CATATAN RANOKARNO: CC AFTER SCHOOL 2018

            Setelah menayangkan hasil karya alumni saat berproses di CC Fikom Unpad pada dua minggu sebelumnya, kali ini divisi kajian mengajak anggota CC untuk  bersama-sama menonton dan mengkaji film-film alumni CC yang mereka produksi setelah lulus. Tepat pada pukul 17.00 acara dimulai. Ditandai dengan pemutaran film Tuan, kemudian dilanjutkan dengan Pencuri Sejarah, Lembar Jawaban Kita, dan Bubar Jalan. Yuk! Bahas langsung aftereffect-nya *ba-dum-tss

  1. Tuan (2016) – Raditya Pamungkas

Film ini menampilkan sosok laki-laki yang melakukan banyak aktivitas tanpa dialog. Penggambaran visual yang detail dan pengadegangan yang tidak memberitahu maksud filmaker secara eksplisit, memantik diskusi yang cukup dalam diantara para penonton. Menurut Sultan Aulia, Film Tuan mampu menggambarkan representasi Sang Pencipta dengan baik.

Pada sebuah kesempatan, tim kajian mewawancarai Radit, sang sutrada film Tuan. Ia berpendapat bahwa dengan simbolisasi film yang kabur, audiens dengan kepercayaannya masing-masing diberikan kebebasan untuk mendefinisikan sosok tersebut. Hal ini kemudian disahihkan oleh Mutia Adinda yang kebetulan ikut di dalam produksi film tersebut. Mutia menyebutkan bahwa ‘Tuhan tidak memandang status, siapapun bisa berdoa kepada-NYA’.

bahwa penggambaran Tuhan sebagai sebuah ‘Sosok’ agaknya kurang pas. “Penceritaan tentang Tuhan bisa digambarkan dengan cara lain seperti Point of View karena Tuhan tidak bisa digambarkan dan memang sulit dalam menceritakan tentang alam semesta”. Menarik garis tengah kedua spektrum pendapat tersebut, Lukman Hoedi menyebutkan bahwa hal yang pasti di dapatkan dari film ini adalah keberadaan Tuhan yang tidak bisa disogok, sehingga masih banyak lagi yang harus dieksplor.

2. Pencuri Sejarah(2012) – Abdalah Gifar

Mengusung ide tentang pasangan yang mencuri manuskrip yang berhubungan dengan sejarah Indonesia, diskusi film ini merambat ke arah ‘Konspirasi’ tentang sejarah yang sesungguhnya dan sejarah yang dituliskan. Menurut Hani yang pernah bertukar pikiran dengan kawan SMA-nya yang menggemari sejarah terdapat kemungkinan bahwa apa yang kita ketahui selama ini bisa jadi konstruksi belaka. Dan hal ini berjalan lurus dengan apa yang ditampilkan oleh ‘Pencuri Sejarah’ yang menggambarkannya secara jelas dengan sub-konteks ‘menyindir’. Hal ini kemudian ditanggapi oleh Rizky dan Lukman yang menyentil tentang hilangnya supersemar dan ranah ‘konspirasi’ sejarah kemerdekaan Indonesia. Bagi Putri, Pencuri Sejarah memiliki cerita yang ringan, pemilihan casting yang begitu baik, dan usaha untuk mengkaitkannya terhadap sejarah umum di Indonesia pun berhasil tanpa neko-neko.

3. LJK(2013) – Sofyana Ali Bindiar

Forumberlanjut dengan pemutaran film Lembar Jawaban Kita. Bercerita tentang siswa SD yang sedang menghadapi Ujian Nasional Film ini membahas tentang nilaikejujuran. Majoritas penonton memfavoritkan film ini. Menurut Dihan dan Hafsoh, LJK dirasa begitu dekat dengan keseharian pelajar Indonesia sehingga segi nostalgia-pun terasa hadir saat menonton film ini. Pengadeganan awal dari kecemasan orang tua hingga tindakan akhir Ibu Guru, serta kepolosan tokoh utama menggiring tawa tentang kisah-kisah audience saat dahulu di posisi yang sama dengan anak SD tersebut.

4. Bubar, Jalan! (2016) – Gerry Fairus

Last but not least Bubar, Jalan (*sst baca dengan intonasi yang benar yaa) Film yang juga bercerita tentang Pelajar SD ini merupakan film terakhir yang diputar dalam Rano Karno kali ini. Bercerita tentang seorang anak yang diamanahi untuk menjadi pemimpin upacara dan usahanya untuk menjalankan tugas tersebut, film bergenre komedi ini juga membuka rasa nostalgia di antara penonton. “Moment-nya dapat semua” sebut Hani yang menyimpulkan diskusi film Bubar, Jalan!

Pemutaran Rano-Karno Focus On CC: Afterschool ditutup setelah Azan Maghrib, dengan garis merah dari Mutia Adinda yang pernah produksi baik sebagai anggota CC dan setelah menjadi alumni CC. “Perbedaan shooting saat di CC dan di luar CC adalah di titik fokusnya. Saat masih menjadi anggota CC, fokus kru terpecah, karena masih memiliki kewajiban sebagai mahasiswa. Sedangkan setelah menjadi alumni, film yang diproduksi merupakan fokus dari seluruh kru-nya, sehingga proses produksi pun lebih maksimal

(Ivany Hanifa R)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *