Matahari terbenam. Kereta ekonomi bergerak dari Stasiun Kiaracondong, Bandung menuju Stasiun Lempuyangan, Yogyakarta. Kami menghabiskan waktu semalam di kereta dengan saling bertukar pikiran soal banyak hal sampai tertidur nyenyak walau tegak. Perjalanan ini sengaja direncanakan untuk melakukan petulangan sinematik lewat film-film yang diputar dalam perayaan Jogja-NETPAC Asian Film Festival 11th. Festival film tahunan ini berlangsung sejak 28 November-3 Desember 2016 di Daerah Istimewa Yogyakarta. Untuk tahun ini, jika dilihat dari website JAFF akan ada tiga tempat nonton yaitu, Taman Budaya, Empire XXI, dan Grhatama Pustaka.

Matahari terbit. Kereta ekonomi berhenti di Stasiun Lempuyangan sebelum melanjutkan perjalanannya ke timur Jawa. Sesampainya di Yogyakarta, kami merenggangkan persendian terlebih dahulu. Lalu kami melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menuju Jalan Malioboro sembari merasakan hangatnya sinar mentari pagi. Saat matahari mulai meninggi, kami menyempatkan untuk berwisata ke Museum Benteng Vredeburg. Setelahnya kami makan siang sambil mencuri-curi waktu untuk memejamkan mata sejenak. Berjam-jam menunggu, akhirnya kami sampai di rumah persinggahan yang baru mengizinkan kami masuk pukul 14.00 WIB.

Kegiatan sehari-sehari itu mengingatkan saya akan cerita perjalanan yang pasti terjadi di setiap orang. Setiap perjalanan juga akan menceritakan tentang jalan-jalan bareng, makan bareng, tidur bareng walau mimpi sendiri-sendiri. Ada canda dan tawa, ada sedih dan haru, ada aku dan kita. Memang selalu ada-ada saja cerita dalam perjalanan. Dari sekian banyak cerita tersebut saya coba merefleksikan makna perjalanan kami dengan pengalaman menonton film sesuai dengan tujuan kami datang ke festival film ini.

Perjalanan selalu membawa pulang kenangan. Selama bertualang sinematik di JAFF ke-11 ini banyak film panjang dan pendek yang menarik dan juga banyak pengalaman asyik bersama anggota CC Fikom Unpad yang ikut. Kenangan bersama film dan orang-orang terdekat itu buat saya perlu diceritakan kembali. Karena itulah saya akan menceritakan kisah-kisah kami dengan mengaitkannya dengan beberapa film panjang seperti Salawaku, Turah, Istirahatlah Kata-kata dan Ziarah.


salawaku

Salawaku (2016) disutradarai oleh Pritagita Arianegara.

Sampai Jumpa

Salawaku merupakan film pertama yang kami tonton saat pembukaan JAFF pada 28 November 2016. Sebelum menonton, kami berjuang mengantri tiket di tengah hujan rintik dan ramainya Taman Budaya Yogyakarta malam itu. Akhirnya setelah mengantri dengan sabar dan mengalahkan orang-orang yang menyelak antrian, kami mendapatkan tiketnya. Kami pun langsung bergegas masuk untuk berteduh di dalam. Acara pembukaan dimulai dengan sambutan-sambutan kemudian festival resmi digelar. Lalu pengunjung yang memiliki tiket dipersilakan masuk.

Di dalam ruang pemutaran, suasana sedikit berasap seperti kabut di dalam ruangan. Film tari atau dance film merupakan buah karya Faozan Rizal yang berkolaborasi dengan Yasuhiro Morinaga dan Tony Broer. Film tari menceritakan seorang pria tua yang berpakaian compang-camping sedang menari lambat. Setelah film selesai, tiba-tiba muncul Tony Broer –pemain utama dalam film tari tersebut– dari asap yang menggumpal di depan ruang pemutaran. Ia melanjutkan tarian dalam film di depan penonton langsung dengan musik yang menunjang dari Yasuhiro Morinaga. Penampilan gabungan karya film dan tari tersebut berhasil memukau penonton malam itu.

Kemudian barulah giliran film Salawaku diputar. Film yang diputar pertama kali di Tokyo Intenational Film Festival 2016 ini bercerita tentang perjalanan dua orang yang bernama Salawaku yang mencari kakaknya, Binaiya dan Saras yang sedang liburan ke Pulau Seram. Keduanya memiliki tujuan dan sifat yang berbeda tapi perjalanan menakdirkan mereka melakukan perjalanan bersama. Di tengah perjalanan, muncul Kawanua, kakak angkat Salawaku yang membantunya mencari Binaiya yang kemungkinan ada di Piru.

Salawaku merupakan film perjalanan atau istilahnya road movie yang sebenarnya bercerita tentang meninggalkan dan ditinggalkan. Salawaku meninggalkan tempat tinggalnya demi mencari Binaiya yang meninggalkan Salawaku. Begitu juga dengan Saras yang meninggalkan Jakarta untuk bervakansi melihat keindahan pantai dan laut di bagian timur Indonesia. Perjalanan ini mengalir dengan canda tawa dari perbedaan budaya antara Salawaku dan Saras yang membuat penonton ikut tertawa. Selama perjalanan mereka juga ditemani pemandangan pantai dan laut yang indah dan penuh pesona.

Perjalanan kami ke JAFF pun merupakan sebuah akhir dari perjalanan kepengurusan CC Fikom periode 2016. Kelak kami khususnya pengurus inti akan meninggalkan CC Fikom Unpad. Begitu juga dengan perjalanan kami ke Yogyakarta ini yang bisa jadi seperti Saras yang mencari hiburan dengan liburan. Laut dan pantai yang indah dalam film Salawaku seperti film-film yang unik dan menarik selama menonton pada perayaan JAFF ini. Seperti laut yang tenang dan tegang, film pun demikian. kadang tenang karena sudah dapat tiket ataupun tegang karena tiketnya sangat terbatas. Begitulah kira-kira perjalanannya. Sampai jumpa!


turah

Turah (2016) disutradarai oleh Wicaksono Wisnu Legowo.

Sehari-hari

Keesokan harinya setelah menonton film Salawaku, kami memiliki rencana masing-masing menonton film. Ada yang nonton sendiri, berdua atau beramai-ramai. Di hari kedua, saya dan hampir semuanya ikut menonton film Turah di Empire XXI pada 29 November 2016. Kemudian kami berangkat ke tempat pemutaran untuk mengantri tiket karena kami belum membelinya secara online. Namun ternyata kami masuk waiting list dan harus bersama menunggu sampai detik-detik terakhir sebelum film dimulai. Untungnya nama kami dipanggil untuk membeli tiket seharga Rp. 15.000 dan masuk ke studio 4. Film dimulai.

Turah merupakan film pertama karya Wicaksono Wisnu Legowo yang diproduksi oleh Fourcolours Films milik Ifa Isfansyah. Film ini bercerita tentang hidup Turah yang tinggal di sebuah perkampungan miskin yang berdiri di atas tanah timbul pinggir laut hingga sulit dijangkau. Kehidupan Turah laiknya warga kampung biasa yang bekerja pada siang hari dan beristirahat dengan istrinya pada malam hari. Namun keadaan lingkungan sosial Turah menjadi daya tarik utama film ini.

Seperti dalam sinopsis, film ini menggambarkan tentang kerasnya persaingan hidup di tengah kesengsaraan dan kemelaratan kampung pinggiran. Dalam film, Turah adalah seorang sosok pria yang baik hati, dapat dipercaya, dan tenang dalam menghadapi berbagai kejadian. Kemudian, masalah datang dari Jadag yang keras kepala, berpikiran pendek, dan bertindak sesukanya. Tokoh inilah yang lebih banyak memainkan peran dalam cerita dibandingkan Turah. Jadag berlawanan sengit dengan juragan pemilik tanah di kampung, Darso dan Pakel, anak buah Darso.

Dalam film ini, seluruh pemain menggunakan bahasa jawa khas Tegal. Begitu juga dengan para pemainnya yang merupakan para lakon dari teater di Tegal. Cerita film ini pun terinspirasi dari sebuah desa di pesisir pantai utara dekat dengan Pelabuhan Tegalsari Kota Tegal. Oleh masyarakat sekitar desa tersebut dikenal dengan nama Kampung Tirang.

Selama film berlangsung juga tidak ada alunan musik buatan, yang ada hanya suara suasana kampung seperti di kehidupan nyata. Suasana kampung yang semula tenang mulai terasa tegang dan mencekam dengan kejadian janggal yang dianggap biasa warga sekitar seperti mayat seorang anak yang mengambang di sungai pinggir kampung. Ternyata juga sudah banyak mayat tak dikenal yang meninggal begitu saja sebelum kejadian itu. Keadaan warga kampung pun sulit air dan listrik yang menandakan ada sesuatu yang salah selama ini. Namun tetap saja warga kampung tersebut tidak ada yang mengeluh, protes, apalagi berontak kecuali Jadag.

Sebenarnya kejadian sehari-hari dalam film Turah ini mengingatkan saya bahwa kita sering lupa bahwa kehidupan sehari-hari juga termasuk dalam sebuah perjalanan. Kehidupan sehari-hari walau terlihat sama tapi tetap berbeda dan memilki masalah yang baru tiap harinya. Begitu pun kami yang sedang mengikuti JAFF, misalnya jadwal film yang berubah, kehabisan tiket film, mobil angkutan yang tak kunjung tiba, hujan deras membasahi sepatu, dan lain-lain. Berbagai kejadian ini memang perlu dinikmati dan disiasati agar segalanya berjalan semestinya.


istirahatlah-kata-kata

Istirahatlah Kata-kata/ Solo, Solitude (2016) disutradarai oleh Yosep Anggi Noen.

 

Bersembunyi

Beberapa hari sebelum JAFF berlangsung, Arenatiket.com sudah memperjualbelikan tiket untuk seluruh sesi program yang ada. Untungnya saat film Istirahatlah Kata-kata (Solo, Solitude) dijual, saya berhasil mendapatkan tiketnya. Begitu juga anggota CC Fikom Unpad lainnya sudah mendapatkan tiket. Saat hari pemutaran tepatnya pada 1 Desember 2016 di Empire XXI, kami tinggal menukarkan tiketnya saja. Kemudian kami antri masuk studio bioskop dan duduk manis menonton kisah Wiji Thukul.

Istirahatlah Kata-kata merupakan film panjang kedua karya Yosep Anggi Noen yang untuk pertama kalinya diputar di Indonesia saat JAFF 11th. Istirahatlah Kata-kata merupakan film biografi Wiji Thukul, seorang aktivis sekaligus penyair yang sampai hari ini masih menjadi ‘orang hilang’ sejak rezim orde baru. Film ini berbeda dengan film biografi lainnya yang mengangkat tokoh-tokoh besar seperti Soekarno, Tjokroaminoto, Habibie, ataupun tokoh lainnya. Hal ini disebabkan ketokohan Wiji Thukul tidak sebesar mereka yang memiliki peran di pemerintahan, justru ia menjadi musuh bagi pemerintah dengan pemberontakannya.

Yosep Anggi Noen fokus menceritakan kisah persembunyian Wiji Thukul di Pontianak bersama Martin Siregar setelah Peristiwa 27 Juli 1996 di Jakarta. Latar kejadian ini disinggung dengan teks dan suara radio di awal film. Selama film diputar tak ada gembar-gembor demonstrasi dan segala hal yang berbau politik, malah yang ada hanya kehidupan Wiji sehari-hari yang biasa terjadi seperti makan, mati listrik, potong rambut, dan hal yang malah remeh-temeh.

Kehidupan sehari-hari memang tampak biasa saja bagi orang biasa tapi akan berbeda rasanya ketika menjadi seorang buron. Wiji Thukul harus bertahan dalam bayang-bayang intelijen dan penguasa saat bersembunyi di tempat yang jauh di sana. Kehidupan sehari-hari berhasil menarasikan kesunyian dan tekanan yang dalam. Dari kesunyian dan tekanan itu pula muncul kata-kata yang keluar menjadi sebuah puisi yang tajam. Di sisi lain, kerinduan Wiji dengan istrinya, Sipon semakin menegaskan kesunyian dengan adanya jarak (secara geografis dan psikologis) di antara keduanya.

Anggi –sapaan Yosep Anggi Noen– menjelaskan secara padat rasa sunyi dengan meniupkan ruh pada puisi-puisi Wiji Thukul. Puisi yang awalnya merupakan bentuk tulisan dapat melebur dengan baik saat berubah bentuk menjadi suara dan gambar. Hal ini juga berkat peran Gunawan Maryanto yang berhasil menghidupkan tokoh Wiji Thukul sesuai dengan arahan sutradara. Setiap ekspresi yang dikeluarkan mampu mengisyaratkan adanya tekanan besar di belakangnya.

Hidup sebagai seorang buron dalam persembunyian bisa jadi ada di antara kami yang mengikuti perjalanan ke Yogyakarta ini. Saya misalnya bersembunyi dari ganasnya tugas kuliah yang kadang menyita kebahagiaan menonton film ataupun yang lain mungkin bersembunyi dari berbagai masalah yang terjadi. Namun memang tidak bisa disamakan tekanan yang terjadi antara kami dan Wiji Thukul. Kadang bersembunyi bukan berarti tidak menghadapi, justru salah satu cara menghadapi sesuatu.

Oh iya ada momen menarik setelah film selesai. Ketika sesi tanya-jawab, ada seseorang menanyakan keberadaan Wiji Thukul saat ini, Yosep Anggi Noen menjawab dengan tegas, “Ia ada dan berlipat ganda”.


ziarah

Ziarah (2016) disutradarai oleh BW Purba Negara.

Sederhana

Film Ziarah juga pertama kali diputar di Indonesia saat JAFF 11th tapi sayang jadwal pemutarannya bersamaan dengan film Istirahatlah Kata-kata. Dua film ini membuat Empire XXI kebanjiran penonton hingga semua tiket habis terjual dan masih banyak yang tidak mendapatkan tiket. Alhasil, pihak panitia berinisiatif untuk menambah layar untuk dua film ini. Hari Jumat (2/12) untuk Istirahatlah Kata-kata dan Sabtu (3/12) untuk Ziarah di Auditorium Grhatama Pustaka. Ini kesempatan yang tidak boleh dilewatkan, akhirnya saya dan teman-teman mulai mengantri sejak pagi demi menonton film Ziarah.

Film Ziarah merupakan film panjang pertama arahan BW Purba Negara yang dibuat dengan semangat gerilya. Setelah pemutaran, BW menjelaskan film ini dibuat dengan modal sosial sebagai modal utama, bukan modal finansial. Dalam proses pembuatan film ini, ia coba mengindahkan keterbatasan waktu selama pengambilan gambar berlangsung. Jadi ketika memang dirasa belum memuaskan, proses pengambilan gambar akan terus dilakukan.

Kisahnya adalah ketika Mbah Sri melakukan perjalanan mencari makam suaminya Mbah Pawiro Sahid yang hilang saat Agresi Militer Belanda II tahun 1949. Tujuan perjalanannya sederhana, Mbah Sri ingin dikuburkan berdampingan dengan suaminya saat meninggal kelak. Perempuan berusia lanjut ini melakukan perjalanan seorang diri tanpa ditemani anak atau kerabatnya. Ia berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya berdasarkan informasi dari teman seperjuangan Mbah Pawiro Sahid.

Pramoedya Ananta Toer pernah bilang, “Hidup sungguh sangat sederhana, yang hebat-hebat hanya tafsirannya” dan dalam film ini terasa bahwa hidup itu sederhana, yang hebat hanya perjuangan Mbah Sri untuk mencapai tujuannya. Setiap potongan cerita terasa begitu intim dengan percakapan hangat antarmanusia di dalamnya. Ungkapan cinta Mbah Sri pun tidak digambarkan dengan dramatis ataupun heroik, cukup diperlihatkan kegigihan usahanya. Dengan begitu, Mbah Sri memperlihatkan arti cinta yang sederhana dan bermakna dalam.

Setelah menontonnya muncul perasaan tenang, damai, haru, juga ikhlas. Masa lalu memang akan selalu dipandang indah apalagi memori dengan pasangan hidup. Begitu juga dengan perjalanan kami ke JAFF 11th ini akan menjadi “Kisah Klasik untuk Masa Depan” seperti judul lagu Sheila on 7 yang juga berasal dari Yogyakarta. Akhirnya pulang juga kami kembali ke Jatinangor, tempat kami memulai semuanya. Terima kasih Tuhan Yang Maha Esa, Cinematography Club Fikom Unpad, Jogja-NETPAC Asian Film Festival 11th, Yogyakarta, Desember, serta setiap momen yang akan kita ingat selalu. (Muhammad Rasyid Baihaqi)

image6image5image1image4image3image2