Toy Story 4: Sebuah Penutupan Kedua yang ‘Ternyata’ Masih Dibutuhkan

So long, partner.”

Sebuah frasa yang sangat iconic dari franchise terbesar film animasi buatan Pixar, Toy Story. Frasa yang diucapkan oleh Sheriff Woody kepada pemiliknya, Andy, yang hendak pergi melanjutkan studinya ke perguruan tinggi, berhasil menyentuh hati para penonton. A perfect conclusion for the best trilogy that we could ever get.

Toy Story adalah sebuah film animasi panjang pertama yang dibuat sepenuhnya dengan komputer alias CGI. Film animasi ini juga yang pertama kali diproduksi oleh Pixar Animation Studios dibawah naungan Walt Disney Pictures. John Lasseter selaku sutradara dari sekuel pertama dan kedua Toy Story, membawa sudut pandang mainan kepada penonton bahwa mereka akan hidup ketika tidak dilihat oleh manusia. Sebuah fiksi yang menceritakan “bagaimana jika mainan memiliki perasaan”. Lengkap dengan Tom Hanks sebagai pengisi suara Sheriff Woody, boneka koboi klasik dengan kalimat iconic-nya “There are snakes in my boots!” dan Tim Allen sebagai pengisi suara Buzz Lightyear, sebuah pahlawan astronot antargalaksi.

Setelah adegan terakhir yang kuat terjadi di Toy Story 3, perpisahan antara Woody, Buzz, dan mainan lainnya kepada Andy, tidak mungkin ada lagi kisah yang bisa diceritakan lagi bukan? Jika mereka membuat kembali sekuelnya, kemungkinan memberikan kesan “memaksa” dan merusak franchise tersebut sangat besar.

Disney dan Pixar mengumumkan akan dibuatnya Toy Story 4 pada tahun 2015. Sekuel tersebut akan mengisahkan kisah cinta antara Bo Peep dan Woody, sebuah film komedi romantis dengan Josh Cooley mengambil alih sebagai sutradara dalam film tersebut. Sebelumnya, saya sangat skeptis dengan keputusan yang diambil Pixar terseubut, apalagi mengetahui bahwa Pixar masih dibawah naungan Disney. “Mereka akan menghancurkan franchise terbesarnya hanya untuk uang”, pikir saya saat itu. Setelah mengeluarkan teaser, trailer, dan rating yang dikeluarkan oleh Rotten Tomatoes sebesar 100%, barulah saya berhasil “terjual”.

Toy Story 4 dibuka dengan adegan yang terjadi pada 9 tahun lalu (sebelum Toy Story 3 dan sesudah Toy Story 2), penonton dibuat “melotot” dengan hujan yang dibuat oleh Pixar dan bagaimana perkembangan cahaya yang dibangun. Setelah melewati 21 film panjang, Toy Story 4 adalah bukti sejauh mana Pixar berhasil berkembang dalam membuat animasi! Adegan tersebut menceritakan bagaimana Bo Peep berpisah dengan Woody dan mainan lainnya. Kisah cinta mereka memang selalu menjadi pemanis dalam sekuel-sekuel lainnya, bahkan di Toy Story 3, Bo Peep sempat disebutkan ia sudah tidak lagi menjadi mainan milik Molly, adik perempuan Andy. Adegan pembuka ini berhasil menjadi membuat penonton mengumpulkan kembali memori-memori yang sudah terpendam dari 20 dan 9 tahun lalu, tetapi juga kuat untuk memulai apa yang menjadi fokus penceritaan Toy Story 4. A perfect bridge!

Randy Newman kembali menjadi komposer dalam sekuel ini. Lagu yang paling popular dan soundtrack unggulan, “You’ve Got a Friend in Me”, dikumandangkan pada bagian awal film. Dilengkapi dengan bagaimana Andy bermain dengan Woody dan Buzz hingga berpindah tangan kepada Bonnie dengan pengambilan gambar yang lebih beragam dan halus. Sangat nostalgic. Randy Newman kembali menciptakan musik yang kuat untuk mengiringi adegan yang ada di film tersebut, seperti Duke Caboom yang diperankan oleh Keanu Reeves memiliki backsound-nya sendiri.

Pada arc pertama film ini, berkisah bagaimana para mainan Andy beradaptasi dengan pemilik barunya, Bonnie. Woody yang selalu menjadi pilihan pertama untuk dimainkan mulai disisihkan oleh Bonnie. Tentu saja dengan sifat Woody, ia tidak akan diam saja. Sama seperti pemilik sebelumnya, pada hari pertama Bonnie memasuk taman kanak-kanak, ia bertindak sebagai “malaikat pelindung” bagi Bonnie, membantunya melewati masa tersebut. Woody juga yang membantu Bonnie membuat mainan yang terbuat dari sampah atau kerajinan tangan, Forky yang kemudian menjadi mainan favorit Bonnie. Arc ini akan memperlihatkan bagaimana sifat asli Woody yang keras kepala, tidak pernah meninggalkan mainan lainnya, dan peduli terhadap pemiliknya. Hal yang paling menarik adalah, Toy Story sebelumnya selalu menujukkan bagaimana Andy jika tidak ada mainan-mainannya, terutama Woody, bagaimana para mainan tersebut memengaruhi Andy. Namun pada bagian ini, terlihat betul bagaimana Woody tanpa Andy. A truly partners.

Hubungan antara Woody dan Bo Peep selalu canggung, dan ini adalah poin kuat yang membuatnya menggemaskan. Terlihat jelas pada perpisahan dan pertemuan mereka. Bo Peep yang sudah menjadi “mainan yang hilang”, alias tidak memiliki pemilik, berusaha bertahan hidup dan melihat dunia dengan cara yang berbeda. Bo Peep tumbuh menjadi mainan yang independen dan kuat, menurutnya masih banyak anak di luar sana, sebaliknya Woody yang selalu loyal kepada pemiliknya, memicu konflik keduanya. Hubungan mereka cocok untuk dijadikan fokus utama dan Pixar berhasil mengemasnya dengan indah.

Woody & Bo Peep. (Sumber: Glamour Magazine UK)

Villain dengan niat yang baik jika dilihat dari perspektif villain tersebut sedang popular ketika Marvel memperkenalkan Thanos. Walaupun memang villain dari Toy Story sebelumnya sudah menggunakan formula ini. Gabby Gabby, antagonis dari sekuel keempat ini merupakan boneka yang diproduksi pada tahun yang sama dengan Woody dan dia ingin mengambil benang yang memelatuk suara yang muncul pada diri Woody karena benang yang dimilikinya rusak. Akhirnya Gabby Gabby tidak dimainkan dan hanya dipajang di lemari toko antik yang bersamaan dengan diadakannya festival yang dihadiri oleh Bonnie. Gabby Gabby memiliki empat boneka pengikut yang menjadi bawahannya bernama Benson. Nuansa yang dibangun oleh pemeran antagonis ini layaknya mafia yang mengadakan perdagangan gelap, dilengkap dengan toko antik yang dipenuhi barang-barang tua memperkuat adegan yang dimainkan. Mereka juga berhasil membangun suasana yang menegangkan dengan beberapa jumpscare yang diberikan sebagai punchline.

Bagian baru yang menurut saya berhasil dilaksanakan adalah kehadiran duo maut Jordan Peele dan Keegan-Michael Key sebagai Bunny dan Ducky. Tingkah konyol mereka memberikan warna baru bagi Toy Story, berbeda dengan Rex dan Mr. Potato Head, Bunny dan Ducky melontarkan guyonan lebih nyeleneh dan lepas. Melihat aksi mereka membantu Woody dan Bonnie sangat menyenangkan untuk disaksikan.

Namun sayangnya peran dari mainan-mainan lama seperti Rex, Mr.Potato Head, Jessie, dan lainnya sangat minim. Meskipun begitu, ini menjadi hal positif karena penonton tidak dibingungkan dengan banyaknya tokoh yang harus dijadikan fokus. Buzz Lightyear tetap menjadi pribadi yang lugu dan belajar bagaimana ia bertindak jika tidak ada Woody di sampingnya.

Toy Story 3 memang penutup yang baik bagi Andy dan para mainannya, Toy Story 4 hadir sebagai penutup bagi para mainan itu sendiri. Pixar kembali mengukir sejarah dengan adegan penutup yang kuat, perpisahan antara Woody dan Buzz, akan diingat sepanjang sejarah film animasi. Film yang wajib ditonton jika sudah mengikutinya sejak kecil. Melihat Woody menjadi malaikat pelindung bagi Andy, kemudian melakukannya lagi kepada Bonnie, dan menjalankan tugas terakhirnya sangat menyakitkan untuk dilihat, tapi saya yakin setelahnya dapat tertidur tenang.

I was skeptical before, but if they are doing it like this, with heart, I think I fall in love once again.

Penulis: Quraish Setyaki

Penyunting: Della Meydi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *