Submarine: Debut Manis Richard Ayoade

Semua manusia sebagai individu merasa bahwa dirinya itu penting. Manusia merasa jika eksistensi mereka itu berbeda sekaligus sangat istimewa dari yang lain. Itu lah alasan mengapa manusia bangun pada pagi hari untuk melaksanakan aktivitasnya, seperti makan, main dan melakukan apapun yang mereka inginkan. Pemikiran seperti itu lah yang ada pada benak seorang remaja canggung 15 tahun Oliver Tate (Craig Roberts) yang sering melamun dirinya meninggal. Oliver juga membayangkan bagaimana reaksi orang-orang atas peristiwa meninggalnya dengan penuh kesedihan serta membuat satu negara merasakan kehilangan atas dirinya tersebut.

Bahan bacaan seperti The Catcher in the Rye dan King Lear membuat Oliver terkesan seperti dewasa sebelum umurnya karena memiliki pola pikir yang berbeda dari teman sebayanya. Perbedaan yang ada pada diri Oliver, membuat ia seringkali mendapat bully-an dari teman sekolahnya. Namun yang membedakan karakter Oliver dari tipikal nerd character yang seringkali digambarkan pada film-film lain adalah karakternya. Karakter Oliver masih dalam taraf wajar dalam pergaulan. Bahkan, Oliver malah ikutan ngebully karakter lain di sini hanya untuk mendapatkan perhatian dari gadis yang diincarnya.

Oliver merupakan remaja canggung yang seringkali berkhayal betapa penting keberadaannya di dunia ini dan bagaimana orang-orang memuja-muja dirinya. Namun, pada kenyataanya adalah dirinya hanya seorang penyendiri yang kesulitan untuk bersosialisasi.  Hal itulah yang menjadi penghambat saat ia berusaha mendekati Jordana (Yasmin Paige), wanita idamannya. Permasalahan Oliver tidak hanya perihal mengejar ambisinya untuk mendapatkan Jordana, tetapi kehidupan di rumahnya pun diambang kehancuran. Oliver sendiri sering mengamati keadaan lampu di kamar orangtuanya. Melihat keadaan lampu kamar orang tuanya, Oliver berpikir bahwa kedua orang tuanya sudah tidak melakukan hubungan intim.

Kehidupan keluarga Oliver semakin canggung setelah datangnya tetangga baru yang ternyata adalah cinta pertama dari sang ibu (Sally Hawkins). Sedangkan sang ayah (Noah Taylor) terlihat cuek dalam menanggapi hal itu sehingga membuat Oliver harus melakukan berbagai cara bagaimana ia dapat menyelamatkan pernikahan orangtuanya serta bagaimana ia tetap bisa melancarkan hubungannya dengan Jordana.

Richard Ayoade. (Sumber: Time Magazine)

Sepanjang durasi, penceritaan film ini begitu mengalir dengan baik serta bagaimana Richard Ayoade mengemas karyanya ini dengan penuh gaya tanpa terkesan norak meskipun pada beberapa adegan dibuat sedemikian noraknya. Richard mengemas film yang berisikan karakter quircky ini menjadi sajian yang begitu istimewa, seolah-olah menyaksikan karya Wes Anderson tanpa warna-warna yang mencolok.

Komedi yang ada disini mungkin tidak cocok untuk semua orang karena terbalut dalam sebuah satir yang kentara sekali. Tetapi, bagi mereka yang menikmati komedi-komedi gelap, nampaknya film ini merupakan pilihan yang bagus. Komedi itu dikemas melalui pemikiran Oliver, yang mana unik dan perilaku yang tidak normal. Semua itu digambarkan dengan sangat unik berkat pengarahan serta penyuntingan didalam film ini. Keberadaan original soundtrack yang dibawakan oleh Alex Turner menambah atmosfer pada film ini menjadi begitu sangat khas serta sulit untuk dilupakan. Mungkin jika di tangan sutradara lain kisah mengenai remaja canggung yang kesulitan bersosialiasi serta memiliki ambisi untuk mendapatkan wanita idamannya akan berakhir menjadi film medioker. Tetapi, di tangan Richard, meskipun ini adalah debut film panjangnya, Richard berhasil dengan menyajikan film ini secara unik dan sulit untuk dilupakan.

Penulis: Sultan Aulia

Penyunting: Arvin Nugroho

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *