Full Metal Jacket (1987) | Director: Stanley Kubrick | Writer: Stanley Kubrick, Gustav Harford, Michael Herr | Cast: Matthew Modine, Adam Baldwin, Vincent D’ Onofrio, R. Lee Ermey | Duration: 116 min

 

“76,2 mm. Full Metal Jacket…”

Dengan mental yang telah hancur, Gomer Pyle alias Leonard Lawrence mengisi senapan di hadapan Joker, sebelum menggila dan *piiiip* (spoiler sensor). Itu tadi adalah secuplik scene dari film Full Metal Jacket dari Stanley Kubrick. Film yang diadaptasi dari novel The Short Timer karya Gustav Hashford ini menceritakan tentang kesatuan marinir yang dilatih khusus untuk dikirim ke Perang Vietnam pada paruh awal film. Sedangkan pada paruh kedua, cerita beralih pada situasi perang yang penuh kekacauan.

Sebagaimana layaknya film yang diadaptasi dari novel, aspek yang paling menonjol dari film ini adalah plot ceritanya. Dengan cerita yang berbeda di paruh awal dan akhir film, Kubrick tetap dapat menyajikan kompleksitas dari tiap-tiap cerita sekalipun menggunakan pendekatan yang berbeda. Pada cerita pertama ketika Joker dan yang lain mendapatkan pelatihan militer di Pulau Paris Bersama Sersan Hartman, Kubrick menggambarkan segala aspek dalam ceritanya secara runut. Para calon prajurit digambarkan memiliki sikap yang sama rata, kecuali Joker dan Gomer Pyle. Joker digambarkan sedikit melawan, sementara Pyle adalah calon prajurit terbodoh dalam kesatuan. Dengan latar belakang yang sempit, tempat pelatihan, Kubrick menghadirkan berbagai macam situasi dari berbagai macam pengulangan adegan. Misalkan adegan lari pagi, latihan, atau adegan di dalam bangsal kamar prajurit. Persis seperti latihan militer yang terus diulangi sepanjang harinya. Tapi, Kubrick tidak membiarkan adegan-adegan tersebut membosankan. Ia menjadikan tiap adegan bermakna. Scene sebelumnya akan menjadi batu pijakan untuk scene selanjutnya secara utuh tanpa ditutup-tutupi. Karena itu, penonton akan mudah memahami alasan Pyle saat menutup paruh pertama film dengan adegan yang membuat bulu kuduk merinding.

Masuk ke paruh kedua, latar belakang sudah berganti dengan situasi perang. Joker yang ditugaskan sebagai jurnalis perang, bertemu dengan Rafterman dan juga kawan lama semasa pelatihannya, Snowball pada perjalanan menuju Phu Bai. Joker pada akhirnya masuk kesatuan yang dipimpin oleh Snowball bersama Animal Mother si gila perang. Di paruh kedua ini, Kubrick melakukan pendekatan berbeda dengan lebih fokus pada karakter Joker sejak menit pertama. Sehingga dapat ditebak bahwa akhir film ini pasti berkaitan langsung dengan Joker, hal yang tidak terlalu kentara di paruh awal karena adanya keterlibatan Pyle dan Sersan Hartman secara langsung pada cerita. Sedangkan, di paruh kedua ini, karakter lain terasa kurang hidup atau hanya sekedar jadi penyambung cerita saja. Rafterman, Snowball, tidak terasa sekuat Pyle dan Sersan Hartman. Animal Mother memiliki karakterisasi terbaik di paruh kedua ini, tapi terasa dangkal karena dia hanya digunakan sebagai penggambaran tantara gila perang atau tak punya hati yang sekedar senang menembaki musuh di depan mata.

Dapat dikatakan, cerita dalam Full Metal Jacket benar-benar tergarap rapi. Tetapi, satu hal yang benar-benar menonjol dalam build-up cerita film ini adalah akting. Akting tiap pemain benar-benar solid dari awal hingga akhir. Terutama akting Vincent D’ Onofrio sebagai Pyle dan Lee Ermey sebagai Sersan Hartman. Keduanya mencuri panggung sekalipun tidak muncul hingga akhir film. Matthew Modine yang berperan sebagai Joker pada dasarnya tidak jelek, tetapi ia tidak cukup kuat sebagai pemeran utama.

Sebagai sebuah film perang, sinematografi Full Metal Jacket cukup baik, tapi tidak terasa istimewa.  Begitu juga dengan skala kehancuran yang digambarkan film ini. Cukup bagus, tapi tidak sehebat Apocalypse Now-nya Francis Ford Coppola yang mampu menggambarkan tragedi dan kehancuran bersamaan dengan keindahan alam Vietnam (walaupun syutingnya dilakukan di Filipina). Untuk soundtrack dalam film ini benar-benar bagus dan sesuai dengan situasi yang diiringi. Mulai dari Hello Vietnamn-nya Johnnya Wright hingga Paint It Black-nya Rolling Stones di credit title. Bahkan, lagu Paint It Black ini sebenarnya cukup menggambarkan apa inti dari film ini.

Overall, Full Metal Jacket adalah film perang yang keren banget. Mungkin, di akhir akan ada beragam penafsiran tentang apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh film ini, tapi kekuatan yang ditonjolkan sepanjang film pasti akan mampu menghipnotis penonton dan membuat penonton terbawa karena solidnya eksekusi yang dilakukan Kubrick pada film yang satu ini.

 

Akhmad Mufti