Throne of Blood (1957) Duration: 1h 50m | Director: Akira Kurosawa | Writer: Hideo Oguni, Shinobu Hashimoto, Akira Kurosawa | Cast: Toshirô Mifune, Isuzu Yamada, Minoru Chiaki | Country: Japan

 

          Akira Kurosawa, sang maestro dikenal dengan film-filmnya yang kebanyakan bertemakan samurai atau berlatar zaman feudal Jepang. Banyak karyanya yang sangat diapresiasi di dunia belahan Barat. Bahkan karya-karyanya banyak memberikan pengaruh dan inspirasi kepada sineas-sineas terkenal dunia, seperti Satyajit Ray (India), John Woo (Hongkong), dan Steven Spielberg (Amerika). Penghargaan internasional telah diraihnya termasuk Piala Oscar. Kepiawaiannya mengolah budaya Jepang dengan sangat kuat dalam film sampai saat ini belum ada tandingannya.

     Throne of Blood (Kumonosu-jô) adalah film yang menceritakan seorang jendral bernama Taketoki Washizu (Toshirô Mifune)  yang setia kepada rajanya baru saja meraih kemenangan atas pertempuran yang terjadi di kastilnya. Saat dalam perjalanan untuk menemui sang raja, ia tersesat di hutan dan bertemu dengan sesosok misterius yang memprediksi nasib Washizu di masa depan. Ketika salah satu prediksinya menjadi nyata ia dihadapkan dengan desakan istrinya yang berambisi untuk membuat Washizu melakukan suatu kudeta terhadap rajanya yang nantinya akan memenuhi prediksi lainnya menjadi kenyataan.

     Throne of Blood  yang diangkat dari naskah Stageplay “Macbeth” karya William Shakespeare disebut-sebut sebagai adaptasi terbaik di antara adaptasi lainnya. Film ini dibuat pada tahun 1956 dan dirilis pada Januari 1957 dan mendapat tanggapan luar biasa di benua Amerika dan Eropa.

    Sebagai salah satu film adaptasi yang sukses dalam menafsirkan dan menerjemahkan naskah Macbeth ke dalam bentuk dan budaya yang berbeda. Cara pengemasan Kurosawa dalam mengadaptasikannya ke versi sinematik Jepang sangat pas dan terasa original. Ditambah dengan, Akting para pemainnya yang menggunakan teknik bergaya teater (teater tradisi Jepang).

Dengan latar pada masa kepemimpinan Oda (periode Sengoku), dirasa sangat cocok dengan cerita Macbeth, karena ketika saat itu masih banyak peperangan dan pemimpin daerah yang saling berebut kekuasaan.  

     Gambaran karakter seorang jenderal Washizu yang mulanya setia kepada pemimpinnya dan perlahan menjadi sosok yang tergiur dan haus akan tatah begitu sangat halus dan terlihat sangat manusiawi atau bisa dibilang realita. Tidak lupa dengan sosok dibalik itu semua yaitu istrinya yang tidak hentinya menghasut Washizu untuk merebut tahta. Emosi dari karakter seperti kegugupan dan kekacauan pikiran Washizu dimunculkan dengan adegan Washizu berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya, tanpa berdialog, tetapi gestur dan ekspresi wajahnya terlihat kaku dan tegang. Intensitas akting yang penuh ketegangan ini membuat suasana terlihat mencekam.

Salah satu yang menarik dari film ini yaitu, Kurosawa memang tidak menghilangkan unsur penceritaan yang sangat essensial dari Macbeth seperti situasi klasik dalam penceritaan. Dialog dan karakter yang muncul menciptakan situasi yang bertentangan sehingga menghasilkan konflik, baik itu konflik moral dan emosional yang terjadi dalam diri tokoh maupun konflik fisik yang terjadi sebagai akibat dari sebuah interaksi dari aksi dan reaksi.

Sama halnya seperti film-film “perang” lainnya. Prajurit digambarkan sebagai boneka yang menunggu untuk digerakan, Contohnya terlihat dari sudut pandang Washizu yang sama sekali tidak memikirkan keberadaan prajurit atau seperti memandang rendah derajat mereka. Yang ia tahu bahwa prajurit akan mengikuti perintah siapapun selama seseorang itu adalah pemimpin di pihak mereka. Namun menjelang film berakhir hal yang bertentangan ditonjolkan ketika para prajurit menolak berperang demi Washizu dan menyadari kalau dialah yang membunuh raja mereka sebelumnya dan menganggap Washizu sudah menjadi gila. Di bagian ini, seperti ditunjukkan bahwa prajurit bukanlah sekedar manusia yang melakukan apapun demi pemimpinnya dan mereka tentu dapat memikirkan diri mereka sendiri.

Throne of Blood memang bukan yang terbaik dari karya-karya Kurosawa. Tetapi setidaknya film ini memili keunikan yang mencirikan sentuhan Kurosawa seperti komedi-komedi klasik dari pergerakan ataupun dialog. Salah satu film klasik yang berpengaruh di dunia perfilman karena menginspirasi banyak film.

Rizaldy Bagas