The Handmaid’s Tale (2017)|Number of season: 1 |Number of episodes: 10 |Creator: Bruce Miller |Cast: Elisabeth Moss, Yvonne Strahovski, Joseph Fiennes.

Mindfuck!” adalah ungkapan yang paling cocok untuk menggambarkan The Handmaid’s Tale, sebuah serial tv keluaran Hulu Production yang mengadaptasi novel Margaret Atwood dengan judul yang sama dan diproduseri oleh Bruce Miller. Kalau kalian merupakan seseorang yang update sama Emmy, pasti gak bakal asing lagi dengan serial tv ini. Jelas, nama serial ini sering banget disebut di Emmy dan mendapatkan 8 piala Emmy dari 13 nominasi yang mereka dapatkan. Awalnya gue males nonton serial ini, karena beranggapan ini berhubungan dengan sekte-sekte gak jelas. Satu hal yang perlu kalian ketahui, serial ini memang tentang sekte.

The Handmaid’s Tale menceritakan sebuah perumpamaan apabila dunia (Amerika Serikat) di dalam serial ini dikuasai oleh masyarakat totaliter (Gilead). Perempuan menjadi aset negara dan peran perempuan pun akhirnya hanya sebatas menjadi pelayan bagi kaum lelaki, entah pelayan dalam urusan dapur maupun kasur. Bahkan perempuan tidak diperbolehkan membaca.

Bisa dibayangkan bagaimana peran perempuan di aktivitas-aktivitas lainnya, yak, hampir tidak ada. Dogma kelompok dan budaya patriarki juga membuat kehidupan June, sang tokoh utama yang diperankan oleh Elisabeth Moss (acting-nya sungguh menggemparkan), menjadi sangat fucked up, karena di dunia yang dibuat oleh para lelaki yang melabelkan dirinya sebagai orang-orang yang sangat religius membuat June harus menjadi “pelayan Tuhan” sebagai alat untuk menghasilkan seorang bayi di dalam sebuah keluarga (The Handmaid).

Perempuan-perempuan yang terpilih menjadi The Handmaid harus rela membuka selangkangannya di antara pasangan suami-istri untuk menghasilkan bayi untuk mereka. What a fucking life. Kasarnya, The Handmaid’s Tale berhasil menggambarkan bagaimana dunia yang lebih baik itu, tapi sayangnya untuk ‘mereka’ bukan untuk ‘kita’.

Berangkat dari pengetahuan gue yang masih cetek tentang dunia perfilman, serial ini sudah berhasil banget mengambil hati gue dari episode pertama. I’m insanely fucking in love dengan penulisan serial ini. Gila! Serial ini sangat well-written yang tidak hanya tercerminkan dari penggambaran dan pengembangan latar, karakter, dan plot, tapi juga dialog-dialognya itu sendiri (gils ku cinta mati dengan setiap line di serial ini). Padahal, serial ini mengadaptasi novel yang umurnya sudah nyaris 30 tahun, tapi story line-nya dikemas dengan sangat genius. The Handmaid’s Tale akan membawa kita masuk ke dalam sebuah perumpamaan yang jauh dari akal sehat but somehow so fucking related with our life (khususnya dengan banyak hal yang belakangan ini terjadi di Amerika).

Serial ini memang berhasil membawa penontonya ke dalam dunia yang mungkin gak akan pernah terbayangkan sebelumya, tapi jika melirik lagi dunia saat ini, maka dunia yang tidak pernah terbayangkan itu bisa saja terjadi. Patriarki, bias gender, diskriminasi gender, dan dogma kelompok bisa saja menyebabkan terwujudnya dunia yang terjadi di The Handmaid’s Tale. Ya, kalau saja kita terus-menerus merasa nyaman di ninabobokan dan tertidur nyenyak di dalam dongeng bagaimana harusnya dunia itu berjalan sesuai budaya patriarki dan dogma kelompok, dunia seperti itu mungkin saja terjadi.

Dari semua yang sudah gue tulis di atas, ada 5 hal yang bakal lo rasakan dan alami ketika menonton The Handmaid’s Tale, yaitu:

  1. Banyak adegan yang membuat lo ingin (bahkan) mengumpat. Asli ini mah, gue gak bohong dan mengada-ngada (bisa dilihat dari jumlah umpatan yang ada di atas). Oleh karena itu, serial ini sangat gue rekomendasikan ke kalian yang mungkin sedang butuh pelampiasan (?).
  2. Punch line-nya yahudd. Kalau kangen perasaanya di permainkan, silah nonton serial ini. Gak cuman film Dunkirk yang bisa main-main sama perasaan, serial ini pun begitu. Saran dari gue, jangan cepat senang guys ketika menonton serial ini.
  3. Ironi. Perasaan ironis akan sangat dekat dengan kalian ketika menonton The Handmaid’s Tale, apalagi didukung dengan line-line dialognya yang keren beud.
  4. Soundtrack yang gak kalah catchy sama Stranger Things. Lagu-lagu yang dipilih cukup powerfull dan sangat seru parah!
  5. There is a hope. Agak klise memang, tapi serial ini berhasil banget meyakinkan gue kalau memang selalu ada secarik harapan, asalkan kita mau yakin, berjuang, berani, dan bangun dari tidur nyenyak kita untuk membuat dunia yang lebih baik lagi (for us not for them) #eaa.

Yah itu saja dulu yang bisa gue sampaikan tentang The Handmaid’s Tale. Serial ini bisa banget nih di masukin ke list liburan kalian. Oh iya, perlu diingatkan lagi, nontonya kalau bisa di tempat yang jauh dari anak kecil, karena selain banyak adegan inappropriate kalian juga bakal rawan untuk mengumpat.

 

Dhea Zahara