In The Mood For Love | 2000 | Durasi: 98 menit | Sutradara: Wong Kar Wai | Produksi: Universal | Negara: Hong Kong | Pemeran: Tony Leung & Maggie Cheung

Apa yang menyebabkan perselingkuhan? Apa yang akan Anda lakukan jika mengetahui pasangan Anda berselingkuh? Mungkin beberapa orang akan menangis dalam kepahitan dan juga menyesali nasib, tapi ada sisi lain dari sebuah cerita tentang korban perselingkuhan yang berusaha disajikan dalam film In The Mood for Love.

In The Mood For Love menyajikan sebuah cerita romansa tentang Mr. Chow dan Mrs. Chan, tetangga yang kehidupan pernikahannya masing-masing terasa sepi. Suatu hari, mereka mengetahui bahwa pasangan mereka telah menjalani hubungan gelap. Mereka yang memiliki kesamaan nasib pun menjadi dekat. Mereka berdua berjanji kalau mereka tidak akan menjadi seperti pasangan mereka dan saling jatuh cinta.

Tapi mereka kemudian menjadi sering bertemu dan menghabiskan waktu bersama. Bahkan Mr. Chow dan Mrs. Chan menemukan sebuah minat terpendam dalam diri mereka lewat hubungan tersebut yaitu menulis cerita seri silat. Hubungan mereka mulai renggang ketika Mrs. Chan diberi ceramah oleh pemilik kontrakannya karena terlalu sering melihat dirinya pulang larut malam setelah bertemu dengan Mr. Chow.

Pada akhirnya Mrs. Chan merasa bahwa mereka harus berhenti bertemu. Mr. Chow kemudian menyatakan perasaannya pada Mrs. Chan, Mr. Chow mengatakan bahwa ternyata ia tidak bisa tidak seperti istrinya dan Mr. Chan, Mr. Chow jatuh cinta pada Mrs. Chan.

Mengambil setting di Hong Kong pada tahun 60an, In The Mood for Love adalah sebuah romansa yang menurut saya tidaklah berlebihan. Semua dibuat secara pas dan tidak memaksa seperti beberapa film romansa yang kadang terkesan “memaksa” penontonnya untuk meneteskan air mata. Hubungan yang dibangun antara Mr. Chow dan Mrs. Chan juga dibangun secara perlahan dan tidak terburu-buru, membuatnya terkesan nyata dan tidak mengada-ngada.

Film ini juga menceritakan tentang bagaimana Mrs. Chan yang adalah seorang sekretaris untuk Mr. Ho,  membantu Mr. Ho mengatur jadwal antara istri dan simpanan Mr. Ho. Ini menarik, karena Mrs. Chan sendiri pun akhirnya diam-diam bertemu dengan Mr. Chow.

Cerita baru mulai intens pada saat beberapa puluh menit terakhir, walaupun terkesan cukup lama untuk mencapai puncak film ini, tapi tidak ada yang membuat bosan, aksi reaksi yang dilakukan Mr. Chow dan Mrs. Chan justru membuat saya ingin terus menontonnya sampai akhir dan melihat akhir hubungan mereka.

Lewat film ini, sang sutradara, Wong Kar Wai ingin menyampaikan pendapatnya tentang cinta, pernikahan dan perselingkuhan. Pendapat itu disampaikan lewat dialog-dialog kuat yang diperankan oleh karakter dalam film ini. Contohnya saja pada dialog Mrs. Chan tentang bagaimana sebuah pernikahan mengubah kehidupan mereka menjadi lebih kompleks dan harus bertanggung jawab pada banyak hal dan bukan hanya diri sendiri, dan kalimat Mr.Chow yang mengatakan bahwa dalam pernikahan, kita harus merelakan hobi-hobi yang dulu sering kita lakukan.

Wong Kar Wai juga sepertinya hanya ingin penonton fokus pada dua karakter utama ini saja dengan cara tidak menunjukkan sosok Mrs. Chow dan Mr. Chan, dan banyak setting di dalam ruangan. Ia juga mampu menunjukkan sebuah chemistry yang kuat tanpa perlu memperlihatkan adegan-adegan vulgar, bahkan hanya sekedar ciuman pun tidak ada. Inilah yang juga menjadi kekuatan dari film ini. Penggunaan slow motion pada beberapa adegan dengan dipadukan dengan musik klasik pun tidak membuat film ini menjadi klise.

Pengambilan gambar film ini sangat cantik. Pergerakan kamera, komposisi gambar, pewarnaannya, perpaduan yang ‘enak dilihat’. Salah satu yang menarik adalah bagaimana film ini sering sekali mengambil gambar pemain lewat cermin bukan hanya sekedar ingin menunjukkan kemampuan kamera, tapi juga memang ada yang ingin ditampilkan lewat cermin tersebut, yaitu ekspresi para karakter pada momen-momen tertentu.

Penataan suaranya juga harus saya berikan dua jempol. Benar-benar sebuah pengalaman telinga yang menyenangkan. Sang sutradara memanfaatkan moment of silence dan menempatkan scoring di tempat yang tepat. Ambience, room tone, dan suara karakternya juga sangat jernih, hal ini membuat saya benar-benar merasakan momennya. Scoring musik dengan musik klasik pun terasa pas dengan mood dari film ini.

Kekurangan dari film ini menurut saya adalah pemotongan-pemotongan adegannya membuat penonton agak sulit mengerti jalan ceritanya, beberapa kali saya harus mengulang adegan tertentu agar mengerti ceritanya, dan ini memang sedikit menganggu. Kemudian alur film yang lambat pun bisa juga menjadi kelemahan dalam film ini karena tidak semua orang menyukai alur film yang lambat dan bisa menciptakan kesan membosankan.

Secara keseluruhan menurut saya film ini adalah film yang layak ditonton jika anda penyuka film dengan genre romansa yang tidak terlalu cengeng atau bahkan jika anda bukan penyuka film romansa sama sekali. Sineas Indonesia yang ingin membuat sebuah film romansa mungkin harus berkaca pada Wong Kar Wai dan bagaimana dia membuat film In The Mood For Love. Sebuah film romansa yang tidak memaksa penonton untuk berurai air mata, tapi turut mengalami dan hanyut dalam momen-momen romansa itu sendiri bersama dengan karakter-karakter yang diciptakan, memanfaatkan setiap momen untuk memberikan rasa bagi para penontonnya. (Getzolwin Jurdhy)