Le Grand Voyage (2004) Duration: 1h 48m | Director: Ismaël Ferroukhi | Writer: Ismaël Ferroukhi | Cast: Nicolas Cazalé, Mohamed Majd

 

Awal mulanya memilih film ini karena saya sangat menggemari film Indonesia berjudul Mencari Hilal karya Ismael Basbeth. Namun kemudian salah satu dosen di kampus merekomendasikan film Le Grand Voyage, yang menurut beliau film tersebut memiliki formula-formula yang sepertinya diikuti oleh film Mencari Hilal, walaupun sebenarnya cerita keduanya lumayan berbeda (dengan banyak juga kemiripan). Atas dasar rasa penasaran, maka saya mencoba menonton film ini.

 

Le Grand Voyage menceritakan tentang perjalanan anak yang mengantarkan ayahnya untuk pergi naik haji ke Mekkah melalui perjalanan darat dari negara asal mereka, Perancis, sedangkan Mencari Hilal tentang seorang anak yang terpaksa menemani ayahnya untuk melihat hilal pertama, penentuan awal mula Ramadhan karena ayahnya kesal dengan kenyataan bahwa pemerintah menghabiskan biaya yang terlalu besar untuk melaksanakan sidang isbat.

 

Menyabet best film pada Mar del Plata Film Festival, film ini bertutur dengan cara film Perancis pada umumnya. Ismael Farroukhi mengemas generation gap antara Reda (Nicolas Cazalé) dengan ayahnya (Mohamed Majd) menjadi sangat menarik. Mungkin itu adalah salah satu formula yang diikuti oleh Ismail basbeth dalam Mencari Hilal, kedua anak tersebut sama-sama terpaksa dalam menemani perjalanan ayahnya. Kedua film tersebut mengangkat hubungan antara ayah dan anak yang tidak begitu dekat namun masing-masing dari mereka diam-diam sangat peduli akan satu sama lain.

 

Perjalanan menuju Mekkah untuk mengunjungi Rumah Allah sebelum ajal tiba, itulah misi utama yang menjadi alur cerita di film ini. Persitegangan antara Reda dengan ayahnya dimulai ketika kakak Reda yang seharusnya mengantar ayahnya untuk pergi haji dicabut SIM-nya oleh polisi karena berkendara sambil mabuk, sehingga ayahnya meminta Reda yang menggantikan kakaknya untuk mengantar beliau sampai di Mekkah, yang berjarak ribuan kilometer dari Perancis. Permasalahannya, saat itu adalah kesempatan terakhir bagi Reda untuk mengikuti ujian akhir nasional karena tahun lalunya ia telah gagal melewatinya. Reda marah ayahnya, namun tidak membantah permintaan beliau.

 

Mereka melalui banyak negara, antara lain Italia, Turki, Slovenia, Yugoslavia, dan negara-negara lainnya. Sepanjang film, Ayah Reda selalu izin kepada anaknya jika ia ingin menunaikan sholat fardhu. Dan Reda tidak pernah ikut mengikuti ayahnya sholat, bahkan ketika mereka telah sampai di Mekkah. Dalam perspektif saya, ayah Reda yang seorang imigran muslim (Maroko) di negara minoritas muslim (Perancis) sulit ketika harus mendidik anaknya dengan cara yang islami karena kultur yang sangat berbeda di tempat asalnya.

 

Salah satu adegan favorit saya ketika Reda menerobos para Jemaah haji dengan pakaian miliknya yang sangat mencolok – kaos kuning dengan setelan jeans ditengah lautan putih baju ihram. Film ini merupakan film non dokumenter pertama yang diijinkan mengambil gambar di Mekkah pada musim Haji. Sang sutradara mengatakan bahwa ketika mereka berada di sana, tidak ada yang melihat kearah kamera. Orang-orang bahkan seolah tidak tahu ada kru film di sana. Mereka benar-benar seperti berada di dunia yang lain dengan di bumi.

 

Kisah dalam film ini tidak menggurui seperti layaknya film-film “dakwah” yang denga mudah kita dapati di tanah air. Banyak pelajaran hidup yang dapat diambil dari film ini, yang setelah saya tonton entah kenapa saya tidak bisa menyamakannya dengan Mencari Hilal. Film ini memberikan perasaan yang berbeda dengan yang saya dapatkan dari film Mencari Hilal. Kalian harus mencoba untuk menonton keduanya tanpa perlu membandingkan satu sama lain, karena konteks kedua film tersebut cukup berbeda. Namun satu yang pasti, Heli dan Reda sama-sama mengalami perjalanan yang benar-benar mengubah hidup mereka.

 

Safina Zora