Kemarin, tanggal 24 Februari 2018, di tengah riuhnya suasana Mayasi dengan ditemani suara rintik hujan, orang-orang berkemeja hitam CC berkumpul. Mereka terlihat sibuk mempersiapkan sebuah acara Rame-Rame Nonton Karya Orang (Rano Karno). Semua itu karena Sekala Niskala. Sebuah karya dari Kamila Andini yang akan tayang di bulan Maret ini.

Tidak hanya dihadiri oleh anggota – anggota CC, Rano Karno kali ini pun dihadiri oleh lebih banyak orang. Orang – orang yang mungkin sedang makan di Mayasi, tidak sengaja melewati Mayasi, atau memang sudah mempersiapkan diri untuk datang setelah melihat ‘papan pengumuman’ yang tersebar di mana – mana. Acara yang memang diperuntukan menyambut Sekala Niskala ini dibagi ke dalam tiga sesi yang menampilkan karya-karya Kamila Andini, yaitu Memoria (2016), Following Diana (2015) pada sesi pertama dan ketiga, serta The Mirror Never Lies (2011) pada sesi kedua.

“Beap” suara jam ditangan saya menunjukan tepat pukul 4. Setelah melalui beberapa persiapan, Bulan membuka sesi pertama dengan gaya candaannya yang khas. Film yang ditayangkan pada sesi pertama adalah Memoria dan Following Diana. Kedua film ini sama-sama memerlihatkan kekuatan seorang perempuan dalam menjalani hidupnya.

Seperti biasanya, Rano Karno pasti ada sesi diskusi. Sesi diskusi dipimpin oleh Raka, serta Radifan dan Rahmat sebagai penanggap. Diskusi dimulai ketika Nadhira menanggapi kalimat “ Demi Keamanan Kita Semua” di dalam film Memoria. Nadhira beranggapan kalimat tersebut, yang ditampilkan di awal dan di akhir film memiliki sebuah makna, yaitu “keamanan untuk semua perempuan” di dalam film Memoria.

Berbeda dengan Nadhira, Bulan justru melihat kurangnya perlawanan terhadap patriarki itu sendiri di dalam film Memoria. Radifan menanggapi hal tersebut dengan beranggapan bahwa film ini hanya menwarkan sebuah perspektif dari para survivor di Timor Leste dalam menjalani hidupnya. Rahmat pun menambahkan, bahwa serunya menonton film adalah kita dapat melihat perspektif pembuatnya.

Masih dengan rasa penasarannya, Bulan menanyakan soal daster salah satu korban pemerkosaan di dalam film tersebut yang masih terus disimpan. Radifan beranggapan bahwa memang sexual harassment itu membekas sekali pada korbannya, Oleh karena itu, film ini diberi judul “Memoria”.

Sedikit berbeda dari sesi pertama, sesi ketiga lebih membahas tentang film Following Diana. Film Following Diana ini menceritakan seorang perempuan yang akan di madu. Mulai dari segi teknis, isu sosial dan agamanya, sampai setiap adegan dan dialog, semua rame – rame didiskusikan pada sesi ketiga ini. Menariknya, scene ketika Diana dan suaminya duduk berdua di kamar bercakap tentang dirinya yang sudah di madu menjadi scene favorit hampir banyak penonton saat itu.

Di sesi kedua, terlihat muka – muka penonton yang terpana. Paras cantiknya Atiqah Hasiholan dan ketampanan Reza Rahardian membuat penonton terpukau dengan adegan mereka berdua di dalam film The Mirror Lies yang bisa banget di “cie” – in. Tidak hanya terpana dengan akting dan paras Atiqah dan Reza, The Mirror Never Lies juga berhasil membuat penontonya terkagum dengan keindahan laut Wakatobi sebagai sebuah kemasan akan rasa kehilangan.

Radifan dan Rahmat pada akhirnya menyimpulkan bahwa Kamila Andini sebagai seorang sutradara perempuan jelas sekali memberikan perspektifnya (sebagai seorang perempuan) di setiap filmnya. Hal tersebut terlihat dari ketiga film yang sudah ditayangkan tadi, yaitu Memoria, Following Diana, dan The Mirror Never Lies. Dan juga Kamila Andini sangat tertarik dengan isu – isu yang berbau kesetaraan gender, perempuan, sosial, dan budaya.

Pukul 11 kurang lima menit, Bulan mengecek ombak. Dengan muka kantuknya, ia mengatakan bahwa film Following Diana akan ada sequel-nya, yaitu Followback Diana. Gelak tawa penonton pun akhirnya menandakan selesainya acara Rano Karno x Mayasi saat itu.

(Dhea Zahara)