Of Gods and Men (2010) Duration: 2h 2m | Director: Xavier Beauvois | Writer: Xavier Beauvois, Étienne Comar | Cast:  Lambert Wilson, Michael Lonsdale | Country: France

 

Psalm 82 : 6-7 NIV (New International Version)

“I said, ‘You are “gods”;
you are all sons of the Most High.’
But you will die like mere mortals;
you will fall like every other ruler.”

Itulah kata pengantar atau pembuka dari film yang sudah memenangkan Grand Prix Festival Cannes tahun 2010. Film yang disutradarai oleh Xavier Beauvois bercerita tentang kejadian nyata yang terjadi di kota Tibhirine, Algeria. Di film ini, kita mengikuti perjuangan dan cobaan batin yang dialami oleh para biarawan semenjak munculnya tetoris yang mengancam mereka. Akibatnya, muncul kegoyahan hati apakah mereka meninggalkan misi mereka yang sudah diamanatkan Tuhan atau pergi begitu saja?. Semua itu ditentukan oleh Christian, yang dimana merupakan ketua dari biara tersebut. Di sini imannya akan diuji, apakah dia pantas disebut sebagai Gembala dan menuntun mereka ke jalan yang benar.

Menurut saya, film ini bukan hanya bercerita tentang perjuangan Kristiani dalam menanggapi perintah tuhan, tapi secara umum bercerita tentang cinta kasih. Di zaman yang canggih ini, sikap yang paling menonjol adalah Sikap Individualisme. Beverly Jenkins, seorang penulis novel terkenal pernah berkata :

Love is hard work. As much as I loved my husband, there were days when I wanted to bury him in the backyard”

Di film ini, kita bisa melihat kenapa para biarawan itu ingin pergi sebelum teroris itu datang. Mereka takut perbuatan yang dilakukan teroris akan terjadi kepada mereka. Oleh karena itu, Iman mereka yang berlandaskan cinta kasih mulai goyah. Mereka mulai berpikir “Untuk apa membantu umat lain jika pada akhirnya justru memberikan kematian?”. Itulah tema yang ada di film ini, yaitu “Apakah kita tetap dapat mencintai dan memaafkan seseorang dari perbuatan yang sudah mereka lakukan atau bahkan yang baru akan mereka lakukan?”

            Tema film ini bukanlah hal yang asing lagi bagi kita,  karena setiap hari kita pasti menjalaninya. Sebagai contoh, di lingkungan pekerjaan, sekolah, ataupun sosial kita pasti memiliki teman dan musuh. Jika dipikir-pikir, untuk apa kita harus memaafkan mereka yang sudah berbuat jahat kepada kita? Justru kita malah berharap bahwa kejahatan tersebut menimpa mereka lebih berat. Apakah buruk untuk berharap sedemikian rupa? Tapi, kita harus berpikir juga bahwa cinta itu bukanlah hanya soal pemikiran, tapi soal ketulusan.

Karakter di dalam film ini merupakan cerminan diri. Kita tahu bahwa Christian merupakan seseorang yang patuh akan panggilannya kepada Tuhan, tapi dia perlu menyakinkan itu kepada teman-temannya. Christophe merupakan seseorang yang sudah tidak percaya lagi akan misinya, kenapa dia berada di sini hanya untuk dibunuh, maka dari itu dia harus mencari jawabannya lewat perjuangan mereka. Karakter lain juga merupakan cerminan tema itu sendiri.

Kita dapat melihat keadaan saat ini, dimana banyak sekali kejadian yang sering membawa dan merusak citra agama. Bahkan banyak sekali orang yang meninggikan agama mereka diatas segalanya. Padahal, pada dasarnya, kita sebagai manusia, diciptakan untuk hidup bersama dan saling membantu tanpa memandang ras, suku bahkan agama.

Di awal film ini, kita sudah disajikan dengan dunia yang memang sudah pada esensinya, yaitu dunia yang penuh kasih, dimana para Pastor membantu warga sekitar yang menganut agama lain. Namun, hal itu harus hancur karena segelintir orang yang mencoba merusak agama tersebut. Pada akhirnya, hal tersebut membuat ketidakpercayaan antar agama. Akibatnya, cinta dan kasih sayang manusia harus dihancurkan oleh kebencian yang disebarkan sekelompok orang yang mengatasnamakan agama. Untuk itu, sebagai manusia, kita ditantang untuk memilih percaya akan ajaran sesat atau mengasihi sesama. CInta kasih ini tidak terbatas pada apakah mereka sama dengan kita. Karena pada dasarnya, setiap ajaran agama adalah tentang mengasihi seluruh umat di muka bumi ini.

            Maka dari itu, film ini bukan memberikan kita jawaban, melainkan mengembangakan pertanyaan dari tema yang diangkat. Kita diberikan sebuah kasus, dan kita menentukan sendiri jawabannya. Pada akhirnya, walaupun kita kaya, berkuasa, dan kuat, sejatinya kita adalah sama, yaitu makhluk ciptaan-Nya yang akan mati, sesuai Amsal 82.

 

Zefanya Ferdinand Simon