Rano Karno kembali hadir di akhir bulan Maret ini. Mengangkat tema “ Perempuan Indonesia”, Rano Karno akan memutarkan film – film yang memerlihatkan potret lain kehidupan perempuan di Indonesia. Pemutaran berlangsung di Aula Student Center lt. 1 Fikom Unpad pada hari Kamis, 22 Maret 2018.

Pukul 16.00 Aula SC masih tenang dan sepi. Beberapa orang sibuk mempersiapkan hal – hal untuk pemutaran. Selang 5 menit, akhirnya satu persatu orang mulai berdatangan. Tepat pukul 16.30 pintu Aula SC di tutup. Pemutaran pun dimulai.

Film – film yang diputarkan adalah Of The Dancing Leaves (Digdaya Ing Bebaya) yang disutradarai Bw Purbanegara dan Tinuk oleh Aprilingga Dani. Sesi pertama pemutaran dibuka dengan film Of The Dancing Leaves (Digdaya Ing Bebaya) yang menceritakan tentang beberapa sosok nenek yang tinggal di sekitar kaki Gunung Merapi. Film ini memerlihatkan keyakinan dan kesederhanaan para nenek untuk tetap tinggal di sekitar kaki Gunung Merapi meski ancaman erupsi terus menanti.

Terdengar suara tepuk tangan ragu – ragu ketika credit film Of The Dancing Leaves (Digdaya Ing Bebaya) keluar. Tepuk tangan lainnya menyusul menandakan film pertama telah selesai. Sesi kedua memutarkan film berjudul Tinuk. Film ini menceritakan seorang ibu rumah tangga bernama Tinuk yang sangat ingin memiliki HP. Tinuk menuntut suaminya untuk membelikan HP tersebut, tetapi suaminya menolak.

Perilaku Tinuk dan suaminya membuat beberapa orang tertawa. Susana mendung dan gelapnya Aula SC mungkin menjadi sebuah godaan, untung saja tidak ada yang menyerah dan kemudian tidur. Hp mainan dengan bunyi “aiya iya” di akhir film Tinuk berhasil memecahkan sepinya suasana saat itu.

Sesi diksusi dimulai setelah pemutaran berakhir. Berikut adalah rangkumannya:

Diskusi dibuka dengan membahas film Of The Dancing Leaves (Digdaya Ing Bebaya). Banyak yang beranggapan bahwa film ini memang menawarkan sebuah kesederhanaan. Menariknya, kesederhanaan tersebut dapat mengantarkan penontonnya untuk lebih menghargai keyakinan – keyakinan orang tua (nenek – nenek di dalam film ini) yang tidak mau di evakuasi (biasanya di kaki Gunung Api Aktif).

Kita sering menganggap bahwa rumah relokasi memang dibuat pemerintah demi kebaikan orang – orang yang tinggal di sekitar gunung api aktif. Namun, film Of The Dancing Leaves (Digdaya Ing Bebaya) menawarkan langsung perspektif dari tiga nenek yang bertahan tinggal di kaki Gunung Merapi. Bagi para nenek, tempat tinggal mereka di kaki Gunung Merapi merupakan sebuah rumah: tempat untuk kembali. Mereka nyaman dengan kesederhanaan yang mereka dapatkan di kaki Gunung Merapi, seperti memetik daun pegagan untuk makanan dan obat. Di rumah relokasi, kehidupan seperti itu mungkin tidak bisa mereka dapatkan.

Film ini juga memerlihatkan sosok perempuan yang mandiri dan tangguh melalui sosok para nenek. Sosok perempuan yang sering dikonstruksikan cenderung bergantung pada laki – laki dipatahkan di dalam film ini.

Sayangnya, film Of The Dancing Leaves (Digdaya Ing Bebaya) subtitle bahasa inggris-nya  agak berat, sehingga sulit dimengerti. Dan kultur Jawa yang kental membuat penonton merasa agak jauh dengan keadaan di Jatinangor. Namun, tetap saja kesederhanaan di film ini tersampaikan dengan baik.

Film Tinuk juga memerlihatkan fenomena menarik, di mana korupsi dapat terjadi bahkan dari lingkup yang kecil, yaitu keluarga. Selama ini, kita sering tidak peka terhadap hal – hal kecil yang menjurus ke arah korupsi. Film Tinuk mengajak penontonya untuk lebih peka terhadap korupsi.

Di dalam film Tinuk, humor – humor yang ditampilkan cukup menghibur. Namun, acting para pemainnya agak terlalu dibuat – buat, sehingga terlalu terkesan komikal. Film Tinuk juga banyak memerlihatkan hal – hal kebetulan yang akhirnya membuat penonton merasa kurang related dengan film Tinuk itu sendiri. Misalnya, sosok Tinuk yang terus memakai kerudung walaupun di rumahnya sendiri (ketika tidak ada sales HP).

Berbeda dengan film Of The Dancing Leaves (Digdaya Ing Bebaya) yang memerlihatkan sosok perempuan tangguh dan mandiri, film Tinuk justru memerlihatkan hal sebaliknya. Sosok Tinuk diperlihatkan melalui kacamata budaya patriarki, dimana kepentingan perempuan hanya seputar tetek bengek rumah tangga. Tinuk masih sangat bergantung pada suaminya. Tinuk juga diperlihatkan sebagai seseorang yang tidak berdaya. Ketidakberdayaan tersebut terlihat dari bagaimana terpaan media televisi memengaruhi pola pikir Tinuk.

Kemudian, hal menarik lainya dari kedua film ini adalah perbedaan latar belakangnya. Salah satu faktor yang mendasari perbedaannya, yaitu organisasi atau institusi yang memang ikut andil dalam pembuatan kedua film tersebut. Hal tersebut melatarbelakangi bagaimana pembuat film mengemas ide dan pesan yang akan di sampaikan. Selain itu, perbedaan usia pembuat filmnya pun mungkin dapat memengaruhi cara pandang mereka dalam melihat sesuatu. Film Tinuk terlihat sederhana, tetapi sebenarnya sangat kompleks. Berbeda dengan Tinuk, film Of The Dancing Leaves (Digdaya Ing Bebaya) justru benar – benar menawarkan kesederhanaan.

Akhirnya, dua film ini sama – sama mengajarkan kita satu hal. Selama ini, kita terlalu nyenyak dininabobokan oleh keadaan yang seolah – olah baik – baik saja. Of The Dancing Leaves (Digdaya Ing Bebaya) dan Tinuk mengajak kita untuk bangun dari tidur nyenyak dan mulai melakukan perubahan.