Sherlock Holmes: A Game of Shadow | 2011 | Durasi: 2 Jam 8 Menit | Sutradara: Guy Ritchie | Produksi: Village Roadshow Pictures, Silver Pictures, Wigram Productions | Negara: Inggris | Pemeran: Robert Downey Jr. , Jude Law, Noomi Rapace, Jared Harris

Here we go, film kedua dari seri Sherlock Holmes besutan sutradara Guy Ritchie. Jujur saja, saya dulu selalu setengah-setengah nonton film ini di salah satu channel TV kabel dan (sayangnya) nggak pernah selesai menontonnya. Untungnya pada kesempatan ini saya bisa menikmati film ini dengan full—sampai selesai.

Berlanjut ke petualangan terbaru Sherlock Holmes dengan sahabat sejatinya dokter, Watson yang akan melepas masa lajangnya, tetapi akhirnya terpaksa mengikuti petualangannya Sherlock memecahkan berbagai kasus di Eropa yang Sherlock yakini hanya satu orang dalangnya yaitu musuh bebuyutan dan kecerdasannya setara dengan Sherlock Holmes, Profesor James Moriarty. Sherlock dan Watson bersama kakak Sherlock, Mycroft berhasil menyelamatkan seorang saksi tentang kasus yang melibatkan profesor Moriarty tersebut. Dan ternyata setelah itu Sherlock dan Watson mengetahui ternyata Moriarty juga memiliki rencana lain untuk menghancurkan para petinggi negara Eropa. Sherlock dan Watson pun berusaha untuk menghentikannya.

Drama, Thriller or Action Movie?

Itulah yang sempat terasa di kepala saya ketika melihat film ini. Memang di film ini masih terlihat cara analisis Sherlock yang sangat terkenal, di mana dia bisa menebak hal-hal yang ada dalam diri seseorang hanya dengan melihat orang tersebut selama beberapa detik. Tapi di dalam film ini saya merasa adegan action terasa lebih kental. Sherlock Holmes di sini diperlihatkan bahwa dia adalah tipe petarung yang bisa mengalahkan musuhnya dengan lihai dan pandai menggunakan senjata. Dan juga Sherlock Holmes diperankan seakan-akan ia bisa kebal dari segala pukulan dan racun. Walaupun diperlihatkan juga bahwa pukulan-pukulan yang dilakukan Sherlock Holmes tersebut sebenarnya sudah melalui perhitungan yang dia lakukan sebelum melakukannya dan tepat sasaran.Tapi tetap saja, melihatnya saya malah menjadi berpikir seperti melihat Daniel Craig dalam film James Bond. Yang membuat saya tercengang adalah level penyamaran seorang Sherlock Holmes yang sangat lihai. Bahkan sampai Profesor Moriarty tidak menyadari bahwa sudah beberapa kali dia diikuti oleh Sherlock dan penyamarannya-lah yang menjadi kunci untuk membongkar kejahatan dari Profesor Moriarty.

Walaupun begitu, adegan action dalam film ini masih bisa diterima, malah sangat menarik. Selain karena di setiap adegan action selalu ada penjelasan  yang dilakukan Sherlock dengan gaya slow motion dan penuh perhitungan.

Good Acting

Yang saya bahas disini adalah acting dua tokoh utama dan tokoh antagonisnya. Yaitu Sherlock , dokter Watson, dan sang Profesor Jame Moriarty. Selain banyaknya adegan action di dalam film ini, menurut saya acting yang dibawakan oleh Robert Downey sebagai Sherlock sudah baik. Karakter yang diperankan sesuai dengan Sherlock yang berada di dalam novel, di mana Sherlock adalah orang yang mempunyai sifat nyeleneh, sosiopath, suka menghirup ganja dan pandai bermain biola. Begitupun dengan karakter dokter Watson yang diperankan oleh Jude Law juga diperankan dengan baik. Watson yang sangat loyal terhadap sahabatnya Sherlock, Watson yang terkadang lebih bisa mengendalikan sikap Sherlock, Watson yang terkadang selalu tidak menebak apa yang ingin dilakukan Sherlock tetapi selalu penasaran dengan petualangan apa yang akan didapatnya ketika bersama dengan Sherlock, adalah Watson yang saya liat di dalam film ini, bisa dibilang menurut saya sesuai dengan karakter yang ada di dalam novel.

Dan untuk sang karakter antagonis,  Jared Harris  dalam memerankan Moriarty menurut saya perannya sudah cukup baik. Pertama melihat wajah sang profesor awalnya saya sedikit ragu apakah dia benar-benar profesor yang jahat, dan juga awalan adegan masih memperlihatkan sikap Moriarty dengan sikap bicara yang tenang tetapi penuh ancaman dan belum menunjukan aksinya yang terlihat “gila”. Tapi setelah melihat adegan Sherlock dan Moriarty dalam pabrik tua, saya mulai yakin bahwa Jared Harris memerankannya dengan cukup baik. Saya menyukai ekspersinya ketika dia mulai bernyanyi dan menari-nari sambil menyiksa Sherlock. Di sana saya baru mempercayai bahwa dia adalah profesor Moriarty yang gila.

 

Dan sebagai partner sekaligus sahabat dekat, chemistry antara Jude Law dan Robert Dawney sudah bagus untuk dilakukan. Mungkin ini pendapat saya sebagai perempuan bahwa mereka berdua terlihat seperti bromance. Tapi bukan dalam artian yang buruk, bromance yang diperlihatkan di dalam film ini membuktikan bahwa mereka bukan sekedar partner tapi juga sahabat. Walaupun Watson suka sekali mengeluh tentang apa yang selalu dilakukan oleh Sherlock, tetapi dia tetap mengikutinya dengan setia. Dan juga Sherlock walaupun selalu melakukan tindakan yang bisa dianggap gila, tapi dia tetap memikirkan temannya begitu juga keselamatan istri Watson.

Saya suka dengan ending film ini, di mana Sherlock jatuh bersama Moriarty ke terjun Reichenbach, Swiss dan dinyatakan “tewas” sejak saat itu. Tapi sebenarnya adegan ini menurut saya menandakan bahwa Sherlock Holmes akan “hidup” kembali dan memulai petualangan terbarunya, sesuai dengan apa yang ada dalam novelnya.

Well, akhir kata apakah film ini bagus atau tidak bagi saya yang hanya menikmati filmnya dan belum membaca novelnya? Menurut saya pribadi, cukup bagus untuk ditonton di saat kita berlibur dan juga cukup menjajikan. Walaupun masih ada beberapa faktor yang saya pribadi tidak terlalu menyukainya. Seperti adegan yang menurut saya masih terlalu banyak action dibandingkan memperlihatkan pemecahan kasus Sherlock yang banyak menggunakan analisis berpikirnya yang hebat. Dan saya harap saya masih bisa melihat petualangan Sherlock yang selanjutnya. (Adinda Ayu Dewi)