Mirai no Mirai: Cemburu adalah Proses Menjadi Dewasa

Kita semua pernah cemburu. Sadar atau tidak sadar, sikap ini dapat merajai diri kita pada saat-saat tertentu. Hal yang sangat wajar dan seringkali tidak mampu untuk ditolak. Sebesar apa pun kita berusaha, kita tidak bisa menolak sesuatu yang memang sedang dirasakan.

Cemburu tidak mengenal usia dan bersifat universal. Film Mirai no Mirai (Mirai of the Future) yang disutradarai Mamoru Hosada menjadi bukti sikap cemburu yang polos dan tumbuh pada diri siapa saja. Kun adalah anak laki-laki berusia 4 tahun, ia anak tunggal sebelum adik perempuannya Mirai hadir ke dunia. Menjadi anak tunggal dalam waktu yang cukup lama membuat ia selalu merasakan kasih sayang yang melimpah dari ibu dan ayahnya, juga nenek dan kakeknya.

“Mulai sekarang kalian harus akrab ya. Kalau terjadi apa-apa Kun-chan harus melindunginya.”

Kira-kira seperti itulah ucapan ibu ketika Kun pertama kali melihat adiknya di rumah. Juga mungkin menjadi ucapan hampir semua ibu untuk anaknya yang baru memiliki adik. Kalimat tersebut terkadang terdengar seperti peringatan, namun juga sebagai pemahaman bagaimana kasih sayang dalam keluarga harus ditumbuhkan sejak dini.

Tentu saja, Kun setuju dengan kalimat ibunya dan akan menyayangi adiknya yang baru lahir tersebut. Namun, tak butuh waktu yang lama untuk akhirnya Kun memukul kepala Mirai, yang masih rentan, dengan kereta-keretaan miliknya. Alasannya? Cemburu. Mirai menangis, Kun pun tidak mau kalah dan ikut menangis. Ia mulai merasa bahwa perhatian orang tuanya lebih fokus pada Mirai, dan bukan pada dirinya lagi.

Kun yang mulai cemburu pada Mirai. (Dok. Mirai no Mirai Film)

Perhatian nenek dan kakeknya juga mulai teralih pada Mirai. Terlihat ketika mereka hanya mengambil video Mirai, padahal Kun sedang bersama mereka. Saya pribadi ikut merasakan ketidakadilan yang dirasakan Kun. Kenapa tidak ambil video mereka berdua saja?

Ketika perlakuan seperti ini terlihat begitu jelas bagi anak, mereka mulai mencari segala cara untuk mengambil perhatian. Seringkali, begitu berlebihan dan berujung pada kemarahan orang tua. Jika dilihat dari perspektif anak, sebenarnya memang tak ada yang bisa dilakukan selain mencari perhatian. Karena memang perhatian lah yang sedang mereka butuhkan.

Meskipun saya pribadi belum menjadi orang tua, saya cukup sering menyaksikan pemandangan seperti ini. Dalam pandangan saya, orang tua tak bisa menuntut anak untuk cepat bersikap dewasa dengan harus menerima keadaan. Jealousy is unavoidable. Kecemburuan anak lah yang menjadi proses pendewasaan itu sendiri.

Elizabeth Hurlock dalam bukunya Child Development menyatakan bahwa para psikolog percaya dengan anak mengatasi kecemburuan dapat membantunya lebih dewasa. Orang tua tidak dapat menghilangkan emosi tersebut. Namun dapat meredakan intensitasnya jika penanganannya tepat. Orang tua juga seharusnya mampu menerima hal tersebut sebagai risiko yang sudah siap ditanggung, bahwa akan lebih banyak lagi perhatian yang harus terbagi rata.

Namun jika melihat perspektif orang tua dan belajar dari film ini, risiko tersebut bukanlah hal yang mudah untuk diterima. Film ini menunjukkan tokoh ibu yang mudah berteriak dan marah pada Kun, meski ia langsung menyadari perbuatannya dan tetap sabar. Orang tua Kun semakin membuat kita tak dapat menampik bahwa menjadi orang tua bukanlah hal yang mudah. Di sini, saya melihat kecemburuan anak juga menjadi proses pendewasaan orang tua itu sendiri.

Memang tak semua perhatian atau kemauan anak harus dituruti. Dalam film ini, Kun yang ingin berwisata begitu bersikeras untuk memakai celana kuning yang sedang dicuci karena ia tak suka celana dengan warna lain. Kun bersikeras sampai ia memutuskan untuk kabur dari rumah. Ia merasa sakit hati karena orang tuanya tidak berusaha mencarinya. Pembelajaran yang kemudian didapatkan Kun adalah dari dirinya di masa depan yang bertanya: lebih penting celana atau kenangannya?

Kun saat melarikan diri dari rumah. (Dok. Mirai no Mirai Film)

Film yang masuk dalam nominasi Best Animated Feature Penghargaan Oscar 2019 ini begitu sederhana namun dibalut dengan dunia surreal yang menjadi sangat menarik. Kita dapat ikut dibawa Kun mengunjungi dunianya dan dunia keluarganya dari masa lalu, masa sekarang, dan masa depan. Bagaimana Kun yang berusia 4 tahun diprotes oleh adiknya yang sudah remaja dari masa depan karena selalu membencinya. Bagaimana ia menemui ibunya di masa lalu yang juga kerap mencari perhatian kala menginginkan sesuatu, hingga bagaimana adiknya dan dirinya saling menyelamatkan saat tidak ada satu pun keluarga mereka di stasiun kereta masa depan.

Ketika peran orang tua berpengaruh sangat besar untuk mengontrol situasi ini, dalam film Mirai no Mirai kita akan menemukan bagaimana kakak-beradik ini dapat menyelesaikan masalah dengan cara mereka sendiri. Adanya batas “mirai” atau masa depan serta masa lalu di hidup Kun mampu membuat mereka—terutama Kun, mengerti caranya saling menyayangi dan memahami arti penting keluarga.

Terlepas dari segala hal yang menarik tentang film ini, saya menyayangkan pengisi suara Kun yang dirasa kurang pas dan terdengar lebih tua dari umurnya. Tindakan dan ucapan-ucapannya terasa begitu bertolak belakang. Namun, film ini merupakan film yang masih mudah dinikmati segala kalangan dan kita akan ikut dibawa oleh proses pendewasaan Kun.

Penulis: Della Meydi

Penyunting: Arvin Nugroho

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *