Aach… Aku Jatuh Cinta | 2016 | Durasi: 1 Jam 29 Menit | Sutradara: Garin Nugroho| Produksi: Multivision Plus | Negara: Indonesia | Pemeran: Pevita Pearce, Chicco Jerikho, Nova Eliza, Annisa Hertami

Dandanan menor, irama lagu retro, berbagi pesan dalam botol limun. Semua itu mungkin lekat di negara-negara barat seperti  Inggris. Kental dengan kisah romansa  ala Romeo dan Julliet film Aach… Aku Jatuh Cinta (AAJC) yang disutradarai Garin Nugroho Sugiyanto atau yang lebih dikenal dengan Garin Nugroho  berhasil mendapatkan tanggapan positif dari para kritikus di Busan International Film Festival (BIFF). Selain itu, visual artistik dan situasi latar cerita yang terus berkembang dari tahun 1970 sampai 1990 dapat membawa dan menjaga emosi penonton untuk terus menatap layar.

Yulia adalah seorang gadis yang perasaan cintanya selalu diaduk oleh seorang pria yang bernama Rumi. Dari perasaan itulah ia menceritakan kisahnya dalam sebuah buku harian dengan kata bernada mellow dan berhias puisi. Bertetangga dan bersahabat sedari kecil, mereka ditakdirkan hidup bersama dengan hubungan benci tapi rindu. Tertimpa permasalahan keluarga, keduanya terkoneksi  secara emosional dan terbiasa dengan situasi konflik.

Adegan pembuka dalam film membuat dahi penonton mengerinyit melihat tingkah usil Rumi. Rumi yang saat itu masih berusia kanak-kanak berbuat usil pada kawanan Joko yang dianggap sombong dengan menaruh sisa-sisa kotoran bekas orang buang hajat di tepi pegangan jembatan. Nasib sial, kotoran itu mengenai ayah Yulia. Alhasil, Rumi kena hukuman dari ayahnya dengan mencium kotoran sampai maghrib sambil berdiri. Tak sampai situ saja, keisengan Rumi pun berlanjut. Rumi kecil yang penasaran dengan selangkangan wanita membeli sebatang korek api. Dengan korek api tersebut Rumi bisa melihat selangkangan wanita dikolong meja. Tak sampai habis korek api itu terbakar, Yulia memarahinya dan mengajaknya pulang. Setibanya dirumah tetiba lampu redup. Yulia histeris karena takut akan  gelap. Memanfaatkan keadaan, Rumi menyalakan korek api dalam kegelapan dan memuji kecantikan Yulia. Lalu, korek api dimatikan. Rumi menegaskan jika dalam situasi gelap wajah Yulia lebih mirip dengan kuntilanak hantu legenda rakyat Indonesia.

Rumi remaja yang diperankan oleh aktor Chicco Jerikho tampil natural. Aktor yang pernah meraih penghargaan pemeran pria terbaik dalam Festival Film Indonesia 2014 (FFI) itu menunjukan bakatnya sebagai laki-laki puitis nan bandel. Pendalaman karakter yang kuat menjadikanya tokoh yang gemar menggali emosi dari perpisahan dan trauma. Tingkah konyol Rumi semakin keterlaluan.  Ketika sedang berlatih judo kala duduk di bangku SMA Rumi menarik beha merah Yulia dan dipamerkan ke khalayak ramai sehingga Yulia tak kuat menahan malu, ajaibnya Yulia tak bisa membenci Rumi. Sering terkena sifat jahil Rumi ibu Yulia selalu menasihati agar tidak mendekatinya dengan alasan akan membawa dampak buruk bagi Yulia.

Kisah romansa mereka terkesan penuh kekacauan. Rumi yang terkena musibah karena usaha ayahnya yang bangkrut terpaksa harus pergi meninggalkan rumah. Rumi menghilang dari pandangan Yulia. Ia tak tahu mengapa Rumi tidak menemuinya. Setiap hari ia terus mencari kehadiran sang idaman hati, hanya surat yang disimpan dalam botol limun dari Rumi lah satu-satunya informasi yang ia dapat. Tapi jodoh memang tidak kemana. Beranjak kuliah mereka dipesatukan kembali dalam pementasan teater. Sifat Rumi terbilang aneh karena ia tidak berani mengutarakan cinta secara langsung bahkan cenderung melakukan hal-hal yang salah sehingga berujung pada pertikaian. Karakter tersebut timbul akibat trauma terhadap keluarganya yang penuh pertikaian. Sehingga, membentuk Rumi tumbuh sebagai laki-laki yang tertutup dan sensitif.

Sempat terhalang oleh pernikahan. Yulia yang saat itu sudah siap menikah dengan pria jawa dikagetkan dengan kado pertunangan dari Rumi yang berisikan beha merahnya yang selama itu tersimpan baik. Padahal, pikiran akan Rumi sempat terlepas dari benaknya karena Rumi  ingin menikah dengan orang lain. Sosok Yulia mengungkapkan bahwa perasaan cinta tidak bisa dijelaskan asal-usulnya. Seperti lirik yang diciptakan oleh  Ismail Marzuki yang sekaligus menjadi soundtrack dari film tersebut. Dari mana datangnya asmara akupun tak mengetahui cara bagaimana dia dapat mengikat hati(Peter Lamandau)