Dua Garis Biru: Penguras Emosi yang Penuh Pembelajaran

Dibuka dengan manis dan tanpa basa-basi, film Dua Garis Biru langsung mengajak penonton untuk masuk pada titik permasalahan—kesalahan fatal yang dibuat oleh sepasang kekasih Bima (Angga Yunanda) dan Dara (Zara JKT48). Kedua karakter tersebut bukanlah karakter yang luar biasa. Namun, hal yang membuat mereka menarik adalah latar belakang, persamaan, dan perbedaannya masing-masing.

Dara yang mendapatkan nilai 100 pada mata pelajarannya dianggap memiliki masa depan cerah oleh gurunya. Sedangkan Bima yang duduk di sebelah Dara, merupakan satu-satunya siswa dengan nilai 40 dianggap tidak memiliki masa depan. Meski begitu, keduanya datang dari  keluarga baik-baik. Mereka adalah remaja lugu yang tak kekurangan kasih sayang.

Ketika Bima pulang ke rumah dan menangis di hadapan kedua orang tuanya, Ibu (Cut Mini) dan Ayah (Arswendy Bening) hanya mampu menebak bahwa Bima sedang dirundung masalah karena memakai obat-obatan terlarang atau putus dengan pacar, tanpa bertanya lebih jauh dan memberikan waktu untuk Bima menjelaskan. Bahkan, miris ketika sang ibu tak mengetahui anak laki-lakinya tersebut mempunyai pacar. Dari sini kita dapat belajar, bahwa komunikasi antara anak dengan orang tua butuh lebih dari sekadar obrolan kegiatan sekolah dan pertemanan. Bagaimana pun, ini tak bisa disepelekan.

Bima dan Dara (Sumber: Dok. Dua Garis Biru Film)

Bagi saya (juga mungkin bagi sebagian besar orang), film ini merupakan film yang sangat emosional. Saya pribadi mulai merasakannya ketika kepala Dara terhantam bola saat pelajaran olahraga, sampai akhirnya penonton ikut dibawa masuk ke UKS dengan long take-nya yang pecah memukau. Sejak saat itu, bukan hanya rahasia Dara dan Bima yang runtuh, tetapi juga orang tua, serta hubungan kakak-adik. Pada scene ini pun, Dara diberitahu bahwa ia harus mengundurkan diri dari sekolah karena kondisinya, namun peraturan ini tidak berlaku untuk Bima. Sebagai perempuan, saya hanya bisa tertawa getir.

Untuk anak berusia 17 tahun, Bima dan terutama Dara, merupakan pribadi yang sangat kuat. Terlebih lagi yang mereka hadapi bukanlah persoalan kecil. Mereka cukup dewasa untuk siap menanggung segala resiko dari perbuatannya. Dara bukanlah perempuan yang ragu untuk mengambil keputusan-keputusan yang ia yakini. Ia berhak menentukan jalan hidupnya, masa depannya sendiri, dan menurut saya hal ini sama sekali tidak egois.

Selanjutnya, penonton banyak disuguhkan perbincangan antara Dara dengan orang tuanya-Bima dengan orang tuanya, yang semakin menguras emosi namun penuh pembelajaran. Bahkan rasanya kita perlu berterima kasih dengan kehadiran dokter (Ligwina Hananto) yang tak pernah menghakimi dan banyak memberikan ilmu untuk Dara dan Bima, juga penonton.

Bagaimana pun, hidup kita tak akan pernah terlepas dari sanksi norma sosial yang berlaku. Kehadiran ibu hamil (Asri Welas) di rumah sakit cukup merepresentasikan bagaimana masyarakat memandang persoalan hamil di luar nikah. Kecanggungan juga tercipta ketika Bima masuk sekolah lagi, serta Ibu Bima yang sudah malu berjualan karena para tetangga telah mengetahui apa yang terjadi.

Dua Garis Biru (Sumber: Dok. Dua Garis Biru Film)

Saya senang bahwa film ini ditulis dan memang harus disutradarai oleh Gina S. Noer, yang namanya tak perlu diragukan lagi di industri perfilman kita. Saya rasa perspektif perempuan memang sangat dibutuhkan dalam film ini. Untuk debutnya sebagai sutradara, Gina mampu menarik hati banyak masyarakat bahkan jauh sebelum film ini tayang, dan kami sudah tak sabar untuk menunggu karya Gina selanjutnya.

Penulis: Della Meydi

Penyunting: Quraish Setyaki

1 comment / Add your comment below

  1. aku juga setuju!! Film ini berhasil bicara soal akibat yang timbul dari satu kejadian yang sebenernya sangat nggak asing di kita tapi masih sangat tabu untuk dibahas, baik itu di level keluarga, edukasi di sekolah, sampai di lingkungan luas. selamat untuk mbak gina, seluruh kru, cast, dan starvision. keren, mantul mantapbetullll

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *