27 Steps of May: Rasa yang Tak Terucap

“Terima kasih karena sudah mendukung film Indonesia.”

Itulah yang Produser Film 27 Steps of May Wilza Lubis ungkapkan sebelum kami dibawa untuk memasuki dunia May. Ungkapan tersebut mengawali pemutaran film ini di Jatinangor pada 25 April 2019— dua hari sebelum secara serentak diputar di bioskop di Indonesia. Baik Wilza maupun Ravi Bharwani sebagai sutradara, tak banyak mengatakan sesuatu. Sama halnya dengan film ini.

Ketika film diputar, saya mulai merasakan segala keheningan yang penuh dengan emosi. Memang tak banyak kata yang terucap di dalam film ini, terutama oleh May (Raihaanun). Namun, emosi-emosi yang tercipta dapat memainkan perasaan penonton dengan sangat baik.

Pertama kali, kita diajak untuk mengikuti kebahagiaan May di pasar malam delapan tahun yang lalu, ketika ia masih menggunakan seragam sekolah putih birunya. Sampai akhirnya ia harus mengalami kejadian yang telah mengubah dunianya. Delapan tahun lamanya, May memiliki dunia yang tak lagi warna-warni, dipenuhi dengan trauma akibat kekerasan seksual yang kian menyiksanya.

Selain penonton diajak untuk ikut merasakan segala tekanan yang dialami May bertahun-tahun tersebut, saya juga berhasil dibuat tertekan oleh Bapak (Lukman Sardi). Ia terus menyalahkan dirinya karena merasa tak mampu untuk menjaga May, anak perempuannya. Meski ia telah meluapkan melalui tinju, rasanya bogem yang dilayangkan untuk lawannya setiap malam malah semakin menambahkan beban.

Tak melulu kesedihan, kemarahan, dan keheningan yang menyiksa, film ini berhasil diimbangi oleh kekonyolan kurir boneka (Verdi Soelaeman) yang menjadi tempat Bapak bercerita mengenai kejadian ini. Selain itu, tentunya kita juga disuguhkan “magic” seorang pesulap (Ario Bayu) dari balik dinding kamar May. Satu lubang kecil di dinding pembatas antara kamar May dan bengkel pesulap yang penuh dengan keajaiban dan memunculkan warna-warna baru. Lubang kecil yang dapat mengubah segalanya.

Ravi Bharwani dan Wilza Lubis bersama penonton 27 Steps of May di Jatinangor (foto oleh: Raihan Gustari)

Film ini mengingatkan dan mengajak kita semua untuk membuka mata bahwa kekerasan seksual masih terus terjadi dan dampak untuk korban yang menyisakan trauma berkepanjangan. Dalam diskusi yang berlangsung setelah pemutaran film, Ravi menyatakan bahwa ide cerita berawal dari tragedi Mei 1998.

Menurut Ravi, karakter May dengan trauma yang sedemikian besar menjadi alasan film ini minim dialog. Selain itu, seperti film-film ia sebelumnya, pemilihan minim dialog dikarenakan ia merasa film ini bisa berkomunikasi dan menyampaikan perasaan dengan visual.

Ravi Bharwani saat pemutaran dan diskusi film 27 Steps of May (foto oleh: Raihan Gustari)

“Bagi saya pribadi, ini adalah film terbaik yang pernah saya tonton. (Film ini) dapat mengungkapkan kehidupan sehari-hari dengan sangat baik, dan simbol-simbol yang dapat dikaji, serta artistik yang sangat bermain.” Ujar Zefanya Simon, salah satu penonton yang juga merupakan anggota CC 2017 ketika diskusi berlangsung.

Saya merasa harus berterima kasih pada Moviekom 2019 yang menjadi penyelenggara pemutaran dan diskusi film 27 Steps of May kali ini. Sebagai Vice Project Officer Moviekom 2019, Zaki Hibatullah merasa film ini menjadi pilihan yang tepat karena berdekatan dengan waktu pemutaran 27 Steps of May secara serentak. Terlebih lagi, film ini ia akui merupakan film yang sangat bagus.

Sebagai sutradara, Ravi benar-benar menyerahkan pada masing-masing penonton bagaimana mengintepretasikan film ini.

Ajak keluarga dan kerabatmu untuk tonton film ini di bioskop! Sebelum memutuskan nonton film 27 Steps of May, ada beberapa testimoni singkat dari anggota CC yang telah menonton film ini:

“Awalnya nggak terlalu mencari tahu ini film tentang apa. Tapi setelah nonton, benar-benar bagus banget! Emosinya numpuk, semuanya benar-benar aku resapi. Berhasil banget menyampaikan emosi dan nggak hanya menghibur, tapi sampai ke perasaan-perasaan yang mendalam dari karakter-karakter dan cerita yang dibangun. Terlebih lagi, aku kagum inspirasi film ini bukan berawal dari cerita sehari-hari, tapi sesuatu yang lebih besar.” (Yasmin Zahra, Menteri Kaderisasi Gradasi Aksi)

“Semua temenku merekomendasikan film ini. Terlepas dari beberapa aspek teknis yang sedikit menggangguku, isu yang diangkat sangat bagus. Aku paling tersentuh ketika tahu kenapa May hanya bisa makan makanan berwarna putih.” (Safina Zora, Menteri Media Komunikasi dan Informasi Pasukan Siap Gerak)

“Gue dapat pesan yang menurut gue, ketika lo punya masalah atau kendala lebih baik diomongin aja. Karena ketika nggak diomongin dapat menimbulkan depresi. Orang pertama yang bisa mendengarkan lo pertama kali sebenarnya adalah keluarga. Di sini, menurut gue pribadi sang ayah kurang mendengarkan May. Makanya, May sendiri pun tidak bisa menceritakan bagaimana kejadian yang dialaminya. Dan film ini pun… ya tonton aja nanti. Tapi ada satu kalimat May yang sangat memukul. Keren banget ini film! Dengan elemen visual, mas Ravi bisa menyampaikan rasa tanpa dialog. Penonton juga banyak yang nangis tadi.” (Rayhan Renaldi, Menteri Kerjasama dan Distribusi Gradasi Aksi)

“Buat gue, film ini berkesan banget. Tadi gue juga nangis pas ending. Sebenarnya simpel, tapi banyak banget artinya.” (Hana Zhafira, Anggota CC 2017)

(Della Meydi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *