MARS (Do Not Pee Randomly) (2017) Durasi: 20 menit | Sutradara: Muhammad Maharwi | Penulis Naskah:  Yolanita Varensia | Pemain:  Kelvin Valerian, Putri Emiliardillah | Negara: Indonesia

 

Kalau sudah berhubungan dengan luar angkasa, gue sering merasa ada diri gue yang berumur 12 tahun  terjebak di dalam tubuh 21 tahun ini. Gue ingat banget betapa gilanya gue ingin menjadi astronot saat umur 12 tahun. Dan tentu saja gue gak akan lupa bagaimana akhirnya gue mengundurkan diri untuk menjadi astronot, karena gue takut naik roket. Saat itu (dan sampai sekarang), gue berpikir bisa gak sih sampai keluar angkasa tanpa perlu diputar-putar dengan posisi tubuh tegap menghadap ke atas? Kemudian, lepas landas dengan kecepatan tinggi?  Karena demi galaksi bima sakti, gue takut ketinggian .

Berbeda dengan gue, sosok Ipul di dalam film MARS (Do Not Pee Randomly) bisa dibilang cukup hoki. Ipul gak perlu roket untuk meninggalkan bumi menuju luar angkasa. Bahkan Ipul dapat menginjakan kaki di planet Mars hanya dengan modal Rp.500.000. Ingin rasanya diriku berkata kepada Ipul “ajak gue bisa kali”.

Ipul adalah siswa SD berumur 12 tahun yang beseran. Ilmu Pengetahuan Alam menjadi pelajaran favorit Ipul. Suatu hari, sekolah Ipul mengadakan study tour ke planet Mars. Dengan biaya hanya Rp.500.000, Ipul dan teman-temanya sudah bisa sampai di Mars. Perjalanan study tour mereka pun cukup menyenangkan. Hal ini dikarenakan mereka menggunakan Bus APDG (Antar Planet Dalam Galaksi) untuk sampai ke Mars.

Film MARS (Do Not Pee Randomly) mengangkat isu masa depan, di mana ada rumor pada tahun 2040 akan banyak manusia yang berbondong-bondong pindah ke planet Mars. Katanya sih, bagaimana isu ini bisa tercetus, karena adanya anggapan bahwa bumi sudah rusak dan gak layak lagi untuk menjadi tempat tinggal manusia. Makannya, para ilmuan mencari tempat alternatif, yaitu planet Mars. Sang sutradara, Muhammad Maharwi keren, karena dia mengangkat isu ini menjadi tema untuk filmnya. Karena seperti yang gue tahu (dengan tingkat ke-sok-tahu-an level middle up), jarang banget film-film Indonesia yang mengangkat isu futuristik, apalagi untuk film pendek.

Ada banyak hal menarik yang ditawarkan film MARS (Do Not Pee Randomly). Salah satunya yang paling mencolok adalah kekuatan dari kearifan lokal di film ini. Kearifan lokal di film ini digunakan untuk membungkus kesan dan suasana ‘masa depan’ (dalam konteks penggunaan teknologi canggih). Jadi, buat gue yang berpikiran Indonesia di ‘masa depan’ setting-nya bakal kayak Black Mirror ataupun The Martian, gue salah total. Film MARS (Do Not Pee Randomly)  memberikan gue sebuah gambaran yang gak pernah gue bayangin, yaitu Indonesia di ‘masa depan’ dengan versinya sendiri.

Di film MARS (Do Not Pee Randomly), kemajuan teknologi digambarkan melalui daerah pinggiran. Yak, lagi-lagi implant akan gambaran ‘masa depan’ yang ditanam di otak gue salah. Selama ini, gue sering berpikir bahwasannya kemajuan teknologi akan lebih mudah diserap oleh masyarakat urban. Warung sembako, bus APDG (Antar Planet Dalam Galaksi) yang menyerupai metro mini, dan sawah yang terbentang luas menjadi setting masa depan di film MARS (Do Not Pee Randomly). Adapun dihadirkan gambaran sekolah yang besar dan modern agar menjadi sebuah penghubung logika antara setting daerah pinggiran dengan ‘masa depan’ (dalam konteks penggunaan teknologi canggih). Pernah dengar kan bahwa pendidikan itu indikator kemajuan bangsa?

Penggunaan bahasa daerah dan musik dangdut yang futuristik (semacam ada efek kayak di lagu-lagu modern rock) pun makin membuat gue dapat membayangkan Indonesia di masa depan dengan gayanya sendiri. Karena film ini berasal dari Yogyakarta, gak heran jika banyak lelucon-lelucon yang dekat dengan kehidupan masyarakat Yogyakarta, seperti suara knalpot racing ala-ala yang keluar dari UFO. Walaupun kadang gue gagal paham, tapi akhirnya gue masih tetap menikmati lelucon-lelucon di film ini.

Tidak hanya kearifan lokal, film MARS (Do Not Pee Randomly) juga banyak mengajarkan banyak hal. Berikut adalah 3 pelajaran dari Mars yang dikirim ke Bumi:

  1. Berani untuk bermimpi. Dengan memberikan gambaran bahwa untuk pergi dan sampai ke planet Mars tidak perlu repot-repot, film MARS (Do Not Pee Randomly) mengajak gue dan anak-anak seusia Ipul untuk benar-benar bebas bermimpi. Karena dengan pemikiran masyarakat yang kadang terlalu mengatasnamakan rasional, justru berujung pada gak boleh ini, gak boleh itu, dan akhirnya membuat gue serta anak-anak lainya terbentuk pola pikirnya. Gue jadi gak berani untuk membayangkan bahwa mungkin saja suatu saat gue bisa pergi keluar angkasa tanpa roket. Baiklah, mulai sekarang gue akan membayangkan diri gue pergi keluar angkasa dengan taksi alphard .
  2. Cintai bumi. Ada satu adegan di film ini, di mana Ipul dan temannya bercakap tentang tinggal dan hidup di planet Mars. Di situ gue bisa menarik kesimpulan, bahwasannya wacana untuk pindah ke planet Mars sebenarnya hanyalah sebuah upaya untuk menutupi ketakutan manusia pada fakta bahwa bumi sudah tua. Padahal, kalau dipikir-pikir yang menyebabkan kerusakan di bumi adalah kita. Oleh karena itu, yang dapat menghentikan kerusakan dan memelihara bumi pun bukanlah alien-alien planet Mars, tapi kita, manusia bumi.
  3. Cintai Indonesia. Klise tapi penting. Jangan terlalu mengukur dan membandingkan Indonesia dengan negara-negara penghasil Black Mirror dan Guardian of The Galaxy. Coba dengarkan kata Sherina deh, untuk melihat segalanya lebih dekat. Gue jamin, saat itu juga kalian bakal sadar betapa gak kalah kecenya Indonesia dengan negara-negara tersebut.

Akhirnya, mimpi sewaktu gue kecil pun terwujud dengan hanya berdurasi sekitar 20 menit. Rasa senang yang benar-benar gak bisa gue gambarkan. Karena gak hanya pertunjukan bintang Planetarium yang bisa membuat gue merasakan serunya perjalanan luar angkasa, film MARS (Do Not Pee Randomly) pun berhasil membawa gue pergi keluar angkasa dengan bus APDG-nya.

 

Dhea Zahara Sari