black-mirror-netflix

Black Mirror | Number of seasons: 3 | Number of episodes: 13 | Creator: Charlie Brooker | Cast: Jon Hamm, Hayley Elizabeth Atwell, Bryce Dallas Howard, Daniel Kaluuya, Lenora Isabella, Rafe Joseph, Toby Kebbell, etc.

 

Ketika lo mengetahui rumah duka di beberapa negara udah mulai menyediakan jasa drive-thru buat yang mau ngelayat, atau ada akun kayak the one and holly @lambe_turah atau si Marissa Haque yang doyan banget twitwar, lo pun paham kenapa orang tua jaman dulu sering bilang kalo jaman udah makin edan.

Teknologi udah makin maju, manusia udah makin gila. Gw rasa, dua hal itu yang bisa merefleksikan keseluruhan perasaan gw tentang Black Mirror. Dan sebagai gen Y yang istiqomah, gw gabisa enggak buat merekomendasikan kalian Black Mirror. Dan bagi para millennial yang relijius semestinya menonton series ini adalah sebuah ibadah.

Black Mirror season pertama keluar tahun 2011 dibawah naungan Channel 4 dengan cuma 3 episode. Dua tahun kemudian mereka ngeluarin season keduanya. Dan di tahun 2015, setelah dapat kucuran dana dari Netflix, tayanglah season 3 dengan jumlah 6 episode.

Simpelnya, series ini menceritakan tentang teknologi, baik hubungan manusia dan adiksinya terhadap teknologi serta konsekuensi dari perkembangan teknologi saat ini. Kayak judulnya, Black Mirror mau menggambarkan bahwa layar gadget kita adalah refleksi akan kenyataan gelap hubungan manusia dengan teknologi. Teknologi udah berkembang secara eksponensial dan ikut menyeret cara hidup manusia bersamanya. Tiap episode Black Mirror mengangkat cerita yang berbeda-beda, jadi gak ada kewajiban buat nontonnya sesuai urutan. Tapi, karna gw seperti orang pada umumnya yang telah didoktrin sesudah 1 adalah 2 dan sesudah 2 adalah 3, gw pun menontonnya berurutan.

Well, harus gw bilang otak dari segala kegilaan Black Mirror ini yang gak lain dan gak bukan adalah Charlie Brooker merupakan orang yang jenius. Dia paham apa yang mau dia sampein di tiap episodenya. Percaya sama gw kalo gw bilang ga ada satu episode pun yang enggak membuat gw menjeritkan kata kasar di tiap endingnya. Karena emang setwisted itu ceritanya.

Emosi dan hati lo juga bakal di acak-acak selama nonton Black Mirror. Lo bakal merasa bersalah ketika nonton episode “Hated In the Nation” ketika sebuah hashtag lucu-lucuan bisa berujung pada pembunuhan massal. Atau bakal sedih pas nonton “Playtest” bahwa satu jam di virtual reality sesunggunya cuma berlansung 0,04 detik. Atau jadi ngayal babu pengen tinggal di “San Junipero”. Or, ketawa sarkas nonton “The Waldo Moment” karena politik rasa komedi sesungguhnya udah terjadi di Indonesia.

Oh, terus sebagai seseorang yang kalo ada waktu luang lebih milih buat main quiz di games.co.id daripada gugle-gugle iseng tentang deep web, maka himbauan FBI buat nutup webcam laptop beberapa tahun lalu gw anggap kayak ngeliat Khal Drogo ngomong ga pake subtitle, kaga ngarti gw bos. Gw anggap angin lalu. TAPI, demi Fadli Zon! Kelar nonton episode “Shut Up and Dance” gw langsung ngibrit ngelakbanin webcam laptop gw.

Secara visual gausah ditanya, semua episodenya tjakep banget. Estetik. Dan menurut gw, permainan kamera dan art-nya jadi salah satu faktor yang bikin series ini makin depressing. Misalnya ketika tone gambarnya “hangat”, “riang” dan “menjanjikan masa yang penuh harapan”, ceritanya bisa jadi amat sangat dark dan satir. Terus mereka juga banyak main di ruang tertutup, sempit dan/atau kosong, yang bikin lo kayak lagi nonton Room dengan Brie Larson yang ternyata claustrophobic akut, gak tega.

Selain itu semua aktor di series ini memberikan performa yang baik. Mereka ga perlu maksa pasang muka sedih dan emo buat meyakinkan gw kalo ini series yang dark dan sebenarnya lagi nyindir society yang addict sama teknologi – I’m looking at you, mr.robot. Dan para sutradaranya pun punya track record yang gak becanda. Jadi wajar banget tiap episodenya digarap dengan excellent.

Dalam ceritanya, Black Mirror banyak menggunakan teknologi super canggih yang ga bakal lo temuin di masa sekarang, kayak human cloning, brain implant, simulated reality, you name it. Tapi kecanggihan teknologi yang disajikan bukan yang selevel gearnya Iron Man pas mau tawuran sama pasukannya Loki, melainkan teknologi yang masih relevan dan berkaitan sama isu-isu sosial yang dekat sama kita. Kecanggihan-kecanggihan di Black Mirror gak membuat lo jadi meragukan ceritanya, malahan bikin lo percaya bahwa mungkin sesungguhnya Charlie Brooker adalah long-lost sonnya Mama Lauren, bahwa Black Mirror telah meramalkan masa depan bung!

But the thing is, series ini hanya menceritakan tentang teknologi dan akibat-akibatnya pada kehidupadan manusia, titik. Ga ada satu episode pun yang secara eksplisit memberikan solusi bagaimana menghadapi teknologi itu sendiri. Alasan pastinya sih gw gak tau tapi mungkin Brooker merasa penonton udah cukup pinter buat tau bahwa masalah sesungguhnya bukan di teknologinya tapi di manusianya itu sendiri. Atau mungkin sesimpel karena series ini bukan iklan layanan masyarakat dari kominfo 🙂

Walaupun gw sadar Black Mirror bukan tipe series yang “ringan” buat dibinge-watch tapi kalau lo belum pernah nonton Black Mirror plis dengerin gue, coba dulu nonton season 1 nya. Cuma tiga episode kok. Tapi tiga episode awal ini menurut gw cukup buat bikin lo mempertanyakan kemana aja selama ini lo nggak nonton Black Mirror. (Bulan Tamara Horo)