Surat Dari Praha2016 | Durasi: 94 Menit | Produser: Angga Dwimas Sasongko, Anggia Kharisma, Handoko Hendroyono, Chicco Jericho | Sutradara: Angga Dwimas Sasongko | Penulis: M. Irfan Ramli | Produksi: Visinema Picture | Negara: Indonesia | Pemain: Julie Estelle, Tio Pakusadewo, Widyawati, Rio Dewanto

Angga Dwimas Sasongko kini kembali dengan karyanya yang bertema ‘berat’. Penonton disuguhkan dengan cerita cinta seorang yang merupakan bagian dari sejarah pergolakan politik Indonesia tahun 60-an yang diasingkan dan hilang kewaganegaraan karena menjadi seorang idealis. Larasati (Julie Estelle) yang hendak memenuhi wasiat ibunya, Sulastri (Widyawati), terpaksa berangkat ke Praha demi menemui Pak Jaya (Tio Pakusadewo) hanya untuk meminta tanda tangannya. Pak Jaya yang merupakan seorang Exile Orde Baru, terpaksa tinggal di Praha akibat kehilangan kewarganegaraannya berpuluh-puluh tahun silam. Hal tersebut membuat Pak Jaya harus rela meninggalkan semua yang dicintainya di Tanah Air termasuk kekasihnya Sulastri (Widyawati) yang merupakan ibu dari Larasati. Perjuangan Larasati untuk mendapatkan tanda tangan Pak Jaya ternyata tidaklah mudah disebabkan masa lalu Pak Jaya dengan Ibunya yang rumit. Larasati tetap teguh pendirian untuk memaksa Pak Jaya menandatangani surat wasiat ibunya tersebut. Namun, lain halnya dengan Pak Jaya yang justru sebaliknya, menolak mentah-mentah permintaan Larasati. Menurutnya, Ia sudah tidak mau berhubungan dengan keluarga Sulastri lagi.

Alur yang berkombinasi dengan musik khas Glenn Fredly sangat nyata menghipnotis penonton merasakan kesepian dan kesunyian masing-masing tokoh. Setting latar yang mamanjakan mata, yaitu kota kecil Praha, mendominasi keindahan visual pada film Sasongko kali ini. Color grading yang hangat juga mendukung suasana romantis yang tersirat dalam kisah perjalanan masa lalu Pak Jaya dengan Sulastri. Meskipun tidak ditampilkan secara alur, namun, penonton akan dapat merasakannya. Konflik yang rumit dan tidak biasa dalam cerita romansa anak remaja berhasil disajikan dengan sederhana dan sangat menyentuh. Meskipun pada awalnya tentu kita akan diajak untuk sedikit berpikir dalam memahami konfliknya. Pasalnya, sangat jarang terdapat film bertema romansa yang berkonflik sejarah-politik dalam industri perfilman Indonesia. Dengan tema tersebut tentu tersirat unsur edukasi yang ingin Angga sampaikan kepada khalayak dibanding dengan film romansa yang berkonotasi negatif dan tidak mendidik untuk kalangan remaja. Juga ditunjang oleh akting aktor dan aktris kelas atas seperti Tio Pakusadewo, Julie Estelle, Widyawati, Chicco Jerikho, dan Rio Dewanto, yang tentunya tidak main-main dalam keseriusan film ini, sungguh sangat layak ditonton para remaja Indonesia masa kini. Kembali lagi pada segi cerita, pada awalnya sangat terdapat jarak yang signifikan antara Larasati dengan Pak Jaya, lambat laun terkikis oleh perubahan-perubahan sikap keduanya, membuat penonton merasa sangat menikmati alurnya. Banyak terdapat adegan-adengan sederhana dan hangat yang ditampilkan Larasati dengan Pak Jaya, yang akhirnya mentransisi suasana sepi sebelumnya yang kental menjadi hangat. Lokasi syuting yang tidak main-main indahnya juga menambah nilai worth film ini. soundtracknya yang khas dan muram mendukung tersampaikannya visual kesepian yang dirasakan penonton. Mereka yang cengeng pun tidak tahan untuk meneteskan air mata. Namun, bukan itu tujuan dari pesan film ini. Film ini jelas menyampaikan pesan tentang kesetiaan pada negara dan juga pada belahan jiwa yang sayangnya keduanya adalah jurang antara satu dengan yang lain. Namun, sangat disayangkan oleh promosi film ini yang tidak ‘se-heboh’ film lainnya. Hingga menyebabkan penontonnya pun tidak banyak dan sangat susah menemukan film ini disebabkan sudah banyak bioskop yang mencabut film ini dengan sangat cepat. Film ini dirilis tanggal 28 Januari 2016 dan seminggu setelahnya yaitu tanggal 5 Februari 2016 hanya satu dari sekian bioskop di kota Bekasi yang masih menayangkan film ini. Jumlah penontonnya pun dapat dihitung jari. Saya menanyakan, apa yang terjadi pada selera konsumsi film masyarakat Indonesia? Film sekelas Best Movie Usmar Ismail Award sampai sangat sepi pengunjung. Lalu dalam film ini juga terdapat banyak adegan non-dialog yang durasinya lumayan lama. Sehingga, penonton yang awalnya menikmatinya justru merasa bosan karena durasinya yang lumayan lama. Dari segi cerita, sangat disayangkan tidak ditampilkan alur mundur dari kisah cinta Pak Jaya dengan Sulastri di masa lalu. Meskipun sedikit, tentu akan menambah suasana romansa dalam film karena film ini berlatar belakang kisah masa lalu mereka. Namun, untuk seluruhnya, film ini wajib ditonton oleh generasi penerus Indonesia agar tahu kelamnya masa lalu politik kita.

Salah satu dialog Pak Jaya yang sangat menyentuh dari film ini: “Sebelum berangkat ke Praha, saya berjanji pada ibumu dua hal. Bahwa saya akan pulang secepatnya untuk menikahinya. Bahwa saya akan mencintainya seumur hidup saya. Takdir (dan Tuhan) hanya mengizinkan saya untuk menepati janji yang kedua.” (Tazkia Qalbi Hafifi)

Rate 4.5/5

 

Referensi:

http://lifestyle.bisnis.com/read/20160207/254/516961/surat-dari-praha-mematangkan-riset-dan-skenario

https://id.wikipedia.org/wiki/Surat_dari_Praha

https://en.wikipedia.org/wiki/Angga_Dwimas_Sas

https://movie.co.id/surat-dari-praha/

https://m.tempo.co/read/news/2016/04/03/111759387/daftar-pemenang-usmar-ismail-awards-2016