What We Do In The Shadows | 2014 | Durasi: 86 menit | Sutradara: Taika Waititi & Jemaine Clement | Produksi: Resnick Interactive Development, Unison Films, Defender Films, Funnt or Die, New Zealand Film Commission | Negara: Australia | Pemeran: Taika Waititi, Jemaine Clement, Rhys Darby, Jonathan Brugh, Cori Gonzalez-Macuer, Stu Rutherford

 

What We Do In The Shadows merupakan film bergenre horror dan komedi yang berasal dari New Zealand. Film yang pernah memenangkan nominasi dari New Zealand Film and TV Awards ini merupakan film yang bergaya Mockumentaries (komedi dokumentasi). What We Do In The Shadows mampu meraup keuntungan sebanyak $6.9 juta dengan budget yang sedikit, yakni $1.6 juta.

Menceritakan kehidupan tentang sekelompok Vampir dari Selandia Baru yang menetap di satu rumah (kota Wellington) bersama bernama Viago (Taika Waititi), Deacon (Jonathan Brugh), Vladislav (Jemaine Clement), dan Petyr (Ben Bransham). Kegiatan mereka setiap hari yaitu berjalan-jalan di malam hari untuk mendatangi Club, merajut, bermain musik, menari erotis dan masih banyak lagi. Suatu hari,  Deacon (Jonathan Brugh) menyuruh tangan kanannya, Jackie (Jackie Van Beek) agar bisa membawakan beberapa korban untuk disantap oleh mereka di rumahnya. Setelah Jackie membawa beberapa orang termasuk mantannya yaitu Nick (Cori Gonzales), mereka diarahkan ke tempat makan dan disambut dengan makanan Bisghetti agar sebelum mereka mati dapat dijahili terlebih dahulu. Nick yang mulai kesal dengan tingkah laku mereka akhirnya memutuskan untuk pulang duluan, namun dalam perjalanan menuju keluar pintu ia diteror oleh vampie-vampir ini dan berhasil kabur, tapi naas Petyr melahap dia dan membawanya ke ruang bawah tanah. Setelah 2 bulan kemudian Nick yang sudah berubah menjadi vampire datang dan meminta agar bergabung kedalam kelompok mereka. Begitu banyak konflik yang terjadi akibat ulah Nick sehingga hal yang sangat tak terduga pun terjadi.

Dari judul dan posternya saja film ini sudah bisa membuat calon penontonnya tertarik. Bagaimana tidak, orang pasti sudah mempunyai prediksi terhadapa film ini bahwa ini pasti film komedi. What We Do In The Shadows mampu menggambarkan kehidupan Vampir yang menyenangkan dengan bawaan mockumentary. Dalam filmnya pun terlihat tidak begitu banyak peran, hanya memfokuskan pada empat karakter utama  sehingga pendalaman masalah begitu ngena ketika kita sedang menontonnya. Ceritanya pun benar-benar interaktif. Dalam hal ini Taika Waititi dan Clement begitu pintar dalam menyuguhkan humor serta alur yang menarik sehingga film tidak terkesan monoton untuk dilihat. Adapun di sisi lain, penggunaan properti yang standar namun terlihat klasik membuat suasana terlihat pas untuk ditonton pada film ini.

Pendeskripsian karakter dari para pemeran utama dibuat unik sedemikian mungkin sehingga menjadi kelebihan dalam film ini. Mulai dari Vladislav (Jemaine Clement), Viago (Taika Waititi), Deacon (Jonathan Brugh) sangatlah unik. Masing-masing dari vampir ini mempunyai riwayatnya masing-masing, seperti Vladislav (berumur 862 tahun) dahulunya merupakan seorang yang dikenal sadis dan cabul (bahkan disitu disebutkan ia bisa melakukan pesta orgy dengan wanita sebanyak 30 orang), Viago yang dikenal bawel, centil, romantis dan selalu rapi (terlihat dari riwayatnya ia merupakan seorang bangsawanan di abad 18), dan Deacon dikenal seorang vampir muda yang mesum dan jahil (ia dahulunya merupakan seorang penjual barang-barang diabad 19 dan sempat pernah menjadi senjata rahasia Nazi yaitu vampir Nazi).

Kesederhanaan yang ada mampu dibuat menyenangkan oleh Taika Waititi dan Jemaine Clement. Mulai dari penokohan terhadap karatkter utama yang ada, Taika Waititi berhasil membuat itu menarik. Sosok yang unik dari masing-masing tokoh menimbulkan nuansa komedi yang pas dan mampu diterima baik oleh para penonton. Begitupun dengan ceritanya, disini sang sutradara mampu menyuguhkan komedi yang disatukan dengan fakta-fakta mengenai vampir yang dikenal seram, sadis, dan menyeramkan serta juga menujukkan alur yang konstan dan tidak berantakan. Dalam film ini disebutkan bahwa sekelompok dokumenter mendapatkan izin meliput mereka dan harus memakai kalung salib agar tidak menjadi makanan ketika dokumentasi sedang berlangsung. Tujuan dengan dibuatkannya dokumentasi pada film ini adalah agar mengetahui kegiatan para vampir-vampir ini sebelum menghadiri acara besar para monster yaitu “The Unholy Masquerade”.

Kesan mockumentary yang dibawakannya pun dalam film ini sangatlah baik, mulai dari sisi pengambilan kameranya yang terlihat halus serta esensi yang dibawakannya ketika sedang meliput terlihat nyata. Seakan-akan itu adalah dokumentasi yang real untuk diperlihatkan.

Begitu banyak film dengan tema Vampir yang menyajikan suasana yang itu-itu saja. Film vampire biasanya menyuguhkan kisah yang menyeramkan, sadis dan serius. Berbeda dengan What We Do In The Shadows, film ini malah menggambarkan keadaan sebaliknya dari film-film vampir atau horor yang ada. Ditambah pembawaannya yang bersifat dokumentasi menjadikan What We Do In The Shadows mampu menampilkan tayangan yang unik dan atraktif. Sungguh sangat-sangat disayangkan apabila para pencinta film (apalagi yang menyukai genre komedi) melewatkan film ini. (Muhammad Ryo Arbani)