Ngaso #3: Ada yang Beda

Pagi itu tampak berbeda. Beberapa panitia Ngobrol Asik Sambil Nonton (Ngaso) Ketiga sedang sibuk hilir mudik menyiapkan acara di Galery Hidayat Bandung, Minggu (22/10/2017). Tak biasa, sebab biasanya kegiatan CC Fikom Unpad berpusat di Jatinangor. “Kita ingin berjejaring juga di Bandung,” terang Penanggungjawab Ngaso #3 Rosydinda Deselia.

Tak hanya itu yang berbeda, kegiatan Ngaso #3 kali ini juga hasil dari kolaborasi dua kementerian, yakni Kementerian Kerjasama dan Distribusi dan Kementerian Kewirausahaan. Karenanya, Ngaso #3 tidak hanya ditujukan untuk komunitas film di Jatinangor dan Bandung sebagaimana tahun sebelumnya, tetapi juga untuk meningkatkan kapasitas diri anggota CC Fikom Unpad. “Kita juga ingin Kementerian Kewirausahaan tidak hanya jualan, tapi memberi manfaat untuk aktivitas perfilman di CC,” jelas Dinda yang juga menjabat sebagai Menteri Kewirausahaan CC Fikom Unpad.

Tema Ngaso #3 kali ini adalah “Funding Your Own Movie”. Sejalan dengan misi Kementerian Kewirausahaan dalam Ngaso #3 ini, ingin menghadirkan warna baru dalam suasana kerja Kementerian Kewirausahaan. “Selama ini kan kita jualan kan, kita pengen juga ada manfaatnya buat film pendek yang dibuat anak-anak CC,” tutur Dinda.

“Mengapa kewirus? Karena stigma yang dibentuk di CC selama ini kewirus berkontribusi untuk menambah daya materil CC untuk menjalankan setiap prokernya, dengan menjual CC merch khususnya, tapi kita lupa bahwa kita ada di ranah film,” imbuh Presiden CC Fikom Unpad Lukman Hoedi.

Sebagaimana Ngaso sebelumnya, acara kali ini juga diawali dengan acara temu komunitas. Terdapat beberapa komunitas di Bandung dan Jatinangor yang hadir, meliputi LFM ITB, Satu Layar UPI, Fadeo FTIP Unpad, Ruang Film Bandung, Forum Film Telkom dan Layar Kita. Adapun beberapa komunitas film fi Unpad yang turut diundang namun tidak berkenan hadir, SSFdR FH Unpad dan GSSTF Unpad. “Tujuan Temu Komunitas ini untuk saling kenal dengan komunitas lain dan itu tercapai dalam acara ini,” ujar Menteri Koordinator Bidang Eksternal Khansa Ziz Fathima.

Acara Temu Komunitas berlangsung interaktif. Tiap-tiap komunitas menjelaskan kegiatan yang dilakukan. Anya misalnya. Ia mengatakan bahwa komunitasnya, LFM ITM tengah sibuk menyediakan jasa untuk acara wisuda di kampusnya, ITB. “Ini salah satu proker besar kewirausahaan, lumayan buat mendanai proker-proker kami yang lain,” imbuhnya.

Temu Komunitas ini juga jadi ajang saling berjejaring. Akbar dari Layar Kita mengatakan bersedia berbagi informasi bagi komunitas yang ingin mengundang narasumber pada acara pemutaran film. Komunitas yang aktif dan konsisten bergerak di bidang pemutaran film ini juga bersedia member rekomendasi film jika ada yang ingin melakukan pemutaran film. “Kami sangat terbuka untuk itu,” tegas Akbar.

Buat Film, Jangan Lagi Khawatir Soal Dana

Tema Ngaso #3 kali ini mengahadirkan tiga pembicara dari tiga instansi yang berbeda. Saffira dari Campaign Consultant Kitabisa.com, Creative Directore Visinema Adriano Qalbi dan Manajer Kineforum Suryani. Ketiga pembicara ini dipilih dengan satu benang merah: bagaimana pembuat film bisa mendapatkan uang dari film pendek yang dibuatnya.

Saffira menjelaskan ikhwal bagaimana pembuat film menggalang dana melalui urunan lewat platform Kitabisa.com, sebagaimana platform Kickstarter yang telah ada sebelumnya. Bedanya, Kitabisa.com tidak hanya menghadirkan campaign untuk dunia kreatif. “Teman-teman sekarang jangan takut lagi soal dana kalau buat film, ada banyak cara yang bisa dilakukan, salah satunya lewat urunan di Kitabisa.com,” ujar Saffira yang akrab disapa Rara. Ia juga memberkan penjelasan tip dan trik dalam membuat campaign di kita bisa. Tak hanya itu, ia juga memaparkan beberapa penggalangan dana di bidang film yang telah berhasil.

Pembuatan film tidak hanya berhenti usai masa produksi berakhir. Setelah itu, kita wajib membuat film kita diketahui oleh orang lain. Lebih-lebih bisa mendapat feedback yang membuat kita bisa berkarya lebih baik. Manager Kineforum Suryani memaparkan prihal dunia pemutaran alternatif. Kineforum sebagai salah satu ruang putar alternatif bisa dijadikan wadah untuk menghadirkan uang dari film yang dibuat oleh pembuat film. Ia menjelaskan tentang cara mendapatkan film, mengkurasinya dan pemyiapkan program pemutaran tiap bulannya. Tak hanya Kineforum, Suryani juga member beberapa ruang putar alternatef yang ada di Jakarta, seperti Radiant Cinema, Cine Space, Paviliun 28, Kinosaurus, Erasmus Huis, Gothe Institute dan IFI. “Satu pesan saya, jangan berhenti belajar dan berkarya,” tutup Suryani.

Ke depan, Khansa berharap Ngaso tidak hanya berisi seminar tetapi juga menghadirkan workshop. Hal ini dinilai dapat meningkatkan bonding antar komunitas. “Jadi ada yang bisa ‘dibawa pulang’ selain pengalaman,” ujar Khansa.

Acara ditutup dengan pemutaran film Seorang Kara, salah satu hasil produksi Holiday Production pada 2016 silam. Kendati sudah berakhir, beberapa komunitas juga masih berbincang dengan pembicara atau anggota CC Fikom Unpad.

Liputan mengenai Ngaso #3 juga terbit di Harian Pikiran Rakyat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *