The Room (2003) | Duration: 1h 39m | Director: Tommy Wiseau | Writer: Tommy Wiseau | Cast: Tommy Wiseau, Juliette Danielle, Greg Sestero, Philip Haldiman, Carolyn Minnott

 

Oh, hi, everybody! Jika Naruto memiliki jaket oranye yang sepanjang episode ia kenakan terus menerus. Lalu ada Luffy yang sering memakai baju tak berlengan warna merah dan memakai topi jerami sebagai trademark nya, maka disini Tommy Wiseau berperan sebagai Johnny dengan memiliki penampilan yang tidak kalah ikonik dari  2 karakter anime tadi. Mengapa? Karena ia hampir dipastikan selalu menggunakan jas dan kemeja yang kedodoran dengan rambut panjangnya yang terurai. Ah, sungguh benar-benar ikonik seorang Tommy Wiseau disini.

Johnny (Tommy Wiseau) seorang pria sukses dari San Francisco yang memiliki kehidupan sempurna, ia memiliki Lisa (Juliette Danielle) tunangannya yang tinggal bersama di apartemen nya. Johnny juga memiliki sahabat-sahabat yang selalu bermain bersamanya. Hingga suatu hari Lisa tiba-tiba merasa bosan dan berselingkuh, selingkuh dengan sahabat Johnny yang bernama Mark (Gregg Sestero). Percintaan segitiga pun terjadi diantara mereka dan kehidupan Johnny yang awal nya sempurna menjadi hancur berantakan secara perlahan-lahan.

Salah satu dari kritikus luar yang menonton film ini mengatakan jika The Room merupakan “Citizen Kane of Bad Movie.”, mengapa demikian? Pernahkah kalian mendengar kata so bad it’s good maka mungkin tidak ada kalimat yang tepat untuk menggambarkan film ini selain kalimat itu. Sebenarnya film ini begitu sangat jelek penuh akan inkonsistensi pada plot nya, banyak karakter-karakter baru yang muncul tiba-tiba dan pergi pun tiba-tiba, dialog yang sebenarnya tragis dilewatkan begitu saja tanpa menyebut-nyebut lagi permasalahan apa yang terjadi seolah hanya dialog biasa.

Dengan menggunakan nada sarkas, akting para pemain di film ini yang hampir keseluruhannya begitu sangat sempurna dan benar tidak ada yang lebih sempurna aktingnya dibandingkan dengan Tommy Wiseau yang sering menunjukan ekspresi jempolan layaknya James Dean di film Rebel Without a Cause, nada suaranya yang begitu elegan, gaya tertawa yang menambah kesan misteriusnya serta aksen nya yang sangat seksi. Dialog antar karakter dari film ini khususnya ketika mereka baru saja bertemu pasti diawali dengan kata pembuka “oh, hi,…..!”.  entah apa maksud dari Tommy Wiseau untuk membuat dialog seperti itu, atau mungkin bisa jadi itu merupakan sebuah pesan seperti apa yang Pixar lakukan dengan terus menampilkan A113 di film-film nya, siapa yang tahu? Atau juga bisa jadi itu merupakan kata-kata konspirasi misterius yang sengaja digunakan Tommy Wiseau untuk menyapa Lucifer sang iblis karena dimasa yang akan datang film ini menjadi film yang luar biasa fenomenal berkat Tommy Wiseau menjual jiwa nya pada iblis. Semua kemungkinan nya bisa jadi dapat terjadi. Dan sekali lagi ditekankan jika itu hanyalah lelucon saja untuk menunjukan betapa dahsyatnya film ini.

Generasi terdahulu mungkin akan mengenal seorang Ed Wood, ia merupakan seorang sutradara nekat yang terkenal akan karya nya yaitu Plan 9 from Outer Space dengan Bela Lugosi mantan pemeran Dracula yang rela merusak karir di akhir khayatnya dengan membintangi film itu atas nama persahabatan. Perbedaan antara Ed Wood & Tommy Wiseau adalah dulu Ed Wood hanya memegang kendali belakang layar saja ia tidak ikut-ikutan untuk menjadi pemeran utama dalam film nya sedangkan Tommy Wiseau begitu nekat untuk mengambil hampir semua posisi penting dalam pembuatan film. Tetapi keduanya memiliki kesamaan yaitu sama-sama ingin mengejar mimpi. Silahkan kalian dapat menyaksikan kisah hidup mereka karena masing-masing sudah diangkat menjadi film yaitu Ed Wood garapan Tim Burton lalu ada The Disaster Artist garapan James Franco.

Ada begitu banyak film yang mencoba untuk menjadi bagus tetapi hasil akhirnya adalah film-film tersebut berakhir membosankan dan mengecewakan serta mungkin akan hilang dari ingatan beberapa minggu kemudian. Akan tetapi The Room merupakan sebuah anomali tersendiri yang justru berakhir dengan menjadi salah satu karya yang tidak akan terlupakan dan bahkan film ini memiliki fanbase tersendiri layaknya Star Wars atau bahkan Harry Potter. Jika diperhatikan dengan seksama film ini sebenarnya mungkin seperti curhat colongan dari Tommy Wiseau yang pernah dikhianati oleh pasangan nya karena penuturan dalam film ini seperti terlihat begitu jujur dan penuh perasaan, seperti dapat dikatakan semi-autobiografi dari Tommy Wiseau.

Untuk lebih menikmati The Room sebaiknya mungkin kalian harus membaca-baca dulu artikel-artikel terkait dahsyatnya film ini atau juga kalian dapat menonton video Pewdiepie yang mengomentari film ini dengan gaya nya yang menghibur dan juga tentu saja jangan lupakan karena sekarang The Disaster Artist sudah tayang kalian pun dapat menjadikan film itu sebagai pengantar film The Room. Pewdiepie mengomentari film ini terkait dialog-dialog nya yang konyol dan super-cheesy dan juga seperti yang dikatakan diawal terkait inkonsistensi adegan-adegan nya. Sedangkan untuk The Disaster Artist menceritakan perspektif lain terkait film ini yaitu dengan menjadikan Tommy Wiseau & Greg Sestero sepasang kawan yang berusaha mengejar mimpi mereka demi mendapatkan kesuksesan.

Banyak orang mungkin sudah melupakan film-film oscar 10 tahun yang lalu karena film-film tersebut sudah hampir tidak dibicarakan lagi, sedangkan The Room terhitung sudah berusia lebih dari 10 tahun tetapi film ini akan terus dibicarakan oleh orang-orang hingga sekarang, karena dengan memperhatikan setiap pemenang film oscar sering kali terbaca pola nya dan itu mungkin yang membuat para penonton nya melupakan beberapa film berkualitas sekelas oscar jika sudah menginjak kurang lebih satu dekade. Pada akhirnya film The Room yang awalnya diniatkan menjadi film drama serius malah berakhir menjadi seperti film komedi tanpa harus mencoba melucu didalamnya tetapi hal tersebut justru membuat para penonton nya tertawa terbahak-bahak sehingga menjadikan film ini sangat layak untuk dinikmati terlepas dari segala kekurangan yang ada. Ada kala nya kita harus menonton film jelek untuk mengetahui bagaimana film bagus dibuat. Sedangkan pada kasus film ini adalah salah satu film jelek bagus yang pernah dibuat dan mampu mewujudkan dua harapan utama para filmmaker ketika mereka membuat sesuatu yaitu karya nya dapat bertahan begitu lama didalam benak penonton serta karya nya tersebut berhasil menjadi referensi banyak filmmaker lain ketika mereka hendak membuat suatu karya.

 

Sultan Aulia