Loving Vincent (2017) Duration: 1h 35m | Director: Dorota Kobiela & Hugh Welchman Writer: Dorota Kobiela, Hugh Welchman, Jacek Dehnel Cast: Robert Gulaczyk, Douglas Booth, Jerome Flynn, Saoirse Ronan, Helen McCrory, Chris O’Dowd, John Sessions, Eleanor Tomlinson, Aidan Turner.

 

The truth is I am not important. You want to know so much about his death. But, what do you know about his life?

 

Layaknya film klasik Citizen Kane (1941) yang berusaha untuk menguak misteri kematian tokoh utamanya menggunakan sudut pandang ‘outsider’ yang bertindak layaknya seorang detektif. Film ambisius yang melibatkan ratusan seniman dengan 5000+ frame lukisan yang digambar secara manual ini mengangkat rumor-rumor tentang kematian tokoh utamanya Vincent van Gogh. Serta disaat yang sama menguak bagaimana kisah hidup sang seniman. Melalui tipe penceritaan ini, penonton diajak untuk merasakan dua sisi dari Vincent van Gogh yaitu sebagai Vincent, subject yang berjuang untuk fit-in dalam memenuhi ekspektasi sosial terhadapnya. Dan van Gogh, object yang dipersepsi orang-orang disekitarnya.

Satu tahun setelah kematian Vincent van Gogh. Armand Rouline, seorang putra pengantar surat diberi misi untuk menyampaikan pesan terakhir sang seniman kepada keluarga yang ditinggalkan. Sesampainya di Paris, ia mengetahui bahwa surat tersebut ditujukan kepada orang yang telah tiada pula. Rouline, yang tidak mungkin mengembalikan surat tersebut kepada ayahnya kemudian mendedikasikan perjalanan tersebut untuk mencari siapa yang pantas untuk menerima surat tersebut. Perjalanan yang ia tempuh menguak satu persatu perspektif orang-orang terhadap van Gogh, terutama di saat-saat terakhirnya. Hal ini membuat Rouline yang pada awalnya menolak untuk mengantarkan surat tersebut, mengenal dan berada dalam titik Loving Vincent.

Loving Vincent, mengajarkan kita untuk mau mendengarkan dan melihat apa gambar yang lebih besar dari garis-garis kehidupan yang kita pilih. Sebagai subjek dari penceritaan film ini. Kita dibawa untuk memahami latar belakang Vincent yang telah dicap sebagai ‘failure’ berjuang untuk memperoleh kewarasannya kembali setelah runtutan kegagalan yang membuatnya depresi. Perjalanan filsafatis Vincent van Gough dalam menghadapi ketakutan-ketakutannya tersebut diungkap dengan baik melalui surat yang dibaca Rouline saat perjalanan pulang. Di satu sisi, surat terakhir yang ia tinggalkan tersebut mengindikasikan tindak bunuh diri sebagai hal yang glorified namun di sisi lainnya, ia membuka cara pandang lain terhadap kematian, dimana kematian dianggap bukan sebagai hal yang menakutkan ataupun buruk dan bahkan lebih pasti daripada kehidupan.

Sebagai objek, Audience melalui Rouline yang sama-sama tidak mengenal Vincent van Gogh secara langsung pada hidupnya, dibawa untuk membayangkan sosok van Gough berdasarkan persepsi orang-orang yang pernah berinteraksi langsung dengan sang seniman. Setiap tokoh yang diwawancarai Rouline, menggambarkan sosok Vincent van Gogh sebagai sosok yang berbeda-beda. Dinamika impresi yang ditinggalkan oleh Vincent terhadap orang-orang tersebut acapkali berkontradiksi satu sama lainnya. Hal ini membuat penggambaran Vincent van Gogh terasa lebih kompleks dan human-like. Penonton diberikan kebebasan untuk mengartikan perbedaan persepsi tiap individu tersebut untuk merekonstruksi siapa itu Vincent van Gough.

Layaknya spiral-spiral turbulance yang memberi ilusi gerakan dalam gaya lukisan Vincent van Gogh, penceritaan dari film ini mampu membuat hati kita tergerak untuk berpikir terlebih dahulu terhadap dampak apa yang akan disebabkan oleh tindakan yang akan kita ambil. Disaat yang sama, visualisasi film yang sangat unik berhasil membuat film ini menjadi sayang untuk dilewatkan. Loving Vincent memberi gejolak harapan bagi penontonnya serta membuka opsi bagi audience untuk menentukan sendiri bagaimana van Gogh meninggal, siapa yang berkata jujur, dan yang terpenting siapa itu Vincent van Gogh?

 

Ivany Hanifa R