Creed (2015) Duration: 2h 13m | Director: Ryan Coogler | Writer: Ryan Coogler, Aaron Covington | Cast: Michael B. Jordan, Sylvester Stallone, Tessa Thompson

Usaha tidak akan mengkhianati hasil. Klise banget yak? Tapi, di tangan yang tepat, kalimat klise sederhana seperti ini dapat menjadi film yang luar biasa. Contoh nyatanya adalah film Rocky (1976). Film ini menceritakan sosok Rocky yang harus melalui proses berat sebelum menjadi petinju luar biasa di atas ring. Begitu juga tentang percintaannya dengan Adrian. Sekalipun sekuelnya dianggap terlalu berlebihan dan tidak sesukses pendahulunya, tetapi pecinta film tidak bisa menyangkal bahwa Rocky adalah salah satu karakter paling ikonik yang pernah dilahirkan di industri perfilman.

Pada tahun 2015, Ryan Coogler merilis Creed dengan Michael B Jordan sebagai bintang utamanya. Film ini mengangkat kisah Adonis Creed (Michael B. Jordan), anak hasil perselingkuhan Apollo Creed, dalam menapaki karir sebagai petinju professional dengan bantuan Rocky Balboa (Sylvester Stallone). Dilihat lebih jauh, film ini menarik karena baik di depan maupun di belakang layar sama-sama membahas tentang pembuktian dan warisan. Why?

Titel sekuel membuat Creed tak bisa lepas dari bayang-bayang pendahulunya. Situasi serupa berlaku juga pada isi film ini. Adonis Creed dianggap sebagai petinju yang hanya ‘numpang’ nama besar ayahnya. Adonis ingin membuktikan bahwa anggapan itu salah dan ia berusaha melakukannya dengan bantuan Rocky sebagai mentor. Di sini, ada hal menarik untuk kita cermati, yaitu bagaimana usaha Ryan Coogler untuk menghidupkan suasana di dalam fiilm. Dia ingin membangun Creed sebagai sebuah film dengan identitas tersendiri, tapi masih dalam konteks sebuah sekuel. How?

Well, Coogler is a smart director. Dia mengadaptasi unsur-unsur yang membesarkan Rocky, dimodifikasi sedikit , lalu dibalutkan pada plot asli film Creed. Keputusan ini berefek ganda. Penonton lama Rocky tidak akan merasa mengulang film yang pernah ia tonton, sementara penonton baru bisa menikmati filmnya walau hanya berbekal sedikit pengetahuan tentang universe Rocky. Coogler sendiri membuat cerita Creed dengan sentuhan yang lebih ringan dan modern. Tidak ada lagi Rocky yang kaku dengan prinsipnya. Ia bertransformasi menjadi sosok ayah yang senang bertukar celoteh bersama Adonis (walaupun tetap serius di tiap sesi latihan). Tidak ada Adrian yang kuper dan pemalu, yang ada ialah Bianca (Tessa Thompson) yang pemberani dan penuh hasrat.

Menarik sekali melihat Coogler berusaha membuat perbedaan dalam pengisahan antara Creed dengan Rocky. Jika Rocky mengusung ciri khas film tahun 70-an yang lambat dalam membangun cerita dengan drama sebagai penopang utama, maka Creed melakukan pendekatan yang lebih modern. Tempo cerita dibuat naik turun. Ketika atmosfer cerita sedikit turun, Coogler akan menyelipkan humor, romansa, dan bahkan melebihkan adegan tinju baik itu ketika Adonis sedang berlatih atau bertanding. Ini berbeda dengan pendahulunya dimana adegan tinju yang benar-benar intens hanya terjadi di akhir film. Selain itu, adegan tinju di Creed terasa lebih nyata dan mencekam. Coogler dan sang DOP, Maryse Alberti, berani berimprovisasi, mereka menggunakan shot-shot jarak dekat, ikut berputar dan terguncang sesuai irama pertarungan, dan memamerkan darah yang bercucuran di ring.

Hal yang juga menarik ialah cara Coogler menghidupkan karakter-karakter di film ini. Perlu dicatat bahwa kebanyakan aktor yang berperan di film ini adalah anak-anak baru, kecuali Sylvester Stallone yang sudah nyaman memerankan Rocky. Creed memberikan kesempatan pada Michael B. Jordan dan Tessa Thompson untuk menjajaki dunia akting lebih jauh. Terutama Jordan yang memerankan Adonis. Dengan segala starter pack yang sudah disiapkan bagi karakter Adonis, baik latar belakang maupun tujuan hidupnya, Jordan berhasil menunaikan tugasnya dengan apik. Penonton bisa ikut bersimpati terhadap kisah hidupnya dan ingin ikut mendukung karir tinju seorang Adonis Creed ke depannya.

Well, karir Adonis bisa segera kalian dukung kembali karena Creed II akan segera hadir di layar lebar. Kita akan lihat, setelah Coogler dan Adonis berhasil melewati bayang-bayang Rocky dan Apollo Creed, bagaimana cara mereka untuk lepas dari stigma bahwa ‘sekuel tidak pernah lebih baik dari ori-nya’. Pembuktian? Bagi film Creed, hal itu tak pernah selesai jadi topik utama baik di depan maupun belakang layarnya.

 

Akhmad Mufti