Istirahatlah Kata-kata (Solo, Solitude) | Tahun: 2016 | Durasi: 97 Menit | Genre: Biografi | Produser: Yulia Evina Bhara, Yosep Anggi Noen | Sutradara: Yosep Anggi Noen | Penulis Skenario: Yosep Anggi Noen | Produksi: Limaenam Films | Negara: Indonesia | Pemain: Gunawan Maryanto, Marissa Anita

Istirahatlah Kata-kata (Solo, Solitude), sebuah film karya Yosep Anggi Noen yang mendapatkan Golden Hanoman Award dalam Jogja-Netpac Asian Film Festival (JAFF) pada awal Desember ini. Film dengan durasi 97 menit ini bercerita tentang sosok Wiji Thukul, seorang sastrawan dan aktivis hak asasi manusia (HAM), yang hidup pada masa Orde Baru. Film ini berfokus pada masa hidupnya ketika melakukan pelarian ke Pontianak selama delapan bulan karena dianggap menjadi salah satu orang yang bertanggung jawab atas kerusuhan yang terjadi di Jakarta pada 1996. Di luar dari bayangan banyak orang ketika mendengar Wiji Thukul yang melekat dengan kisah-kisah perjuangan dan berakhir dengan menghilangnya ia (bersama para aktivis-aktivis lain) pada masa akhir Orde Baru, film ini justru menyajikan kisah hidupnya dari sisi yang lain.

Istirahatlah Kata-Kata mengangkat kehidupan Wiji Thukul dari sisi dirinya yang juga “manusia”. Narasi yang diantarkan oleh film ini menggambarkan kesederhanaan dari kisah hidupnya. Ia menghadirkan kecemasan Wiji Thukul, yang diperankan oleh Gunawan Maryanto, kala ia diburu oleh para intelijen. Film ini membawa penonton ke lelahnya pelarian yang dilakukannya sampai ia harus menyamar dan merubah penampilan, serta bagaimana hubungannya dengan istri dan anak-anaknya ketika ia harus kabur dan kembali secara diam-diam. Wiji Thukul dilihat melalui kacamata sebagai manusia yang juga tak lepas dari kecemasan dan kasih sayang terhadap keluarga.

Setelah berakhirnya Orde Baru, seperti yang dipaparkan oleh Ariel Heryanto dalam bukunya Budaya Populer di Indonesia, Mencairnya Identitas Pasca-Orde Baru, identitas politik di Indonesia yang semula dikekang menjadi semakin cair. Pada saat Orde Baru masih berdiri dengan kokoh, para sastrawan dengan semangat perjuangan seperti Wiji Thukul menjadi mulut dan suara bagi banyak pihak yang merasa mulutnya dibungkam. Wiji Thukul tidak berbicara lewat kata-kata yang menggambarkan kenyataan secara gamblang, tapi ia berbicara melalui sajak-sajak dan puisinya. Karya-karyanya terus mengumandangkan semangat perjuangan. Hal tersebut menjdi melekat bagi banyak orang yang pada masa tersebut merasa dibungkam dan memiliki darah perjuangan.

Wiji Thukul kian akrab dalam perbincangan seputar Orde Baru dan HAM di Indonesia. Namanya pun masih terus dikumandangkan dalam Kamisan, sebuah aksi diam yang dilakukan setiap Kamis oleh sekumpulan massa untuk menolak lupa akan penindasan dalam hak asasi manusia yang pernah terjadi di Indonesia, serta beberapa aksi HAM lainnya. Setelah runtuhnya Orde Baru, setiap orang kini dengan mudah mengakses karya-karya dan mengapresiasi Wiji Thukul, walaupun hingga titik ini keberadaannya masih dipertanyakan.

Film ini mengantarkan para penonton ke situasi Wiji Thukul berada tanpa memberikan narasi terkait latar belakang politik yang sedang berlangsung. Namun ia justru menarik penonton untuk merasakan hidup pada masa Orde Baru itu sendiri. Suasana dan situasi itu dilahirkan dengan simbol-simbol yang unik dan sederhana. Kekuasaan dari militer yang merupakan perpanjangan tangan dari pemerintah terlihat dari percakapan antara Wiji Thukul, temannya, dan salah seorang tentara yang sedang potong rambut di salon. Tentara tersebut menceritakan betapa bangganya ia menjadi tentara dan betapa menyebalkannya orang-orang yang melawan. Selain itu, terlihat pula bagaimana rumahnya yang selalu diawasi intel dan istrinya yang bercerita tentang bagaimana rumah senantiasa digeledah karena sosok Wiji Thukul yang kala itu menjadi buronan. Dominasi politik terasa begitu akrab melalui interaksi sehari-hari.

Salah satu simbol yang menggambarkan semangat perjuangan yang hadir dalam situasi tersebut ialah bagaimana pada awal cerita Wiji Thukul menyiulkan lantunan nada dari lagu Darah Juang. Lantunan nada dari Darah Juang ini juga disiulkan oleh istrinya lewat telepon ketika Wiji Thukul akhirnya menelepon istrinya setelah kabur untuk beberapa lama. Sebuah lagu yang lahir dari para mahasiswa yang melakukan perjuangan untuk pembebasan rakyat ini menjadi identitas yang melekat pada perjuangan Wiji Thukul dalam film ini. Seperti yang diucapkan oleh Yosep Anggi sendiri pada akhir pemutaran filmnya di JAFF, yakni “Wiji Thukul tidak pernah mati, ia justru berlipat ganda”. (Fadiyah)