Prenjak (In the Year of Monkey) | 2016 | Durasi: 13 menit | Sutradara: Wregas Bhanuteja | Penulis: Wregas Bhanuteja | Produksi: Studio Batu | Negara: Indonesia | Pemeran: Rosa Winnegar, Yohanes Budyambara, Hosea Hatmaji, Banyu Bening

Film yang menembus sejarah perfilman Indonesia dengan memenangkan kategori Film Pendek Terbaik pada 55th Semaine de La Critique Cannes Film Festival, Perancis ini merupakan kisah seorang perempuan dengan korek apinya. Yang utama diperlihatkan di sini ialah potret kehidupan perempuan di Yogyakarta yang dituntut kejamnya nasib sebagai seorang perempuan, yang ditinggal oleh suaminya, dilimpahkan beban mengurus anak, dan mau tak mau menjual alat kelaminnya sendiri untuk bertahan hidup. Film ini lagi-lagi memperlihatkan kita bahwa isu perempuan merupakan isu yang seksi diangkat di film, bahkan untuk film pendek.

Singkat cerita, Diah (Rosa Winnegar) mengajak temannya bernama Jarwo (Yohannes Budyambara) ke suatu tempat yang terlihat seperti gudang di tempat kerja mereka. Diah menawarkan sebatang korek api kayu dengan harga Rp 10.000. Harga itu membuat Jarwo kaget karena sangat mahal dan Jarwo pun memiliki korek api di kantungnya. Tapi, lalu Diah menawarkan hal yang disebut banyak media ini sebagai ‘permainan seks tak lazim’, yakni melihat kemaluannya dengan batang korek api tersebut dengan syarat tidak boleh menyentuhnya.

Hal tersebut dilakukan Diah karena tuntutan untuk segera membayar uang kontrakannya sebesar Rp 100.000 yang berarti setidaknya Diah harus mampu menjual 10 batang korek api tersebut. Transaksi korek api itu hanya berlangsung hingga korek ke-4. Sementara itu, Jarwo menawarkan transaksi korek api lainnya untuk memenuhi Rp 60.000 yang masih dibutuhkan Diah, yaitu dengan melihat kemaluan Jarwo selama 30 detik. 20 detik pertama, Diah menutup matanya dari melihat kemaluan Jarwo. Terlihat dari wajahnya bahwa ia sangat jijik. Tapi, 10 detik berikutnya, Diah membuka matanya.

Terkait dengan ide membuat film ini, Wregas mengaku bahwa ide cerita film ini didapatkannya dari kisah temannya yang pernah bertemu perempuan penjual Wedang Ronde yang juga menjual korek api per batangnya seharga Rp 10.000 di alun-alun Yogyakarta. Perempuan semacam itu kemudian dijuluki Ciblek yang merupakan nama burung dalam bahasa Jawa. Nama Prenjak ini pun juga berasal dari bahasa Jawa, namun merupakan nama burung lainnya.

Terlepas dari bagaimana Wregas mendapatkan ide membuat film ini, kita bisa melihat kelihaian Wregas dalam mengemas berbagai isu perempuan hanya dengan durasi 13 menit film ini. Seperti yang sudah saya paparkan di awal tulisan, yaitu pertama, perempuan yang ditinggal suami dan kemudian dilimpahkan tanggung jawab mengurus anaknya. Kedua, perempuan yang memilih jalan menjual alat kelaminnya untuk diperlihatkan kepada laki-laki. Ketiga, adanya ungkapan dari Jarwo tentang fungsi seorang suami. Keempat, perempuan yang menolak untuk melihat alat kelamin laki-laki. Bagi Anda, mungkin masih banyak hal-hal terkait isu perempuan yang terselip dalam film ini. Tapi, untuk kali ini akan saya coba fokuskan pada keempat hal tersebut.

Jika menonton menit-menit pertama film yang memperlihatkan transaksi Diah dengan Jarwo, kita mungkin belum melihat bagaimana Diah dibebankan oleh hal ‘urus-mengurus’ anak ini. Diah hanya mengatakan bahwa dirinya membutuhkan uang sebesar Rp 100.000 yang ia pun juga tak bilang akan digunakannya untuk apa. Hal terkait Diah yang ditinggal suaminya justru kita lihat dari kata-kata Jarwo pada Diah di mana ia menanyakan di mana suami Diah dan menganjurkan Diah untuk mencari suami agar bisa memenuhi kebutuhan finansialnya-yang akan saya bahas lebih lanjut. Lebih jelas lagi, kita bisa melihatnya dari adegan Diah memandikan anak laki-lakinya dan anaknya itu bertanya di mana bapaknya yang kemudian dijawab Diah, “enggak tahu”.

Adegan dan kisah tersebut memperlihatkan kita bagaimana perempuan di manapun berada dan dalam situasi apapun selalu terbelenggu dengan fungsi reproduksinya di mana perempuanlah yang hamil, melahirkan, dan secara tidak langsung wajib mengurusi anaknya karena ia ditugaskan untuk menyusui anaknya. Ini kemudian membuat berbagai permasalahan sosial terkait perempuan di dunia muncul. Bahwa perempuanlah yang ‘bisa’ ditinggal laki-laki dan mau tak mau mengurusi anaknya. Lalu, bahwa laki-laki bisa seenaknya menanam benih di ‘ladang-ladang’ perempuan dan tidak bertanggung jawab mengurusi pertumbuhan benih tersebut.

Wregas secara tidak langsung memberikan kita gambaran bahwa dunia masih sarat akan perempuan yang seperti Diah. Lebih lanjut lagi potret kehidupan seperti itu terlihat seperti wajar bagi kebanyakan dari kita. Bahwa wajar bagi perempuan mengurus anaknya sendiri dan mungkin hebat bagi laki-laki mengurus anaknya sendiri. Lagi-lagi budaya patriarki di mana menempatkan perempuan mengerjakan urusan rumah tangga atau domestik dan laki-laki di publik menjamah kehidupan sosial kita. Hebat bagi laki-laki jika mengurus anaknya sendiri tanpa bantuan istri sebab tugas urus-mengurus anak bukan hal yang dikuasai oleh laki-laki, namun tidak sebaliknya.

Hal tersebut kemudian berhubungan dengan ungkapan Jarwo saat transaksi korek api itu berlangsung. Ia menganjurkan Diah untuk memiliki suami sehingga kehidupan perekonomiannya dapat tersokong. Hal tersebut lagi-lagi jelas mempelihatkan bagaimana pembagian tugas antara perempuan dan laki-laki dalam rumah tangga. Laki-laki yang bekerja dan punya uang, sedangkan perempuan menerima uang itu lalu mengurus segala urusan domestik.

Lanjut pada isu perempuan lainnya pada film ini. Kisah Diah yang memilih menjual korek api dengan imbalan melihat alat kelaminnya tanpa menyentuhnya memperlihatkan kita betapa perempuan masih menjadi objek seks. Bahwa ketika mentok mencari uang, ada ide tentang seksualitas. Mengapa seksualitas? Sebab seksualitas merupakan hal yang dibutuhkan dan disukai oleh banya orang. Secara tidak langsung, vagina yang ‘diperjualbelikan’ oleh Diah menjadi objek yang dianggap melambangkan seksualitas tersebut. Kemudian, vagina yang dijual itu menjadi laku yang bisa dilihat dari lakunya empat batang korek api yang dijual Diah.

Hal tersebut juga berkaitan dengan bagaimana reaksi Diah saat ditawarkan Jarwo untuk melihat alat kelaminnya. Diah menolak, tapi lalu Jarwo menawarkan untuk membayar Diah sebesar jumlah uang yang dibutuhkannya, yaitu Rp 60.000. Terlepas dari niat Diah yang memang hanya ingin menjual korek apinya dan tidak berniat untuk sebaliknya melihat alat kelamin Jarwo, reaksi Diah yang menutup mata selama 20 detik pertama memperlihatkan pada kita bahwa penis masih kalah menarik dibandingkan vagina sebagai objek seks. Dan mungkin bisa saja bahwa ketika laki-laki butuh uang, ia tak terpikirkan untuk menjual alat kelaminnya pada perempuan.

Realitas seperti itu bisa kita lihat juga dari adanya tempat-tempat pelacuran dan adanya sebutan Pekerja Seks Komersial (PSK). Jarang kita lihat tempat-tempat pelacuran itu menjajakan laki-laki dan didatangi perempuan-perempuan. Mungkin ada, namun di Indonesia sendiri, kita kerap melihat bahwa tempat pelacuran menjajakan perempuan, PSK adalah sebutan untuk para pekerja di sana, kata ‘pelacur’ identik dengan perempuan, dan laki-lakilah yang paling sering datang ke tempat-tempat pelacuran tersebut. Belum lagi kasus terkait pemerkosaan dan pelecehan seksual yang kerap menimpa kaum perempuan. Lalu bagaimana media-melalui redaksional kata-katanya-menjadikan perempuan sebagai objek dari seksualitas dan kasus itu sendiri.

Ada penelitian psikologis yang mungkin dapat menjawab fenomena wanita sebagai objek seks tersebut, yaitu penelitian oleh University of Nebraska-Lincoln pada 2012. Mungkin Anda bisa membaca ringkasan penelitian tersebut di sumber lain. Tapi, yang ingin saya tekankan di sini adalah perempuan masih dipandang sebagai makhluk kedua di Indonesia dan pertamanya adalah laki-laki.

Realitanya, perempuan masih terkukung oleh fungsi biologisnya, yaitu mengandung, melahirkan, menyusui, dan memiliki tubuh yang ‘menarik untuk dikonsumsi’ sehingga tugas-tugasnya dan representasinya di kehidupan sehari-hari pun tak terlepas dari itu bahkan untuk pemikirannya sendiri. Bahwa kemudian jika saya sebagai seorang perempuan kehabisan uang, saya masih punya tubuh yang menarik ini untuk dijual. Lalu, jika saya berumah tangga saya harus mengerjakan pekerjaan domestik dan tidak wajib mengerjakan pekerjaan publik.

Hal tersebut-apalagi di jaman di mana isu kesetaraan gender dan HAM dianggap seksi-seharusnya menjadi lebih sedikit atau bahkan tidak ada. Perempuan diciptakan dengan bentuk dan fungsi biologis seperti itu seharusnya tidak menjadi bumerang untuk membunuh kebebasan kehidupannya sendiri. Kita sebagai masyarakat harus bisa mulai melihat bagaimana representasi perempuan seharusnya. Kita juga bisa memberikan pemahaman pada sesama tentang itu. Salah satunya melalui film Prenjak ini, Wregas memperlihatkan pada kita mengenai potret perempuan di Indonesia. Dan semoga film ini bukan hanya sebagai refleksi dari realitas, tapi juga sebagai pencerahan bagi penontonnya tentang perempuan sesungguhnya. (Rosydinda Deselia)