Bridezilla: Bukan Film Tentang Dinosaurus

Agustus ini, saya mengawali kegiatan dengan menonton film Bridezilla yang merupakan film kesepuluh dari Visinema Pictures dan disutradarai oleh Andi Bachtiar Yusuf atau yang biasa dikenal Ucup. Bukan suatu kebetulan pula, saya menonton film Bridezilla di hari pertama penayangannya. Menjadi pencapaian yang cukup drastis bagi saya yang notabene jarang menonton film di hari pertama penayangannya di bioskop.

Setelah memastikan jam tayang yang hendak ditonton, saya bersama kelima teman saya berangkat menuju ke bioskop terdekat. Tak seperti yang disuarakan di trailer-trailer film bahwa kalau menonton itu harus di bioskop kesayangan.

Film Bridezilla bercerita tentang perjalanan Dara, yang diperankan oleh Jessica Mila, mewujudkan pernikahan impiannya untuk mendapatkan gelar Wedding of the Year di sebuah majalah wedding ternama. Walaupun film ini memiliki cerita bertema pernikahan, saya menduga ada beberapa orang yang salah perkiraan.

Pada saat saya menonton, ketika pernyataan Lembaga Sensor Film tentang lulus atau tidaknya film yang akan diputar muncul di layar. Ada seorang anak kecil yang datang bersama keluarganya, dengan polos berteriak “Horeeeee” yang terdengar hingga seisi ruangan. Respon yang dikeluarkan oleh anak tersebut membuat saya bingung. Biasanya, respon itu muncul ketika mereka (anak-anak kecil) menonton film superhero atau film kartun yang masih bisa relate dengan mereka. Tapikan ini Bridezilla???

Saya berpikir pasti anak kecil ini mengira bahwa film yang ditontonnya saat ini adalah film dinosaurus atau mungkin lanjutan dari Jurassic World: Fallen Kingdom. Bila kenyataannya seperti itu, tentu itu terjadi karena poster film Bridezilla. Tidak percaya? Coba saja lihat poster filmnya!

Poster film Bridezilla. (Sumber: Dok. Bridezilla Film)

Secara cerita, film ini cukup menarik. Dibuka dengan adegan Dara bersama Ibunya yang memberikan nasihat-nasihat untuk pernikahannya kelak. Dari nasehat itu pula, yang membawa Dara menjadi seorang bos Wedding Organization (WO) yang ia dirikan bersama Key, yang diperankan oleh Sheila Dara.

Reputasi WO Dara dan Key sendiri sedang berada di ujung tanduk. Apalagi, karena mereka gagal menyajikan pernikahan spektakuler Bobby dan Lucinta yang diproyeksikan menyabet gelar “Wedding of the Year”. Sebagaimana saya yang percaya dengan kesempatan kedua, Dara dan Key berusaha memperbaikinya dengan menjadikan pernikahan Alvin (Rio Dewanto) dan Dara sebagai pertaruhan.

Walau begitu, bukan berarti film ini tak mempunyai kelemahan. Ada banyak noise yang cukup mengganggu di saat adegan berlangsung. Salah satu yang parah adalah adegan di mana Abah Dara sedang menenangkan Dara di tengah masalah yang menghampirinya. Adegan itu menjadi antiklimaks karena dialog keduanya cenderung tidak terdengar dan tertutup oleh bunyi knalpot motor. Terakhir adalah iklan yang ada di dalam film. Sejenis sabun muka dan permen. Sebenarnya tidak mengganggu adegan juga, tapi toh sebel saja melihat ada elemen itu muncul di sebuah adegan.

Key, Dara, dan Aang. (Sumber: Dok. Bridezilla Film)

Bagi saya, film Bridezilla menjadi refleksi untuk kita semua terutama karena kejadian beberapa tahun ke belakang, di mana banyak artis-artis yang melakukan pernikahan mewah. Bagaimana hal itu mempengaruhi standar pernikahan kebanyakan orang. Sehingga, tak jarang melupakan esensi dari sebuah pernikahan. Padahal, esensi dari sebuah pernikahan sendiri bukan mewahnya pesta resepsi, catering makanan enak atau tidak, banyaknya tamu undangan atau dekorasi yang ciamik. Tapi bagaimana sepasang kekasih mengucap janji sehidup semati, merayakan bersama orang-orang terdekat dan merawatnya.

Terakhir, saya ingin berterima kasih pada Visinema Pictures dan Ucup sebagai sutradara karena telah membawa Lucinta Luna di film ini. Sehingga, sehabis menonton saya bisa berdiskusi dan berdebat dengan kelima teman saya mengenai Lucinta.

Penulis: Arvin Nugroho

Penyunting: Quraish Setyaki

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *