling menyayangi. Mungkin banyak anak yang tidak dapat menerima keadaannya yang miskin dan memiliki ayah yang tidak sempurna, Ye Sung justru dengan bangga dan tulus tetap menyayangi Yong Gu. Ia sangat mengerti keadaan ayahnya sehingga tumbuh menjadi pribadi yang mandiri. Ia mengetahui tempat-tempat penting di rumahnya, bagaimana bersikap dengan orang lain, menabung, menyiapkan segalanya sendiri, dan kebiasaan-kebiasaan lain yang tidak dimiliki anak baru masuk SD lainnya. Saat Yong Gu masuk penjarapun, ia rutin berkunjung dan bercerita apapun yang telah dilewatinya, seperti tidak ada kaca kedap suara diantara mereka.

 

Manusia: Monster atau Malaikat

Fakta bahwa Yong Gu sebenarnya tidak bersalah ternyata tidak disukai oleh beberapa pihak. Di saat orang-orang di penjara mendukungnya untuk lepas dari tuduhan, pihak lain justru membuatnya semakin terperosok dengan fitnah serta kesaksian palsu. Pihak yang mempunyai kedudukan, harta, serta kewenangan. Manipulasi data, berkas, serta reka adegan membuatnya semakin terpojok. Dengan memanfaatkan kelemahan Yong Gu dan rasa cintanya pada putri semata wayang, ancaman demi ancaman bertubi-tubi diterimanya untuk mengaku sebagai pelaku atas kasus yang tidak pernah dilakukannya. Semua kesalahpahaman seorang pejalan kaki harus dibayar mahal oleh seorang pria lemah tanpa kekuatan di mata hukum.

Memang sulit jadi orang yang benar, karena manusia dikelilingi oleh kesalahan dan ketidaksempurnaan. Tapi jadilah orang yang baik, karena orang baik tidak mengedepankan ego. Orang yang baik merasakan dengan hati dan berpikir dengan otak, bukan sebaliknya. Orang yang baik memperhatikan orang sekitarnya dan dapat mengetahui mana yang seharusnya dilakukan mana yang tidak, mereka tidak takut mengaku salah karena memang itu salah. Orang yang baik tidak merugikan orang lain demi mengangkat dirinya. (Tasha Fitri Amalia)