50 First Dates | 2004 | Durasi: 1 Jam 39 Menit | Sutradara: Peter Segal | Produksi: Happy Madison, Flowe Film | Negara: Amerika Serikat | Pemeran: Adam Sandler, Drew Barrymore, Rob Schneider, Sean
Astin


Menonton 50 First Date untuk pertama kalinya, pasti semua orang berpikir bahwa ini adalah film Adam Sandler seperti biasa, penuh dengan drama dan komedi yang mengarah ke seksualitas. Memang awalnya terlihat seperti itu, tapi film ini juga tidak menghilangkan unsur romantis yang ada didalamnya.

Bercerita tentang Henry Roth (Adam Sandler) yang merupakan lelaki playboy yang mengincar hubungan semalam dengan para perempuan yang sedang liburan ke Hawaii. Henry pun sebagai dokter hewan memiliki impian, yaitu melakukan perjalanan ke Alaska untuk meneliti singa laut. Ketika dalam pelayaran menguji kapalnya dengan berkeliling pulau Oahu untuk menguji apakah sudah siap dibawa berlayar jauh, tiba-tiba saja kapalnya mengalami kerusakan parah sehingga dia memutuskan untuk berdiam diri di sebuah cafe sekitar pulau Oahu. Di sanalah Henry bertemu dengan Lucy Whitmore, seorang penduduk setempat yang membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama. Namun, ternyata Lucy memiliki penyakit bernama Goldfield Syndrome. Dimana dia hanya bisa mengingat hari ketika dia mengalami kecelakaan dan tidak bisa menyimpan memori lebih dari satu hari. Mengetahui penyakit yang diderita oleh Lucy, Henry pun tidak putus asa. Setiap hari dia mendekati Lucy dengan cara apapun agar Lucy bisa kembali mengingatnya dan jatuh cinta kepadanya. Semua itu dilakukan Henry mulai dari 0.

50 First Dates, masih terasa bahwa ini adalah film khas Adam Sandler, tapi seperti yang dikatakan sebelumnya, film ini juga tidak melupakan genre romance yang dibawanya sehingga saat menontonnya, kita tidak sadar sudah terpengaruh dengan segala perjuangan Henry Roth untuk membuat Lucy Whitmore jatuh cinta kepadanya. Di film ini terlihat bahwa Henry Roth benar-benar tidak pernah “bermain” kembali dengan wanita lain setelah bertemu dengan Lucy Whitmore. Dalam film ini Adam Sandler memperlihatkan sisi romantisnya dengan baik, tapi tidak berlebihan dan masih diikuti dengan komedinya yang khas.

Peran Lucy Whitmore yang diperankan oleh Drew Barrymore sendiri dibawakan dengan sangat bagus. Dia benar-benar menjadi orang yang sama setiap harinya. Melakukan aktivitas yang sama hampir selama satu tahun dan tanpa dia sadari sendiri dia selalu berhadapan dengan Henry Roth setiap harinya. Dan juga menyadari bahwa Lucy harus menerima apa yang dialaminya dengan pasrah setiap kali dia mengetahuinya.

Film ini juga mengajarkan kita bagaimana pentingnya sebuah keluarga. Dimana ayah Lucy, Marlin Whitmore, dan adik Lucy, Doug Whitmore “mengorbankan” hari hari mereka untuk berusaha membuat setiap harinya sama seperti hari dimana Lucy mengalami sebuah kecelakaan. Dimana mereka mencoba menjaga Lucy dengan cara apapun agar dia tidak terluka dan selalu bahagia. Keduanya juga dibantu oleh pemilik cafe yang selalu didatangi Lucy setiap paginya.

Komedi yang dibawakan pun kebanyakan mengarah ke sifat seksualitas,tentu tidak semuanya. Komedinya pun terkadang ditempatkan dengan tepat sehingga ketika kita mendengarnya kita bisa tertawa. Apalagi dengan keberadaan karakter Ten Second Tom, walaupun hanya sebentar, tapi juga menimbulkan kesan orang-orang mudah mengingat karakter tersebut.

Namun, ada juga komedi yang menurut penulis tidak sesuai ditempatkannya dan malah membuat orang-orang terkesan “kagok” untuk bisa tertawa lepas. Apalagi terkadang melihat sifat teman-teman Henry. Teman Henry Ula, selalu membawa anak-anaknya dan selalu mengajarkan anak-anaknya dengan hal aneh dan mengarah ke seksualitas, membuat saya terkadang tidak bisa menikmati beberapa adegan yang ada. Juga teman Henry yang bernama Alexa. Ia selalu dipertanyakan identitas seksualnya dan selalu mengucapkan hal-hal yang berbau seksualitas. Komedi di film ini juga cenderung menjatuhkan seseorang, walaupun tidak terlalu parah.

Sejujurnya, ini adalah film komedi romantis favorit saya. Menurut saya film ini terasa berbeda. Saya sudah menonton film ini puluhan kali, entah kenapa film ini tidak pernah membuat saya bosan sekalipun. Saya menonton 50 First Dates awalnya ketika SMP yang diputar di salah satu stasiun tv swasta. Sewaktu saya menonton film itu pertama kali, saya hanya mengategorikan film itu sebagai film yang lucu. Maklum anak SMP jaman dulu masih polos dan tidak mengerti apa-apa soal cinta. Tapi seiring berjalannya waktu, ketika menonton film tersebut saya mulai menyadari bahwa film ini lebih dari sekedar kata “lucu”, tapi ada ketulusan di dalamnya.

Ketulusan ini datang dari keluarga, sahabat dan seseorang yang spesial. Di mana mereka tanpa pamrih membantu Lucy Whitmore untuk selalu mengingat kembali ingatannya dan hidup normal sebisa mungkin. Teman-teman Henry juga ikut membantu Henry untuk mendapatkan Lucy, dan yang lebih penting adalah bagaimana Henry dengan tulus berusaha membuat Lucy untuk menjalankan hidupnya seperti biasa, tidak melalui settingan belaka, dan juga membuat Lucy mencintainya lagi tanpa balasan apapun.

Film ini selalu saya ingat dan akhirnya saya selalu menontonnnya sampai selesai ketika ditayangkan di TV swasta Indonesia maupun TV kabel. Akhir kata, 50 First dates menurut saya adalah film yang layak ditonton ketika liburan jika ingin menonton film yang romantis, menghibur dan memiliki pesan yang bagus di dalamnya.  (Adinda Ayu Dewi Hermawati)