A Ghost Story (2017) Duration: 1h 32m | Director: David Lowery | Writer: David Lowery | Cast: Casey Affleck, Rooney Mara | Production Company: A24

 

Seperti judulnya film ini menceritakan sosok Hantu. Dan memang literally bercerita tentang sesosok hantu dengan eksistensinya. Uniknya, hantu disini digambarkan tidak seperti film lainnya yang mengharuskan memiliki konsep menyeramkan. Melainkan wujudnya lebih seperti konsep hantu klasik yang digambarkan manusia mengenakan selimut putih yang menutupi seluruh tubuhnya dengan dua lingkaran sebagai mata. Film arahan David Lowery bisa dibilang sangat fresh. Orisinalitasnya sangat terasa begitu menonton film ini.

Film ini berkisah tentang sepasang suami istri yang hidup di sebuah rumah. Kehidupan dan hubungan mereka terlihat biasa saja, Hingga suatu ketika sang suami yang diperankan Casey Affleck tewas karena kecelakaan. Sang suami kemudian kembali menjadi sosok hantu. Saat tiba di rumahnya, ia menyaksikan kehidupan sang istri (Rooney Mara) pasca sepeninggalannya. Tak ada apapun yang bisa ia lakukan selain menyaksikan apa yang terjadi, termasuk menyaksikan penderitaan dan rasa duka yang dialami sang istri.

Adegan yang sangat menarik yaitu saat Rooney Mara memakan sebuah pie dengan durasi yang luar biasa panjangnya yang bisa membuat beberapa orang tak nyaman ataupun bosan saat menontonnya. Tapi meskipun begitu, penggambaran rasa duka dan kehilangan dalam adegan ini begitu epik. Feelnya pun sangat terasa seolah-olah kita yang menonton ikut merasakan kesepian yang ia alami. Sementara sang suami yang sudah menjadi hantu hanya diam. Jika kita fokus pada sang hantu, akan terlintas di benak kita ketika membayangkan beban yang dialami si hantu. Apakah ia merasa sangat bersalah karena kepergiannya atau karena ia tidak bisa melakukan sesuatu yang bisa menghibur istrinya.

Bagian yang menarik adalah sang hantu dihubungkan dengan konsep ruang dan waktu. Hantu di film ini lebih kaya digambarkan dengan unsur ilmiah dibandingkan dengan unsur supranatural. Di pertengahan film kita akan sadar ada yang aneh dari pergerakan hantu,  seperti tiba-tiba hari demi hari berlalu, tahun demi tahun. Momen ini sangat terasa sebagai sebuah montage panjang yang menggambarkan kesendirian. Dan bagaimana sang hantu kesal saat tiba-tiba ada penghuni baru yang menurutnya mengusik keberadaan dan tujuannya. Di adegan selanjutnya kita yang menonton seakan dibuat tercengang bagaimana si hantu melalui masa depan dan dapat kembali ke masa lalu.

Mungkin kalian tidak mengerti cerita apa yang saya maksud diatas. Jika hal itu sangat mengganggu dan membuat kalian lebih penasaran, untuk lebih jelasnya lagi silahkan menonton filmnya karena saya tidak menjelaskan isi dari ceritanya secara mendalam. Saya lebih menginginkan kalian nonton dan merasakannya sendiri dibandingkan membaca. Film ini tidak hanya bicara soal kegagalan hubungan pernikahan, kekosongan jiwa, atau bahkan arwah penasaran, namun bicara tentang esensi kehidupan. Dan selain dari cerita, film ini menyuguhkan teknis yang begitu unik.

Film ini dikemas dengan aspek rasio 4:3 atau gaya letterbox. Sangat lumrah bagi film-film indie apalagi film ini diproduksi oleh A24, yang dikenal memiliki citra yang sangat baik melahirkan film-film indie yang kualitasnya diatas rata-rata. Tidak diragukan keputusannya yang sangat berani mengambil resiko untuk mempersembahkan cerita lewat sinematografi yang mesmerizing. Singkatnya film ini dibalut kemasan visual yang tidak biasa, namun mampu memberikan sebuah pengalaman visual luar biasa bagi penonton. Dengan kekuatan visualnya yang mampu membangun atmosfir penuh kekosongan sepanjang filmnya.

 

Rizaldy Bagas