Captain Fantastic (2016) | Duration: 1h 58m | Director: Matt Ross | Writer: Matt Ross | Cast: Viggo Mortensen, Frank Langella, Kathryn Hahn, Steve Zahn

 

Tidak seperti judulnya, film ini tidak mengisahkan tentang superheroes dari klan Marvel maupun DC. Diluar dugaan, film ini berbicara tentang keluarga. Kita akan diperlihatkan keteguhan Viggo Mortensen, yang dalam film ini memerankan Ben Cash, figur seorang ayah yang melawan arus utama dalam dunia parenting. Ia melarang anak-anaknya untuk mengikuti jenjang pendidikan formal dan mengunci kehidupan keluarga mereka dari berbagai pengaruh dunia luar. Keluarga mereka tinggal di tengah hutan, membekali anak-anaknya dengan kemampuan berburu dan panjat tebing, bahkan mereka tidak merayakan beberapa hari raya yang biasa diperingati keluarga lain di Amerika, misalnya natal. Ben berfikir untuk apa merayakan figur kakek magis berjanggut panjang yang jelas tidak riil keberadaannya. Mereka memilih tanggal lain untuk diperingati, seperti ulang tahun dari seorang aktivis HAM, Noam Chomsky.

Meskipun tidak mengenyam pendidikan formal, anak-anak Ben yang bernama unik; Bodevan (George MacKay), Kielyr Cash (Samantha Isler), Vespyr Cash (Annalise Basso), Rellian Cash (Nicholas Hamilton), Zaja Cash (Shree Crooks), dan Nai Cash (Charlie Shotwell) memiliki kadar intelek yang tinggi. Hal ini diperlihatkan pada anak pertama nya yang secara sembunyi-sembunyi mencoba mendaftarkan dirinya pada beberapa universitas top dunia dan berakhir pada Harvard, Princeton, Yale, Standford dan Brown berebut mengirimkan permintaan agar Bodevan menjadi mahasiswa di universitas mereka. Atau ketika salah satu anaknya membaca buku Lolita karya Vladimir Nabokov, Ben tidak seketika panik. Ia malah bertanya bagaimana pendapat anaknya setelah membaca buku “terlarang” bagi usianya itu, dan anaknya memberikan sudut pandang yang menggemaskan. Secara gamblang Ben tidak memberikan larangan apapun bagi anak-anaknya dalam memperoleh informasi. Salah satu kritik yang disampaikan sang filmmaker tentang orang tua yang memilih menutupi suatu fakta demi “melindungi” anak mereka, yang secara tidak langsung memperlihatkan betapa fragile nya orang tua dengan kepercayaan mereka terhadap kemampuan anak mereka dalam mengolah informasi.

Tentu mereka tidak pintar dengan tiba-tiba, Ben lah yang membentuk pemikiran serta karakter mereka, setiap malam mereka diwajibkan untuk bermain music atau mencicil beberapa buku untuk mendalami sejarah, hukum hingga filsafat. Dan pada pagi harinya mereka terbiasa dengan kegiatan mengolah fisik seperti berburu ataupun yoga. Pola ajar yang konsisten dan pengambilan keputusan pada masalah-masalah di tengah kehidupan liar yang mereka jalani di tengah hutan menjadikan Ben sebagai sosok seorang kapten yang fantastis bagi keluarganya.

Konflik dalam film ini dimulai ketika istri dari Ben Cash, Leslie Abigail Cash meninggal, mereka sekeluarga dilarang untuk datang ke pemakamannya yang dilakukan dengan pemakaman Kristiani. Keluarga ipar Ben tentu sangat membenci Ben karena dianggap telah menyuapi anak perempuan mereka dengan ideologi-ideologi yang sangat radikal. Namun faktanya, istri dari Ben Cash meninggalkan wasiat untuk mengkremasi jenazahnya, dengan pemakaman yang diiringi tarian serta musik. Tak hanya itu, ia meminta untuk menebar abu hasil pembakarannya di tempat yang dipenuhi penduduk. Ben serta keenam anak-anaknya berusaha untuk menghormati dan menjalankan permintaan almarhum istri sekaligus ibu mereka

Banyak sekali hal-hal pengambilan sudut parenting yang tidak biasa, menjadikan film ini sangat menarik. Naskah ditulis langsung oleh sang sutradara Matt Ross, sarat akan kritik sosial terhadap sistem kapitalis yang berusaha Ben tantang keras bersama keluarganya. Tidak hanya sarat akan paham Marxisme, film ini mengkritik sifat konsumtif dari masyarakat beserta standar-standar hidup yang terlihat normal dan diinginkan orang-orang mungkin sebenarnya tidaklah dibutuhkan.

 

Safina Zora