London Has Fallen | 2016 | Durasi: 98 menit | Sutradara: Babak Nafaji | Produksi: Millennium Films,
Nu Image | Negara: Amerika Serikat | Pemeran: Gerard Butler, Aaron Ckhart, Morgan Freeman,
Robert Foster

 

Ketika Agent Mike Banning (Gerard Butler) akan menuliskan surat pengunduran dirinya agar bisa pensiun dan menemani istrinya yang sedang hamil, ia dipanggil oleh Presiden Benjamin Asher (Aaron Eckhart) agar menemaninya untuk pergi ke acara pemakaman Perdana Mentri Inggris, James Wilson yang sempat tewas secara misterius di London. Acara pemakaman ini akan dihadiri oleh 40 pemimpin negara dalam rangka pemakaman kenegaraan dan bela sungkawa.

Sesampainya mereka disana, teror besar-besaran yang dilatarbelakangi oleh Aamir Barkaawi (Alon Aboutboul) muncul di area London dan banyak menghabiskan nyawa penduduk sipil, termasuk beberapa pemimpin-pemimpin negara yang tewas disana. Niat Aamir Barkawi selain menebar teror di sana, ia juga mencari Presiden Amerika Serikat, Benjamin Asher, agar dapat membalaskan dendamnya akibat peristiwa serangan pesawat tanpa awak dari Amerika Serikat dua tahun silam yang menyebabkan putrinya yang sedang menikah tewas bersamaan dengan keluarganya. Atas hal inilah, upaya Aamir Barkaawi ingin agar Presiden Amerika dibunuh olehnya dan disebar luaskan keseluruh dunia lewat internet.

Film ini sangat direkomendasikan bagi kamu yang menyukai film action yang penuh dengan ledakan-ledakan besar. Hal yang unik menurut saya dalam film London Has Fallen terdapat pada salah satu scene dalam film ini, yakni saat teroris melakukan strategi pintarnya untuk membunuh para pemimpin Negara yang dilakukan dengan meledakkan landmark-landmark di London seperti Big Ben, Trafalgar Square, Westminster Place dan Chelsea Bridge.

Hampir sama seperti sakuelnya, yakni Olympus Has Fallen, London Has Fallen menyajikan sajian action yang sangat kental rasa nasionalisnya terhadap Amerika Serikat. Namun yang membedakan di sini adalah latarnya: Olympus Has Fallen berada di Gedung Putih sedangkan London has Fallen berada di London. London Has Fallen ini terkesan lebih buruk ketimbang Olympus Has Fallen dalam menampilkan adegan-adegan yang sudah seharusnya film action memberikan rasa ketegangan yang menyenangkan. Sungguh disayangkan, padahal dalam film pertamanya, yakni Olympus Has Fallen mampu menjadi salah satu film terbaik serta mendapatkan keuntungan yang cukup besar dari budget $70 juta menjadi $161 juta.

Pembawaan ceritanya pun hampir sama dari film sebelumnya, yakni seorang bodyguard yang berusaha menyelamatkan atasannya dari serangan teror. Di film Olympus Has Fallen, Agent Mike Banning menerobos Gedung Putih untuk menyelamatkan Presiden Benjamin Asher dari teroris Korea. Begitupun London Has Fallen, Agent Mike Banning berusaha menerobos markas musuh untuk menyelamatkan lagi Presiden Benjamin Asher dari anak buah Aamir Barkawi. Menurut saya, sutradara film ini—Babak Nafaji, terlalu mengacu kepada cerita sebelumnya sehingga film terkesan monoton dan terlalu melebihkan dari segi efek ledakan atau semacamnya. Bahkan apabila penonton pernah menonton Olympus Has Fallen dan membaca sinopsis London Has Fallen, maka penonton akan langsung mengetahui bagaimana alur cerita pada film ini.

Dibandingkan dengan London Has Fallen, Olympus Has Fallen hadir dengan lebih mencekam dan menegangkan. Mungkin karena area lingkungannya yang sempit, film Olympus Has Fallen yang hanya berada di kawasan Gedung putih sehingga menjadikan suatu kelebihan dalam film ini. Berbeda dengan London Has Fallen yang  banyak menggunakan latar dengan hiasan efek bombastisnya yang luar biasa namun berkahir “flat” karena pembawaan ceritanya yang kurang menimbulkan efek menegangkan dan mudah ditebak.

Karakter dalam tokohnya pun terasa datar dalam pembawaannya, sebut saja Mike Banning ketika berdialog dan dilanda beberapa konflik yang seharusnya timbul emosi yang besar, ia tidak begitu terlihat seperti yang seharusnya. Begitu pula dengan aktor yang lainnya, ketika suasana dalam cerita sedang terancam, ekspresi mereka yang terlibat terlihat tenang-tenang saja. Merupakan suatu masalah ketika pendalaman karakter dalam film kurang bisa terlihat.

Adapun kesalahan yang cukup fatal menurut saya yang terdapat pada awal film. Terlihat bendera Indonesia yang berkibar di sebuah hotel yang roboh akibat ledakan dari para teroris pada dialog narasi di awal film yang menyebutkan “Pihak berwenang Filipina saat ini menyatakan korban yang tewas akibat pemboman di hotel…”. Konflik pada film ini memang ada kaitannya dengan Filipina karena diceritakan bahwa Aamir Barkawi sempat menyuplai dan menjual senjata gelap kepada teroris di sana. Lalu apa kaitannya dengan bendera Indonesia? Apakah disini sutradara tidak mengetahui bendera Filipina? Atau ini merupakan suatu kesalahan yang tidak disengaja? Cukup disayangkan film sekelas Holywood mendapati kesalahan seperti ini.

London Has Fallen memang menggiurkan dengan efek ledakan, kebrutalan pemeran utama serta adegan tembak-tembakannya, akan tetapi dalam sisi cerita cukup disayangkan karena tidak se-greget sakuel pertamanya, yakni Olympus Has Fallen. Tapi disisi lain penggunaan latarnya yang lebih banyak menjadikan suatu kelebihan dalam film ini, walaupun dikemas dengan cerita yang biasa saja akan tetapi penghancuran landmark-landmark di London cukup fantastis membuat penonton tercengang. (Muhammad Ryo Arbani)