Perjuangan Memperoleh Keadilan

Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak (2017) | Durasi: 90 Menit | Genre: Drama, Thriller | Sutradara: Mouly Surya | Penulis Skenario: Mouly Surya, Rama Adi | Pemain: Marsha Timothy, Egy Fedly, Dea Panendra, Yoga Pratama, Haydar Salishz

 

Isu perempuan selalu hangat dibincangkan berbagai kalangan. Mulai dari kesetaraan gender, jaminan keselamatan kelahiran, status janda, hingga pemerkosaan kerap kali membuat masyarakat mengelus dada. Tak hanya isu perempuan, masalah sosial secara umum yang terasa miris seperti daerah tertinggal dan kemiskinan juga menjadi isu yang sering diperbincangkan. Keduanya tergambar dalam film Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak. Tokoh Marlina, adalah perempuan yang ditinggal meninggal suami dan anaknya yang prematur, paham betul bagaimana berada pada posisi tersebut.

Bukan berlatar di kota besar, bukan pula di daerah hipster, Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak mengambil latar tempat di daerah perbukitan Sumba, Nusa Tenggara Timur. Cerita berawal dari datangnya orang-orang yang ingin merampok harta, tahta, bahkan mengancam nyawa serta kehormatannya sebagai wanita. Tinggal sendiri dengan kemiskinan yang memeluknya erat hingga tidak mampu membayar pemakaman sang suami, menjadikan Marlina tidak berdaya.

Namun, insting bertahan hidup dan gambaran wanita Indonesia bagian Tengah yang kuat, membuat Marlina merencanakan pembunuhannya dengan cerdik. Satu dua tubuh tumbang, disaksikan mayat suaminya yang duduk rapih di pojok rumah terbalut kain selimut. Saat rencananya tidak berhasil, improvisasi ia lakukan dengan pedang di sisi tempat tidur.

Hari berganti, matahari menerangi hamparan sabana di depan mata. Marlina sudah berpakaian rapih demi mendapatkan keadilan untuknya. Untuk melengkapi bukti dari kekerasan yang dialaminya, ia membawa serta sang pelaku, atau lebih tepatnya kepala sang pelaku yang ia lepaskan semalam. Sebelum menonton, saya memang belum menonton trailer-nya. Hal tersebutlah yang membuat saya agak kaget ada orang membawa kepala seperti membawa bola basket.

Tergambar jelas bahwa akses transportasi di daerah itu masih sulit. Setelah menunggu sekian lama, barulah ada transportasi umum. Selama perjalanan Marlina dengan tumpangannya, mata penonton dimanjakan oleh hasil pengambilan gambar yang menyuguhkan pemandangan sabana di Pulau Sumba. Tidak sampai disitu, masalah sosial lain terjadi saat Marlina sampai di kantor polisi terdekat. Kasusnya tidak dapat segera diproses, salah satunya karena sumber daya manusia yang terbatas di daerah tersebut. Sehingga butuh waktu bagi sang ahli untuk sampai ke daerahnya.

Selain Marlina, sahabatnya yang sedang hamil tua juga tidak memiliki kehidupan yang lebih baik. Suami yang jarang pulang karena jarak dan waktu untuk bekerja, membuat Novi mau tidak mau tergerak untuk bertemu dengan suaminya. Usaha Novi begitu berliku dari jalan kaki, naik kendaraan umum, hingga dengan motor yang menculiknya untuk ditukarkan dengan kepala sang pemimpin. Sekali lagi, Novi menggambarkan kekuatan perempuan. Seperti menyadarkan bahwa yang hamil memang rentan ini dan itu, namun bukan berarti lemah.

Film ini dikemas secara apik dengan tokohnya yang cerdas, soundtrack yang menenangkan, dan tentu pemandangan Pulau Sumba yang eksotis. Tidak heran, gaung nama Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak telah terdengar bahkan sebelum rilis di bioskop seluruh Indonesia. Film ini lolos seleksi untuk tayang pada festival-festival film internasional, antara lain Cannes Film Festival pada bulan Mei, New Zealand International Film Festival dan Melbourne Film Festival pada bulan Agustus 2017. Pada bulan September 2017, film yang memiliki nama lain Marlina the Murderer in Four Acts mendapat penghargaan sebagai film dengan skenario terbaik dalam Festival International du Film de Femmes de Sale (FIFFS) Maroko edisi ke-11 dan lolos ke Toronto International Film Festival. Pada bulan Oktober 2017, The QCinema Film Festival, Filipina menganugerahinya sebagai film terbaik Asia/I NestWave dan lolos ke SitgesFantastic Film Festival serta Busan International Film Festival.

Film Marlina berani menyajikan banyak hal dari segi eksotisme Indonesia, isu sosial dan isu wanita, para pemain yang sangat mumpuni, sudut-sudut pengambilan gambar yang menarik, ke dalam sebuah rangkuman sepanjang 90 menit. Kepadatan kontennya membuat film ini mendapatkan banyak apresiasi dari dunia internasional maupun nasional. Sebuah film yang sayang sekali untuk dilewatkan. Sepertinya terlihat seram, namun percayalah sela-sela humor dan keindahan yang sedari awal dibahas, membuatnya berakhir dengan manis.

 

Penulis: Tasha Amalia

Editor: Muhammad Iqbal