Produksi : Bold Films | Negara : USA | Rilis : 15 Oktober 2014 | Produser : Jason Blum | Penulis Naskah : Damien Chazelle | Sutradara : Damien Chazelle | Pemeran : Milles Teller, J.K Simmons | Penghargaan : Nominasi “Best Picture” Academy Award 2015, Peraih “Jury Prize” Sundance Film Festival 2014

Meskipun gue tau film ini sejak 2014 ketika masuk nominasi Best Picture Academy Awards, film ini tetep nggak masuk dalam daftar watch list gue karena judulnya yang menurut gue kurang menarik dan terkesan sangat indie buat gue. Jadi, gue takut nggak sampe aja otak gue kalo nonton huhu. Alhasil, hal itu jadi salah satu penyesalan gue karena : I should’ve watched it earlier! Dan gue nonton baru tahun lalu. 2017. Tiga tahun telat tetap bikin gue menyesal kenapa melewatkan film sebagus ini. cry…

Whiplash adalah salah satu dari sekian film dengan formula skenario struktur 8 sekuen atau yang biasa disebut formula 3 babak. Struktur ini asalnya dari USC, dan biasanya jadi favorite sineas-sineas Hollywood pada dua dekade terakhir. Bagi yang penasaran struktur 8 sekuen itu gimana bentukannya, silakan nonton film-film Pixar dari Toy Story (1995) sampe yang terakhir gue tonton yaitu Coco (2017).

Lantas, apa hubungannya, Taz?

Gue yakin Damien Chazelle memilih struktur itu mungkin dengan misi melahirkan tokoh dengan karakterisasi yang kuat. Pembangunan dengan 2 karakter yang sama kerasnya mungkin agak tricky karena salah satu bisa kehilangan simpati penonton sehingga dianggap jadi villain. Tapi, pada karakter Whiplash, hal itu nggak terjadi.  Dengan pemilihan struktur se-matematis itu, Whiplash sukses membangun tensi dan karakter antara 2 orang yang sama kerasnya hingga bisa dibilang muncul chemistry, dan borong banyak banget penghargaan untuk kategori “Best Main Role” dan “Best Supporting Role” di berbagai kesempatan. Tentunya karakterisasi tersebut dimaksimalkan bener-bener sama Chazelle dalam naskah filmnya, termasuk dialog-dialognya.

Oke, pengenalan karakter Whiplash berawal dari seorang remaja ambisius bernama Andrew Neimann (Milles Teller) yang baru aja diterima di sekolah music konservatif bergengsi, Shaffer Conservatory, di New York City yang ketemu dengan guru yang abusive secara verbal saat sedang memainkan drum di salah satu studio. Fletcher (J.K Simmons) yang merupakan seorang guru musik bergegsi melihat permainan Andrew seraya ngajak dia ngobrol dengan ekspresi datar.

“What’s your name?”

“Andrew Neimann, Sir..”

“You know who I am?”

“Yes..”

“You know what I do?”

“Yes…”

“Then why did you stop playing?!”

Andrew yang kepedean didatengin guru kondang tsb jadi makin show-off. Main drumnya makin menjadi-jadi. Gue suka banget bagian ini karena ekspektasi gue terpatahkan dengan dialog yang asik banget. Pada awalnya gue dan penonton mungkin berekspektasi bahwa Fletcher menemukan bakat Andrew, dan Andrew ternyata sehebat itu. Tapi, kemudian…

“Did I say to start playing again?”

Woow!

Dari situ kita langsung tau bahwa Fletcher seorang yang sombong, dingin, congkak, tempramen, dan abusive dalam satu adegan beginning pertama. Pengenalan karakter yang smooth banget. Kemudian kita tahu bahwa Andrew adalah seorang yang sebenarnya naïve juga pada adegan pertama ini.

Pada act 1 kita mungkin bakal menyukai sosok Fletcher dan berfikir dia guru yang baik meskipun kasar. Inciting Insident dimulai, yaitu saat Andrew akhirnya dengan terpaksa menggantikan pemain drum karena kejadian hilangnya partitur. Andrew akhirnya melihat sosok Fletcher ternyata nggak seburuk itu karena ngebolehin dia gabung dengan band utama sekolah. Lagi-lagi ekspektasi terbantahkan. Gue kira treatment Fletcher akan beda dengan anak-anak band utama yang berbakat-berbakat itu. Ternyata lebih parah! Pertarungan antara Andrew dan Fletcher di mulai di sini. Andrew udah selangkah lagi menuju impian terdekatnya, yaitu bergabung dengan band utama sekolah. Sialnya, band tersebut dibawah arahan Fletcher sang konduktor psycho yang ngelemparin simba ke murid kalo salah tempo.

Pertanyaan muncul :

Bisakah Andrew bertahan pada impiannya jadi anggota band utama jika tiap hari harus berhadapan denger Fletcher yang ngamuk-ngamuk dan ngelemparin apapun yang bisa dilempar?

Jawaban tersebut diperjuangkan Andrew pada babak kedua cerita. Andrew rupanya sama kerasnya dengan Fletcher. Dia nggak menyerahkan impiannya menjadi Buddy Rich begitu aja kepada Fletcher yang maki hari makin sakit jiwa gue rasa. Bahkan Andrew nggak ragu buat ngelawan. Apapun ia lakuin buat tetep jadi bagian dari band. Kita akan mencintai sosok Andrew di babak ini.

Pada act 3, ada namanya “resolusi salah” yang merupakan plot point kedua pada cerita. Pada babak ini Andrew nyerah, dan ngaku kalah dari Fletcher. Namun, sebaliknya dan lagi-lagi ekspektasi terbantahkan. Ketika kita udah ngira Andrew nyerah dan nggak akan lanjutin mimpinya jadi musisi kemudian muncul Fletcher meminta maaf, dan kita kembali simpatik dengan Fletcher. Kita seketika berpikir :

he’s just trying to give his best to the students. He’s just tryina be a good teacher. Etc..

Transformasi akting dari antagonis ke protagonist yang believable banget. Yang paling bikin salut adalah kata-kata yang dikeluarin jadi manis parah. Berikut contoh kata-kata penjilat starter pack :

“There are no words in English language more harmful than Good Job”

Dan sebagainya. Pada babak ini kita jadi cinta Fletcher banget dan mulai mikir kalau Andrew adalah murid cemen yang nggak bisa survive. Jadi lah sebagai permintaan maaf Fletcher, Andrew diajak ikut konser orchestra Jazz milik Fletcher. Tanpa disangka itu adalah taburan genderang perang yang dimulai Fletcher. Film diakhiri dengan pertarungan mereka yang sebenarnya.

Secara garis besar film ini berbicara mengenai dua hal, mimpi dan pendidikan. Dengan karakterisasi yang kuat pada tokoh Fletcher membuatnya seakan-akan cerita ini memiliki 2 PoV yang believable, dan keduanya mendapat simpati dari penonton. Damien Chazelle berhasil membuat karakterisasi yang netral pada kedua tokoh penting ini karena berhasil membuat penonton—seenggaknya gue—nggak menilai Fletcher adalah guru yang buruk, atau Andrew murid yang tidak hormat. Meskipun kalau dipikir dengan akal sehat keduanya salah dan sangat wajar kalau dibenci penonton. Tapi itu tidak terjadi. Gue seakan setuju dengan keduanya, gue seakan membenarkan kekasaran Fletcher dan ketidaksopanan Andrew karena mereka terlalu believable. Mungkin itu tujuan film ini dibuat. Untuk memanipulasi pikiran penonton dengan ceritanya dan karakter-karakternya yang kuat. Mungkin itu pesannya, bahwa hidup ini memang penuh manipulasi, termasuk pada dunia pendidikan yang kerap jadi mesin penghancur mimpi-mimpi.

 

Tazkia Qalbi