Berikut adalah ulasan-ulasan dari tiga film Kamila Andini yang ditanyangkan di Rano Karno X Mayasi oleh Ivany, Bagas, Maya, dan Tazki

Memoria (2016) dan Following Diana (2015).

Film Memoria (2016, 30m) menceritakan kisah Maria, seorang korban pelecehan seksual di masa perang yang setiap langkahnya diperuntukan “Demi keamanan kita semua”. Kini Maria sedang bergundah hati saat mengetahui putrinya, Flora akan menikah. Maria membayangkan bagaimana perlakuan tidak layak tentara asing kepadanya hanya untuk kemudian dipergunakan seperti objek oleh budaya pemberian mahar setempat. Maria yang tidak pernah merasakan jatuh cinta seperti yang dirasakan Flora menolak pemberian mahar untuk putrinya tersebut, sehingga menimbulkan percikan konflik diantara para tokoh.

Menurut saya film ini sangat well crafted, fokus terhadap detail-detail penceritaan hingga sisi teknis. Film ini membuat saya sebagai penonton kembali mempertanyakan maksud yang lebih mendalam dari detail-detail yang sebenarnya sudah disuguhkan sangat gamblang. Sebut saja, adegan kilas balik Maria yang ditayangkan setelah Flora bergurau dengan pacarnya, adegan pemberian mahar setelah Flora mendengar orangtuanya bertengkar, serta adegan Flora mengecup tembok kamarnya. Adegan-adegan tersebut berhasil menggambarkan sudut pandang tokoh-tokohnya walaupun bersifat multi tafsir.

Hal lain yang menarik dari Memoria adalah tidak ada tokoh yang “Diantagoniskan”(dibuat agar penonton berada di pihak tokoh utama). Kita dengan sendirinya akan tahu siapa penjahat dalam film ini melalui penggambaran sederhana lewat selentingan-selentingan minim dialog tanpa rupa para antagonis. Keputusan untuk tidak menampakan “Penjahat” tersebut secara visual menjadi sangat brilliant karena andaikala tokoh antagonis tersebut diperlihatkan sangat besar kemungkinan bahwa alur cerita akan terjebak dalam lingkaran setan masa lalu Maria. Dengan berfokus terhadap efek dari kejadian tersebut, Kamila Andini mampu membuat penonton terbuai tanpa terlelap dalam memoria-nya.

Berbeda dengan film Memoria,  yang mengambil latar tempat di daerah pedalaman, Following Diana (2015, 40m) kurang lebih menilik tema serupa, namun terasa lebih relatable dan mudah dipahami karena memilih kehidupan perkotaan untuk diceritakan. Di tengah kehidupan rumah tangganya yang adem ayem Diana ditodong oleh keinginan suaminya, Ari untuk berpoligami. Sebagai seorang istri dan ibu tentu saja sulit bagi dirinya untuk menerima hal tersebut. Life must go on. Diana memilih untuk berdiri di kakinya sendiri hingga menimbulkan kecemburuan di dalam diri Ari.

Sesuai dengan judulnya, kita diajak untuk mengikuti kehidupan Diana sebelum dan sesudah terlaksananya poligami. Berbeda dengan film sebelumnya, Following Diana mengambil fokus dengan mengkonfrontasi dua pihak yaitu Diana dan Ari. Dalam waktu 40 menit seluruh karakter berpindah posisi dan tumbuh tanpa ada yang terasa janggal. Dialog-dialog dalam antar karakter menjadi kunci utama dalam film ini. Adegan-adegan seperti mencari wejangan dalam menghadapi masalah keluarga, mengendarai motor dengan ponsel terselip di helm serta yang paling berkesan berburu kecoa dibuat tanpa ‘menjelaskan’. Dialog normal tersebut berhasil ‘memaparkan’ realita yang harus dihadapi tokoh utama. Pendewasaan karakter Diana dan putra kecil mereka, Rifqi serta kemunduran figure Ari dirasa diceritakan sangat apik.

Membandingkan keduanya dari penggambaran anak, karakter Rifqi yang notabenenya masih duduk di bangku sekolah dasar terasa jauh lebih dewasa dibandingkan Flora yang sudah berusia mapan. Rifqi dan Diana ditinggal seorang figure ayah dalam waktu bersamaan hingga mereka berjuang bersama dalam menghadapi keseharian mereka. Sedangkan Flora yang tidak penah mengetahui ayahnya siapa tidak mampu memposisikan dirinya terhadap situasi Maria dikarenakan sang ibu enggan memberitahu dimana titik masalahnya.

Kedua film yang menampilkan perempuan tersebut bagi saya terasa sangat nyata. Berbeda dengan budaya barat yang menggembar-gemborkan feminisme lewat adegan aksi serta didorong oleh motif dendam dan atau persaingan, pengaruh budaya timur yang meneriakan patriarki dan menyisakan perempuan sebagai korban dalam film ini dihadapi menggunakan kearifan budaya seperti bijak dalam mengambil keputusan serta menghargai hal-hal kecil terasa flawless dan sangat dewasa dalam menggambarkan feminisme.

The Mirror Never Lies (2011)

Jika membahas tentang keindahan alam Indonesia, maka kurang rasanya jika tidak menyinggung tentang film ini. Film yang disutradarai oleh Kamila Andini dengan pembawaan cerita yang begitu dalam dan mengantarkan kita pada pesona laut di Wakatobi serta kearifan lokal suku Bajo. Pemandangan laut yang luar biasa indah membuat setiap para penontonnya merasa iri sekaligus takjub dan ingin berada disana. Bila dibayangkan lagi, melihat hamparan laut biru, perkumpulan ikan yang berenang indah, hingga terumbu karang yang seakan menyapa, tentu membuat kita ingin berlama-lama menatapnya.

Mengangkat kehidupan sehari-hari suku Bajo dan indahnya laut di Wakatobi. The Mirror Never Lies menceritakan tentang seorang gadis muda belia bernama Pakis. Sejak kehilangan Ayahnya, Pakis selalu terlihat murung dan kehilangan senyum. Pakis selalu berharap bahwa suatu saat Ayahnya akan kembali, ia selalu membawa sebuah cermin yang tidak lain adalah pemberian sang ayah. Terkadang jika ia sangat rindu dengan ayahnya, Pakis akan menghempaskan tubuhnya dan mengambang di lautan, untuk mencurahkan isi hatinya dan berharap laut bisa menyampaikan ceritanya kepada sang ayah. Sementara Ibunya lebih realistis. Tayung memilih menelan realita pahit akan kepergian suaminya, ia berusaha melanjutkan hidup seperti sedia kala, dan tak henti mencoba meyakinkan putrinya untuk melakukan hal yang sama.

Simbol dan informasi yang terkandung dalam film memang spesifik suku Bajo, namun di baliknya terkandung nilai-nilai yang dapat dipahami banyak orang. Dalam kasus ini, ada satu karakter yaitu Tudo sang peneliti Lumba-Lumba yang karakternya hampir tidak ada konteksnya. Dia memang memenuhi fungsi sebagai substitusi figur laki-laki yang lenyap dari keluarga Tayung dan Pakis. Profesinya sebagai peneliti lumba-lumba tidak didukung dengan penceritaan yang sejalan dengan narasi film. Adegan Tudo lebih menekankan aspek verbal, di mana Tudo menyampaikan beberapa pesan yang intinya tentang pelestarian lingkungan.

Film ini merupakan debut bagi Kamila Andini. Ia telah membuktikan pemahamannya akan medium film dan subyek yang ia filmkan. Ia tidak menyajikan gambar-gambar indah pemandangan Wakatobi sebagai ornamen untuk sebuah kisah kehilangan. Sebaliknya, ia meneropong ke dalam akar kehidupan suku Bajo, dan mengemasnya menjadi sebuah cerita tentang kehilangan di tengah suatu komunitas yang hidupnya bergantung pada laut.

Di balik cerita sendu sosok Pakis yang merindukan sang Ayah, juga kesederhanaan kehidupan suku Bajo, Mirror Never Lies menyuguhkan pesan kuat tentang konservasi budaya dan alam laut Indonesia yang harus selalu dilestarikan. Melalui adegan Tayung yang menjadikan rumput laut sebagai sumber mata pencahariannya, hal tersebut menjadi sebagian portrait bahwa laut dan budaya masih menjadi sebuah hal primer dalam bertahan hidup bagi suku Bajo. Melalui film ini, Kamila Andini mengajak kita semua untuk lebih menyadari pentingnya menjaga laut dan isinya. Tidak sekadar menyuguhkan pemandangan alam yang menakjubkan, namun, film ini juga serat akan tujuan, bahwa laut dan seisinya adalah kekayaan yang bukan bohongan.

Pada akhirnya film ini memaparkan keindahan  laut Wakatobi dengan kemasan rasa kehilangan dan pergelutan emosi yang dalam. Sebuah karya yang berbeda membuat film ini mempunyai posisi istimewa dari yang lain. Cara hidup, bahasa, dan juga lagu-lagu yang disajikan di film ini membuat keindahan laut Wakatobi semakin mempesona. Kamila Andini sukses membuat penonton takjub sekaligus terharu dengan “The Mirror Never Lies” nya.

(Ivany Hanifa R, Rizaldy Bagas, Maya Fahel Lubis, Tazkia Qalbi, dan Dhea Zahara)