Sabtu Bersama BapakDurasi: 90 menit | Genre: Drama | Sutradara: Monty Tiwa | Penulis Skenario: Adhitya Mulya | Pemain: Abimana Aryasatya, Deva Mahendra, Ira Wibowo, Acha Septriasa

Sudah banyak film, terutama film Indonesia, yang menggambarkan relasi anak-ibu dengan segala ‘mother issue’-nya. Ambil contoh Emak Ingin Naik Haji dan Mata Tertutup, keduanya kental sekali dengan hubungan dengan seorang sosok ibu, pentingnya dan sebagaimana besarnya pengorbanan seorang ibu, dan segala kompleksitasnya. Pernahkah Anda menyadari bahwa sedikit film Indonesia yang membawa premis ‘bapak’ atau sosok bapak?

Peran bapak didalam sebuah keluarga, terutama dalam mengurus anak, acap kali dipandang sebelah mata, malah kadang hanya sebagai sosok pencari nafkah yang jarang di rumah dan selalu sibuk. Lain dengan apa yang sering kita lihat di lapangan yaitu banyaknya anak lelaki yang mengatakan “Saya ingin seperti Bapak!”. Hal tersebut menunjukkan bahwa sebenarnya ada ikatan ‘tersembunyi’ antara bapak dan anaknya. Film Sabtu Bersama Bapak, secara garis besar, menggambarkan apa yang terjadi didalam ‘ikatan tersembunyi’ tersebut.

Sabtu Bersama Bapak bercerita mengenai seorang bapak yang divonis hidup tinggal setahun lagi sehingga ia mencari cara agar tetap ‘hidup’ bagi kedua anaknya, Satya dan Cakra. Dibuatlah rekaman-rekaman berisi wejangan hidup untuk anak-anaknya yang ditonton tiap Sabtu bersama-sama. Isi dari rekaman tersebut dibawa menjadi pegangan hidup oleh Satya dan Cakra hingga mereka berkeluarga. Tak disangka, pesan-pesan tersebut diinterpretasikan berbeda oleh istri dan anaknya sehingga muncul konflik diantara mereka.

Pertama kali saya menonton trailer film ini, saya langsung berultimatum bahwa saya harus menonton film ini. Datang ke bioskop dengan sebuah ekspektasi, ternyata ekspektasi tersebut dibayar lunas! Dinamika tokohnya, ceritanya, dan plotnya mantap. Bumbu komedi yang diberikan sangat on point. Untuk akting, kembali saya mengapresiasi Acha Septriasa. Kali ini ia disandingkan dengan aktor Arifin Putra dan keduanya menciptakan ikatan yang sangat baik. Deva Mahendra, yang biasa dikenal sebagai Bastian dari serial televisi Tetangga Masa Gitu, juga memberikan performa yang baik dengan segala awkwardness dan keluguan dari Cakra dalam beberapa hal terutama aspek komunikasinya dengan wanita.

Mungkin karena Sabtu Bersama Bapak ini merupakan sebuah adaptasi dari novel, cerita yang dibawakan mengalir dengan cukup apik. Pengenalan karakter pada paruh pertama sinema cukup baik sehingga pada paruh kedua dan ketiga tidak bingung ‘motivasi’ dari karakter tersebut melakukan suatu hal. Hanya, ada satu atau dua hal detil yang diceritakan diawal namun tidak ‘diselesaikan’ diakhir.

Namun saya agak aneh dengan produksi film ini. Sinematografi yang cukup mengganggu karena ada beberapa flare cahaya yang tidak pada tempatnya sehingga membuat emosi dalam scene menjadi kurang atau berlebihan. Selain sinematografi, saya juga terganggu dengan sound dalam film ini. Perpindahan antara sound orisinil pada saat pengambilan gambar dengan sound dubbing sangat kentara sehingga cukup membuat saya menghela nafas kecewa.

Overall, keren. Cerita bagus dan akting solid. Sedikit kecewa dengan hasil akhir produksinya, seharusnya bisa lebih baik lagi. 8.5/10 (Naufal Rakhaviansyah)