Aach… Aku Jatuh Cinta!Durasi: 81 menit | Sutradara: Garin Nugroho | Pemain: Pevita Pearce, Chicco Jerikho, Nova Eliza, Annisa Hertami

“Aach… Aku Jatuh Cinta!” (AAJC) merupakan sebuah film drama komedi romantis garapan Garin Nugroho. Bisa dibilang film yang sempat ditunda jadwal rilisnya ini merupakan comeback nya Garin setelah 25 tahun gak menggarap film dengan genre sejenis.

Gw bukan tipe orang yang menilai film dari posternya. Tapi percayalah, andaikata nama Garin Nugroho gak dicantumin di posternya mungkin gw bakal mikir dua kali buat nonton film ini. Karena posternya ‘senorak’ itu yang bikin lo ngira ini adalah FTV menye-menye berdurasi 81 menit.

Dan pas lo nonton filmnya, lo makin sadar. Kalo gak cuma posternya aja yang cheesy, tapi hampir keseluruhan aspek dalam film ini. Tapi kemudian lo juga sadar bahwa it’s all purposely intended. The cheesiness in this film sesungguhnya udah di rencanain tapi hasilnya smooth banget! Gak terlihat maksa sama sekali. Dan malah ‘kenorakan’ nya ini yang bikin film ini membekas di relung hati terdalam.

AAJC menceritakan Yulia (Pevita Pearce) seorang gadis manja dan pemalu dan Rumi (Chicco Jerikho), tetangganya Yulia yang demen sama Yulia. Titik permasalahannya ialah Rumi gak pernah mengungkapkan perasaannya secara gamblang dan Yulia nya sendiri, well bertindak seperti kebanyakan gadis di tahun 70an yang malu-malu mau tapi hanya bisa pasrah menunggu.

Mengambil setting waktu tahun 70-an hingga 90-an, alur ceritanya maju mundur cantik dengan Yulia sebagai narator yang sedang membacakan diarinya dengan tutur kata yang puitis hingga bikin merinding. Gak pernah ada yang menyangka kalimat-kalimat seperti “Ah, kerinduanku membuatku merasakan kehadirannya…” atau “Bukankah kamu yang bilang, cinta itu tidak mudah, selalu penuh kekacauan…” terlontar dari mulut seorang Pevita Pearce.

Dari segi cerita menurut gw konflik di AAJC at some points kebanyakan, karena nyeritain permasalahan keluarga Yulia dan keluarga Rumi which is kedua keluarga itu sama aja kacaunya ditambah lagi kondisi politik negara yang lagi carut marut di era itu. Tapi karena semua kekacauan itulah, gw jadi simpati sama Yulia dan Rumi. Gapapa deh yang lain kacau, tapi plis jangan hubungan mereka. Sekacau itu sampai lo gak tega kalo mereka gak berakhir sebagai sepasang kekasih.

Chemistry antara Chicco Jerikho dan Pevita Pearce emang gak sekece doi sama Tara Basro di A Copy of My Mind. Meskipun enggak parah-parah amat, tapi tetep aja itu amat gw sayangkan, kenapa harus Pevita Pearce? Well, mungkin kalau mengatasnamakan ‘kepentingan komersil’ doi emang pilihan yang lumayan. Tapi yaampun, lo bakal seannoyed itu ngeliat Pevita teriak-teriak manggil Rumi sepanjang film. Sedangkan Chicco Jerikho berhasil bikin gw senyum-senyum gemas. Gw suka banget karakter Rumi di film ini, sampai di titik gw gak peduli darimana datangnya animasi bunga-bunga yang gak logis itu pas Rumi lagi ngomong ke Yulia, and still dengan kalimat-kalimat yang super puitis yang bikin gemas.

Sound dan visual di AAJC juga bisa banget bikin gw betah nonton. Musiknya membangkitkan perasaan nostalgik. Didukung kameranya Batara Goempar yang juga asik banget. Setting waktunya dari tahun 70-an hingga 90-an, dan seperti yang dikatakan oleh para pemainnnya tiap lima menit sekali bahwa jaman udah berubah, tren pakaian pun ikutan berubah. Jadi bisa dilihat perbedaan pakaian para pemainnya terus berganti mengikuti tren pada masa itu, buat gw itu seru banget buat diperhatiin. Overall, gw yang menduga film ini bakalan seperti FTV menye-menye pada akhirnya amat menikmati film ini!

Dan oh, beberapa bulan setelah AAJC rilis, Prenjak nya Wregas Bhanutedja tembus Cannes. And trust me, rasanya pengen ngomong di depan mukanya Garin, “Rin, kalo aja lo ngecut scene di AAJC (well, di Daun di Atas Bantal juga ada sih) trus dielaborate jadi film pendek mungkin (ya, mungkin) lo yang ke Cannes!” (Bulan Horo)