#SENOPATI Zootopia: Buruknya Stereotip

Zootopia (2016) | Director and Writer: Byron Howard dan Rich Moore | Cast: Ginnifer Goodwin, Jason Batemen, Idris Elba | 108 min

Disney kembali menyentuh angka satu trilliun USD dalam Oscar Box Office. Dengan film animasinya yang berjudul Zootopia (2016), Disney berhasil meraih piala Oscar pada tahun tersebut sebagai film animasi terbaik. Zootopia masuk ke dalam sepuluh besar film animasi dengan pendapatan terbanyak sepanjang waktu. Namun dengan segala pencapaian ini, mengapa Zootopia tidak menjadi pembahasan yang hangat pada masanya? Byron Howard dan Rich Moore berhasil mengemas isu yang dalam dan menarik dengan film animasi dan mudah diterima oleh penonton.

Jika dilihat secara keseluruhan alur cerita, Zootopia adalah film Buddy Cop klasik dengan genre aksi komedi seperti pada umumnya. Hal yang membuat berbeda dari film Buddy Cop adalah Zootopia merupakan film animasi. Perbedaan mendasar ini membuat Zootopia tidak memiliki batasan-batasan seperti film non-animasi. Satu-satunya batasan yang dimiliki film ini adalah harus disesuaikan dengan target penonton, yaitu dapat diterima semua umur. Batasan ini malah menjadi potensi dan daya dorong kekuatan film ini. Byron dan Rich dapat berkreasi seliar mungkin!

Bercerita tentang Judy Hopps seekor kelinci dari desa yang ingin menjadi polisi di sebuah kota besar yang bernama Zootropolis. Salah satu isu yang paling kental dalam film ini adalah stereotip terhadap suatu jenis hewan. Kelinci selalu digambarkan sebagai sosok yang kecil, lemah, dan selalu ditakdirkan menjadi petani. Kilas balik menjadi pilihan sutradara untuk membuka film ini. Lima belas tahun sebelum lini waktu yang sebenarnya, Judy yang masih belia melakukan seni peran untuk menceritakan cita-citanya. Prolog yang baik untuk menggambarkan motif dan tujuan karakter. Judy Hopps sudah digambarkan sebagai sosok kelinci yang memiliki cita-cita tinggi, tidak pantang menyerah, dan berpikiran positif.

Isu stereotip tidak hanya berhenti di sana. Karakter utama yang lain adalah seekor rubah yang bernama Nicholas Wilde (Nick). Judy bertemu Nick di Zootropolis ketika Judy sudah menjadi polisi tetap stereotil lemah kelinci, ia diberikan posisi sebagai pemberi tiket parkir, sedangkan Nick sedang menjalankan aksinya. Dalam film ini rubah memiliki stereotip bahwa rubah adalah seekor hewan karnivora yang licik. Rubah benar-benar tidak dapat dipercaya, bahkan ayah dari Judy memberikan alat pelindung dari rubah sebelum Judy pergi. Hal ini juga tergambarkan pada kilas balik karakter Nick itu sendiri. Nick tumbuh sebagai karakter yang baik dan memiliki cita-cita tinggi dengan ingin masuk ke dalam regu pramuka. Nick diperlakukan seperti “Rubah licik”, tidak dipercaya dan tidak diperlakukan dengan adil. Hal ini yang sangat mengubah Nick dan bagaimana karakter ini berkembang.

Pembangunan karakter adalah hal yang paling penting di dalam film animasi. Para sutradara berhasil memaksimalkan itu. Zootopia membangun dunia yang benar-benar dekat dengan penonton. Memaksimalkan segala potensi hewan dan keunikannya masing-masing. Setiap hewan yang ada di Zootopia memiliki peran masing-masing dan diceritakan dengan unik. Bagaimana sutradara menggambarkan Judy dan Nick bertemu dan berkembang bersama juga patut menjadi sorotan utama.

Judy digambarkan sebagai kelinci yang idealis dan memiliki pandangan yang selalu postitif, sedangkan Nick sosok rubah yang idealis dan melihat suatu hal dengan negatif. Hal ini juga tergambarkan, bahwa nick sudah melihat bagaimana pahitnya dunia sebenarnya. Perbedaan yang mencolok ini menjadi suatu konfilk yang menarik sepanjang film, bagaimana mereka memecahkan kasus mamalia yang menghilang.

Film ini memiliki gaya pengambilan gambar dengan ciri khas Buddy Cop. Menyesuaikan dengan genre film, aksi komedi, Zootopia memiliki pengambilan gambar yang beragam dan memiliki banyak gerakan kamera. Tidak seperti animasi 2D, kekuatan pencahayaan pada animasi 3D sudah berkembang pesat dan berperan penting. Salah satu adegan yang memiliki “the beauty of lighting in animation” adalah ketika Judy mengetahui penyebab hewan-hewan mengamuk dan ingin meminta maaf kepada Nick. Pada adegan ini Nick menelusuri terowongan dan tidak ingin menatap Judy. Terlihat Nick sudah berdiri di di depan terowongan dan terkena cahaya matahari. Nick seakan mengajak Judy untuk kembali kepada “cahaya” dan Nick membantu Judy di masa gelapnya.

Konflik yang dibawa oleh film ini lagi-lagi kembali pada isu yang diangkat, yaitu stereotip. Film ini konsisten dengan membawa sifat alami dari hewan karnivora dan herbivora. Bahwa karnivora akan selalu menjadi predator dan memangsa hewan herbivora. Citra ini digunakan oleh antagonis untuk menjebak walikota Zootopia karena sudah menculik hewan-hewan yang hilang. Bellwether antagonis asli pada film ini menggunakan kesempatan ini untuk memasukkan sebuah ide ke dalam Judy Hopps bahwa karnivora memang sudah pada dasarnya akan kembali mengamuk dan memangsa herbivora. Berita ini sempat membuat Zootroplis menjadi berantakan. Zootopia membuat idiom, “serigala berbulu domba” benar adanya. Bellwether bersama anak buahnya berhasil memanipulasi walikota Lionheart, Judy Hopps, dan seisi Zootropolis.

Satu hal yang menarik dari film ini juga salah satunya adalah komedi. Komedi Slapstick yang dilakukan benar-benar tepat sasaran. Komedi yang dilakukan sutradara salah satunya adalah bermain pada keironian dari keunikan hewan itu sendiri. Seperti Flash, seekor Sloth yang bekerja di layanan masyarakat dan mengendarai mobil yang kencang, padahal ia selalu melakukan sesuatu dengan pelam seperti seekor sloth. Salah satu yang menjadi daya tarik dari film ini juga adalah Nick Wilde dan komedi sarkastiknya. Nick selalu saja punya cara untuk memberikan sebuah bercandaan dan kata-kata yang tepat sasaran.

Zootopia membuktikan Disney masih menciptakan film animasi yang berkualitas. Zootopia juga menunjukkan sudah sejauh apa animasi 3D berkembang. Zootopia membawa isu yang sangat dekat dengan masyarakat zaman sekarang bahwa kita sudah menilai seseorang di awal bertemu padahal belum kenal dekat. Nasihat bahwa “Jangan menilai buku dari halaman depannya” sangat cocok untuk menjadi pesan dari film ini.

Penulis: Quraish Setyaki Haddade

Penyunting: Arvin Nugroho

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *