Sing Street: Lari dari Kenyataan dan Bermimpi dengan Musik

Sing Street (2016) | Durasi: 1 Jam 46 Menit | Sutradara: John Carney |Penulis Skenario : Simon Carnody, John Carney | Pemain: Ferdia Walsh — Peelo, Aidan Gillen, Maria Doyle Kennedy

Hati-hati, spoiler tipis-tipis!

Sebagai seseorang yang emang lumayan doyan musik, Film Sing Street gak bakal luput dari jarahan gue. Sing Street adalah film yang menceritakan seorang bocah laki-laki bernama Cosmo (dipanggilnya Conor, 15 tahun) yang hidup dan menetap di Dublin pada era 80-an. Conor terjebak di tengah-tengah situasi yang bisa dibilang cukup riweuh, gak cuman keadaan negaranya aja yang riweuh saat itu, keluarga Conor pun juga gak mau kalah riweuh. Keadaan tersebut membuat musik menjadi pilihan Conor untuk escape from the reality. Kecintaan Conor terhadap musik juga berimbas dari kakak laki-lakinya yang memang sangat obsessed dengan musik. Akhirnya, influence terbesar Conor di musik adalah kakaknya sendiri. Seperti kebanyakan anak-anak ABG lainya, Conor juga awalnya malu-malu sama passion-nya terhadap musik. Namun, semua berubah ketika dia bertemu seorang gadis bernama Raphina. Conor pun membuat sebuah grup band bernama Sing Street untuk caper ke cewek yang dia suka, tapi seiring berjalannya waktu, band tersebut menjadi tempat penyaluran passion dan mimpi-mimpinya.

Di film ini, kalian bakal disuguhkan dengan hal-hal yang berbau 80s pastinya. Mulai dari setting bangunan-bangunannya, sampai ke outfit yang dikenakan Conor dkk yang dijamin bakal buat gemas ngeliatnya. Dan yang paling penting, kalian bakal dimanjain lagi sama musik-musik rock era 80-an.. OMG! Warna-warna musik yang dimainkan Sing Street bakal kek band-band yang emang lagi nge-top banget di era tersebut, seperti Duran-Duran dan The Cure.

Interaksi antar tokoh di film ini juga bisa dibilang cukup intens, tapi masih ringan, karena ketika lo nonton bakal kek “let it flow” aja, gak perlu sampai mengerutkan alis. Ett tapi, jangan salah, mungkin di awal-awal film kalian mengira plotnya akan sesederhana itu, tapi pas udah menuju akhir, behh.. gak men lo salah besar, ternyata lumayan complicated lho plotnya, karena konflik-konflik yang harusnya bisa kita ekspetasikan di awal film, terlupa akibat melihat keseruan Conor dkk dalam bermusik. Yak, memang humor-humor yang diselipkan terlihat natural sekali, karena seolah-seolah itu memang sebuah “ke-stupid-an” bocah-bocah umur 15 tahunan.

Film Sing Street juga membawa kita ke dalam perspektif Conor sebagai anak bungsu yang polos dan masih banyak gak taunya, yang dikemas melalui lagu-lagu yang ia ciptakan. Ia hanya fokus terhadap musik dan mimpinya, dan menjadikan kakak laki-lakinya sebagai seorang panutan, sampai terlupa dengan masalah-masalah yang bakal ia hadapi. Dan disini pula, menurut gue, bapak sutradara, John Carney berhasil mengemas hubungan kakak-beradik yang cukup menarik, dimana seorang kakak yang gagal dalam mencapai mimpinya berusaha membuat mimpi adiknya tercapai, yang secara tidak langsung, mimpi adiknya adalah mimpinya juga yang tertunda.

Nah, rasanya gak afdol kalau gue gak bahas dikit tentang lagu-lagu di Film Sing Street ini, so, ini beberapa lagunya:

  1. The Riddle of The Model adalah lagu pertama yang Conor ciptakan bersama teman-temannya. Lagu ini sebenarnya keseluruhan isinya menceritakan tentang Raphina, tapi gue mengambil sisi lain dalam melihat bagaimana lagu ini dapat tercipta. Pesan yang bisa gue ambil adalah “jangan meremehkan diri lo sendiri dalam bermimpi, lo mampu tanpa perlu meniru orang lain”. Dan ada quotes favorit gue di film ini, yaitu ketika kakak laki-laki Conor memotivasi Conor dalam menciptakan lagu ini;

“Did the Sex Pistols know how to play? You don’t need to know how to play. Who are you, Steely Dan? You need to learn how NOT to play, Conor. That’s the trick. That’s rock and roll. And THAT… takes practice.” (sumber: imdb.com)

 

  1. Drive It Like You Stole It.

“You can be anything

You gotta learn to rock and roll it

You gotta put the pedal down

And drive it like you stole it” (sumber: azlyrics.com)

Scene ketika lagu ini dimainkan oleh Conor dan bandnya cukup ironis lho. Seperti kata lirik lagunya, bahwa kita dapat menjalani hidup dengan cara yang kita mau, Conor pun seperti itu. Namun, nasib tidak berpihak pada Conor saat itu. Sedi deh.

  1. Brown Shoes, adalah lagu yang Conor buat untuk para bully di sekolahnya. Seperti yang udah gue bilang tadi, kalau musik adalah tempat Conor melarikan diri. Jadi, jangan heran kalau kebanyakan lirik lagu yang dia ciptakan cukup related sama kehidupannya. Pesan yang bisa gue ambil dari lagu ini adalah gak perlu takut untuk menjadi diri sendiri. Dan sesungguhnya, para bully, terutama di film ini, dapat dijelaskan dari potongan lirik lagu Brown Shoes;

“You’re stuck in the past, I’m writing the future”.(Sumber: azlyrics.com)

Sebuah mimpi memang pantas diperjuangkan dan di dalam film ini terlihat dari konflik-konflik yang mulai muncul ke permukaan di akhir-akhir cerita, dan divalidasi di ending film ini, yang seolah memberi kesan cukup filosofis bahwa no matter what happened before, kalau memang mimpi lo mau tercapai, Kejarlah! Walaupun lo gak bakal tau apa yang bakal terjadi kedepannya, just face it.

Dah sekian dari gue. Film ini sangat gue rekomendasikan ke kalian yang emang lagi butuh hiburan banget untuk melepas penat dari tugas-tugas dan acara-acara kuliah yang bejibun itu. Selamat bernyanyi dan menonton!

Dhea Zahara

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *