A Girl Walks Home Alone at Night | 2014 | Durasi: 99 menit | Sutradara: Ana Lily Amirpour | Produksi: Vice Films, Spectrevision, Logan Pictures, Black Light District, Say Ahh Production | Negara: Amerika Serikat | Pemeran: Sheila Vand, Arash Marandi, Marshall Manesh, Mozhan Marnò, Dominic Rains, Rome Shadanloo

 

Menonton A Girl Walks Home Alone at Night rasanya seperti makan es krim banana split bersama belahan hati di tengah-tengah badai Samudra Pasifik, manis sekaligus mencekam. Film panjang pertama arahan sutradara keturunan Iran, Ana Lily Amirpour yang diadaptasi dari karya film pendeknya yang berjudul sama. Ana menghadirkan gagasan menarik yang tidak cuma mewarnai film-film bergenre drama horor, tapi membawanya lebih dalam melalui hubungan vampir dengan manusia.

Alkisah, Arash (Arash Marandi) seorang pria bergaya khas James Dean, tinggal bersama ayahnya Hossein yang seorang pecandu narkoba. Arash harus merasakan mobilnya diambil oleh bandar narkoba bernama Saeed ketika sang ayah tidak bisa membayar hutangnya. Arash mencari jalan keluar untuk mendapatkan mobilnya kembali, ia menemukan cara yaitu dengan mengambil perhiasan Shaydah, majikan tempat dimana ia bekerja. Arash lalu segera menuju rumah Saeed untuk dapat menebus mobilnya kembali.

Di malam yang sama, The Girl (Sheila Vand) berpakaian khas belang hitam-putih dan cadar berpapasan dengan Saeed di jalanan yang sepi. Saeed pun mengajak The Girl ke rumahnya, berniat untuk dapat bercumbu bersamanya. Ketika Saeed menjulurkan tali telunjuknya untuk dihisap The Girl, nahas jarinya malah digigit sampai putus.

Pertemuan Arash dengan The Girl ditandai manakala Arash sedang high akibat menelan pil ekstasi untuk pertama kalinya. Kisah mereka pun berlanjut tanpa sedikit pun terkuak misteri siapa sebenarnya The Girl di mata Arash. Arash hanya merasa nyaman berada di dekat The Girl tanpa harus mempertanyakan apakah The Girl adalah gadis baik-baik atau gadis kurang baik.

 

Cinta Tak Mengenal Rupa

Psikolog Zick Rubin menjelaskan bahwa cinta yang romantis terdiri dari tiga unsur, yakni: keterikatan (attachment), kepedulian (caring), dan keintiman (intimacy). Setidaknya tiga hal tersebut yang dimaksimalkan dalam pembentukan karakter The Girl dan Arash. Dapat kita lihat ketika Arash memberikan anting pada The Girl (attachment), The Girl membawa Arash ke rumahnya dengan skateboard (caring), dan ketika The Girl tidak jadi menggigit leher Arash ketika mereka sedang berada di kamarnya (intimacy).

Pada dasarnya cinta adalah mencari kesamaan (similarity) pada pasangan. Ketika ada hal yang sama maka komunikasi yang terjadi pun dua arah. The Girl dan Arash mungkin dapat dibilang berbeda karena rupa mereka, yang satu vampir dan satu lagi manusia biasa. Namun, kita bisa melihat persamaan pada awal pertemuan mereka ketika Arash dalam keadaaan high memakai kostum Drakula dan memulai pembicaraan dengan The Girl. “Aku Drakula. Jangan khawatir aku tidak akan menyakitimu.”

Karakter The Girl sebenarnya mewakili representasi cinta yang subtil tanpa pretensi. Melalui dirinya kita diajak untuk tidak sekadar jatuh cinta karena kecelakaan layaknya Twilight, tetapi bagaimana proses jatuh cinta yang sederhana. Terlihat dari bagaimana ia memimpikan siluet Arash yang berjalan di lorong selalu menjadi pertanda bahwa ia akan bertemu Arash setelah itu.

Kebutuhan akan cinta seakan-akan memang merupakan urgensi bagi setiap makhluk hidup, tidak terkecuali bagi vampir. The Girl yang memiliki kepentingan menghabisi orang-orang yang menurutnya “berdosa” di Kota Jahat sepertinya mengalami konflik kepentingan ketika berhadapan dengan Arash.

Menurut John Lee dalam bukunya The Colors of Love (1973) dapat diasumsikan cinta The Girl termasuk ke dalam golongan cinta tanpa pamrih (selfless love) yang merupakan perpaduan antara perasaan cinta kepada seseorang yang dianggap ideal (eros) dan cinta sebatas persahabatan (storge). Sedangkan Arash memasuki tahap cinta yang obsesif (obsessive love) yaitu cinta yang terdiri dari perasaan cinta kepada seseorang yang dianggap ideal (eros) dan cinta sebagai permainan (ludos). Kegiatan cinta-cintaan itu dapat kita lihat pada adegan The Girl dan Arash bercengkrama di samping mobil Arash ditemani asap pabrik kilang minyak. “Anting yang beruntung.”

Sebuah logika penuturan sederhana dari Ana Lily Amirpour tentang cinta beda makhluk dimana makhluk yang asing (The Girl) konsisten untuk selalu menutup dirinya, tidak ingin Arash mengetahui bahwa dirinya adalah vampir. Dengan cara seperti itu The Girl dapat selalu berada di dekat Arash. Siapa yang tidak kaget bila ternyata orang yang disukainya adalah makhluk penghisap darah?

Seperti kata para pujangga, mata berbicara lebih jujur dibanding bibir, begitu pun A Girl Walks Home Alone at Night yang selalu menghadirkan cinta hanya lewat tatapan. The Girl dan Arash lebih banyak menatap mata satu sama lain ketika bertemu dibandingkan harus berbicara. Sejak pertama mereka bertemu ketika The Girl berseluncur dengan skateboard, ketika mereka ditemani pantulan cahaya bola disko, sampai kuncinya pada adegan akhir film.

 

Hubungan Hero dan Heroin

Bila kita merujuk pada pertanyaan apa yang sebenarnya menjadi kunci dalam menjalankan cerita film A Girl Walks Home Alone at Night? Jawabannya bisa jadi adalah narkoba, terutama jenis heroin dalam kasus film ini. Kenapa Arash harus bekerja keras untuk ayahnya? Kenapa The Girl harus meneror orang-orang? Mungkin ini juga yang jadi alasan kenapa Arash dapat bertemu dengan The Girl.

Melalui rangkaian adegan dalam film ini terlihat memang The Girl menempatkan diri sebagai protagonis yang meneror orang-orang dengan perilaku yang buruk. Mungkin kita bisa setuju dengan apa yang dilakukannya karena memang sasarannya cukup pantas untuk mati. Termasuk dialog ketika The Girl menginterogasi anak kecil untuk berkata jujur apakah dia anak baik atau tidak. Dalam cerita film ini pun kota yang menjadi latar cerita dinamakan Kota Jahat, terbukti dengan banyak mayat yang berserakan di bawah jembatan dan tidak pernah ditunjukan adanya polisi dalam kota ini.

Para karakter memilki latar belakang yang bisa dibilang termasuk jahat. Tidak jauh-jauh semua karakter ini pasti memiliki keterikatan dengan narkoba. Maka posisi The Girl adalah sebagai penawar bagi kejahatan tersebut. Melalui karakter vampire, gagasan A Girl Walks Home Alone at Night tentang pahlawan sudah terwakili secara matang.

Apabila ditelusuri mengapa film ini menitikberatkan pada narkoba, khususnya jenis heroin bisa kita lihat kondisi negara Iran yang bisa jadi melatarbelakanginya. Tercatat dalam data resmi pemerintah Iran pada tahun 2012, pecandu narkoba Iran berjumlah antara 1.250.000 hingga 2.000.000 jiwa. Sedangkan data tidak resmi menunjukkan terdapat lebih dari 7 juta jiwa. Sebagian besar didominasi oleh laki-laki rentang usia 15 – 64 tahun dengan jenis narkoba heroin. Jumlah pecandu narkoba tertinggi di dunia.

A Girl Walks Home Alone at Night seperti menunjukkan berbagai permasalahan yang ditimbulkan oleh narkoba. Ketika pihak yang memiliki kewajiban menanganinya ternyata lemah, maka kemungkinan makhluk lain yang turun tangan. Sebaik-baiknya manusia ketika terlena oleh heroin tetap saja menjadi makhluk yang buruk, butuh hero seperti The Girl yang menyelamatkannya. (Razny Mahardhika)