Awan gelap berkumpul menutupi cahaya matahari. Angin pun berembus kencang sebelum akhirnya turun hujan. Di dalam ruangan sebesar 4×5 meter, sekelompok orang sedang menonton film dengan sorotan cahaya proyektor ke arah dinding. Sore itu sekretariat CC Fikom Unpad sedang berlangsung kegiatan Rano Karno yang memutarkan film-film pemenang kategori penata suara, penata gambar, dan penyunting terbaik Moviekom 2014-2016. Total film yang diputarkan ada 5 film diantaranya: Tiang Ting, Shu, Megamendung, Delusi, dan Kembang Sepasang.

 

Setelah film selesai ditonton, seperti biasa Rano Karno dilanjutkan dengan sesi diskusi bersama para penonton yang hadir. Awalnya diskusi hanya membicarakan hal-hal yang berkaitan dengan elemen suara, gambar, dan penyuntingan sesuai dengan pemilihan film-film yang diputar. Diskusi berlangsung santai sambil sesekali berkelar mengenai after-credit scene atau post-credit scene film-film calon anggota CC Fikom Unpad dalam 3 tahun terakhir. Pasalnya dari lima film yang diputar, empat film memasukan post-credit scene.

 

Diskusi yang dihadiri saya, Ervan, Radifan, Iqbal, Anisya, Adinda, Maul, dan Vincent itu akhirnya asyik membicarakan topik post-credit scene. Awalnya dipicu pertanyaan, mengapa film-film calon anggota CC Fikom Unpad dalam 3 tahun terakhir ini memasukan post-credit scene? Dengan cepat saya menjawab mungkin karena film-film Marvel yang selalu memasukan post-credit scene di akhir film. Jawaban ini pun rasanya mewakili popularitas film-film Marvel yang kian meningkat tiap tahunnya sejak kehadiran The Avengers tahun 2012. Fungsi post-credit scene ini jelas bertujuan untuk memasarkan film Marvel berikutnya.

 

Sementara menurut Maul, post-credit scene merupakan usaha sineas untuk menyadarkan penontonnya agar film ditonton sampai credit title selesai. Mungkin hal ini dilakukan atas dasar kegelisahannya melihat penonton pergi meninggalkan bangku penonton sebelum credit title dimulai. Tidak bisa dipungkiri memang sering kali para penonton –termasuk saya– langsung pulang setelah film selesai tanpa melihat credit title. Padahal melihat credit title juga berarti menghargai dan menghormati orang-orang yang telah bekerja keras di belakang layar.

 

Kemudian Vincent menambahkan bahwa post-credit scene bisa menjadi kekurangan dalam sebuah film. ia bercerita pengalamannya menonton satu film pendek yang menurutnya bagus tapi setelah melihat post-credit scene di akhir, pendapatnya berubah total menjadi jelek. Menurutnya, penonton tak perlu diberikan simpulan apalagi dengan ceramah kata-kata atau kasarnya menggurui. Karena jika begitu berarti sang sineas meragukan penonton untuk memahami apa yang disampaikannya lewat medium audio-visual.

 

Hal tersebut memang ada benarnya tapi post-credit scene juga bisa menjadi sikap sang sineasnya terhadap semesta film tersebut. Saya sempat menanyakan langsung kepada salah satu sutradara film panjang mengenai post-credit scene dalam filmnya. Ia menjelaskan bahwa pilihannya memasukan post-credit scene itu untuk menunjukan sikapnya, dimana posisinya berada dalam film itu: setuju atau tidak. “Jika ada seseorang yang bersalah maka pantas untuknya diberi hukuman”, ujarnya.

 

Post-credit scene bisa jadi berfungsi antara salah satu dari ketiga hal di atas, yaitu bentuk strategi pemasaran, upaya meningkatkan kesadaran apresiasi penonton, dan sebagai sikap sang sineas. Namun di luar fungsinya, menurut saya post-credit scene merupakan video yang berdiri sendiri terlepas dari cerita filmnya walaupun masih berkaitan. Artinya video itu sudah lepas dari unsur dramatik maupun estetik film tersebut dengan credit title yang jadi batasnya. Di sisi lain, saya jadi teringat kalimat Sam Mendes, “There is no right or wrong, there is only interesting and less interesting.”

(Muhammad Rasyid Baihaqi)