Forty-nine Days | Genre: Animasi | Durasi: 18 Menit | Sutradara: Di Nuo Huang & YesYo | Negara: Taiwan | Viddsee: http://bit.ly/29yhePB

 

Gambar wajah seorang lelaki tua dalam pelukan seorang anak laki-laki mengawali film animasi ini. Ruangan sekitar yang menjadi latar tempat begitu kosong, pun tatapan anak laki-laki itu. First rule, jangan hiraukan captionnya. Biarkan pikiranmu mengira-ngira dengan liar konflik apa yang akan disuguhkan dalam cerita.

Penonton disuguhkan animasi dua dimensi. Sederhana, tapi cukup menyayat hati. Tak banyak tata artistik yang digambarkan dalam film. Gerakannya pun tidak halus layaknya animasi Jepang yang kerap kita saksikan di televisi, masih kaku. Warna kuning kecoklatan membuat nuansa film semakin sendu. Permainan plot yang dibuat maju-mundur juga turut mempermainkan emosi penonton.

Sang sutradara, Huang dan Yesyo, membuat Ali (nama pemeran utama) merasakan apa yang dirasakan oleh ayahnya dulu. Mulai ia kecil hingga beranjak dewasa dan meninggalkan ayahnya sendirian di rumah. Bukan tanpa sebab, Ali marantau ke kota untuk bekerja, tetapi semenjak ia melangkahkan kaki keluar rumah, ia tak pernah kembali. Sampai ayahnya menghembuskan nafas terakhir, barulah ia pulang. Sayangnya, kepulangan Ali harus dibayangi rasa bersalah dan dalam keadaan duka mendalam karena ia kembali untuk memakamkan ayahnya. Ia kembali untuk melihat ayahnya untuk yang terakhir kali. Tak ada canda tawa seperti sediakala. Sedih dan sesal berkecamuk dalam pikiraannya hingga membuat Ali susah terlelap. Sekalinya terlelap, air mata berlinang dalam tidurnya.

Konflik dimulai dari munculnya seorang bayi laki-laki dalam selimut secara tiba-tiba sehari sesudah pemakaman ayahnya dilangsungkan. “Kenapa tiba-tiba ada bayi lelaki muncul dalam selimut?” Tak hanya kamu, saya pun bertanya-tanya.

Rupanya, bayi lelaki itulah yang digunakan dua sejoli, Huang dan YesYo, untuk membuat Ali merasakan apa yang pernah dirasakan oleh ayahnya. Ali secara tiba-tiba, mau tak mau, menjadi seorang ayah bagi bayi lelaki tersebut. Awalnya ia merasa takut, namun lama-kelamaan ia melihat sosok bayi itu mirip dengan almarhum ayahnya. Ia menjaga bayi itu, persis seperti ayahnya menjaga ia sewaktu dulu.

Kejadian-kejadian suka duka yang dihadapi ayah Ali ketika Ali masih kecil, kembali dialami oleh Ali dengan bayi lelaki yang datang dari bawah selimut itu. Mengayuh sepeda di tengah malam yang gulita untuk membawa bayi itu ke dokter karena tangisnya yang tak kunjung berhenti, persis ketika ayahnya dulu membawanya ketika Ali jatuh terluka. Ali juga bermain-main dan memberi makan bayi laki-laki itu.

Lama kelamaan, bayangan tentang almarhum sang ayah terus menghantuinya sehingga membuatnya semakin menyesal. Puncak penyesalan sampai ketika Ali melihat sosok dirinya ketika akan pergi meninggalkan rumah, ia menolak bekal dari ayahnya dan langsung melangkahkan kaki keluar rumah.

Tak ada salam perpisahan, apalagi pelukan hangat. Adapula scene yang menunjukkan sosok sang ayah yang kebingungan mencari Ali di stasiun kereta serta penantian ayahnya akan sepucuk surat dari anak semata wayangnya itu, serta kesendirian-kesendirian lain yang menemani sang ayah.

Ali kecil juga digambarkan begitu bahagia dengan ayah yang penuh perhatian dan kasih sayang. Sayangnya, kebahagiaan itu tak didapat oleh ayahnya ketika Ali mulai dewasa dan pergi keluar kota. Ayah Ali lebih sering ditemani dengan kesendirian dibandingkan dengan percakapan hangat antara ayah dan anak di masa tuanya. Gambaran-gambaran itu rupanya mengantarkan Ali pada penghujung cerita di mana Ali akhirnya bisa memeluk ayahnya untuk yang terakhir kali sebelum ia sadar bahwa semuanya semu.

Cerita film Forty-nine Days ini rupanya berkaitan dengan kepercayaan orang Tionghoa bahwa 49 hari setelah kematian seseorang merupakan masa transisinya. Dalam kurun waktu 49 hari, roh dari almarhum masih kuat ikatannya dengan alam kasar (dunia). Mereka juga percaya bahwa orang meninggal dapatberreinkarnasi (cut sie) pada hari ketujuh setelah kematiannya.

Dari kepercayaan itu, Huang dan YesYo memulai cerita mereka. Hari reinkarnasi menjawab pertanyaan saya terkait bayi lelaki yang tiba-tiba keluar dari dalam selimut Ali. Cerita dalam film ini dibuat sangat menarik. Terutama ketika kalian sudah mengetahui arti judul film. Rupanya, judul Forty-nine Days itu berkaitan erat dengan ceritanya. Arti dari 49 hari dalam kepercayaan Tionghoa itu juga yang akan menjawab kejanggalan-kejanggalan dalam film.

Huang dan YesYo menggabungkan kepercayaan orang Tionghoa terhadap orang yang telah meninggal dengan cerita sedih seorang ayah yang ditinggal anaknya ke kota untuk bekerja sampai sang ayah meninggal.

Sebagai perantau, saya juga “tersinggung” dibuatnya oleh film ini. Plotnya yang dibuat maju-mundur akan membuat penonton semakin sedih, terlebih ketika melihat kesendirian ayah Ali saat Ali tak kunjung pulang.

Jangan berekspektasi terlalu tinggi mengenai tata artistik atau kehalusan gerakan dalam animasi. Bisa jadi kalian akan kecewa.

Kekurangan itu tertutupi oleh cerita film Forty-nine Days ini yang patut diacungi empat jempol. Cerita dibuat sederhana dengan memakai bayi laki-laki sebagai gambaran si pemeran utama dan sang ayah. Sederhana walaupun awalnya agak membingungkan. Dengan ini saya sadar, jika kita membuat film dengan ide cerita yang bagus, perkara teknis menjadi tidak perlu dipusingkan. Ia akan dikalahkan oleh pesan sederhana yang dibawa oleh ide cerita yang bagus.

Backsound yang dipakai dalam film ini pun sederhana, hanya satu dan itu-itu saja. Namun, bagi saya pribadi, backsound tak jadi penghalang sedihnya cerita dalam film, karena fondasi sedih dalam film ini sudah dibangun melalui ceritanya sejak awal. Tak heran jika film ini sangat apa adanya. Sebab semuanya, mulai cerita, desain, animasi, dan lainnya dibuat hanya berdua, Di Nuo Huang dan YesYo.

Film ini bisa menjadi pengingat untuk para penikmat film yang tinggal jauh dari orangtua. Pulanglah. Pulang selagi bisa. Sebab kebahagiaan orangtua rupanya tak bisa dibayar dengan uang semata. Pertemuan tatap muka sembari bercakap-cakap hangat rupanya lebih dari harta. (Alfiyya Dhiya Haq)