#SENOPATI 3 Hari Untuk Selamanya: Perjalanan Jauh yang Problematik

3 Hari Untuk Selamanya (2007) | Director: Riri Riza | Writer: Sinar Ayu Massie | Cast: Nicholas Saputra, Adinia Wirasti | 104 min

Kalau saya ditanya mengenai top 3 film Riri Riza, tentu film 3 Hari Untuk Selamanya akan masuk dalam list. Film garapan Riri ini merupakan salah satu film terbaiknya. Gara-gara film ini, saya ingin mencoba touring naik mobil keliling daerah. Film yang diproduksi oleh Miles Films tahun 2007 ini bercerita soal perjalanan Yusuf (Nicholas Saputra) dan sepupunya Ambar (Adinia Wirasti) ke Jogja menaiki mobil untuk menghadiri pernikahan kakak Ambar. Di tengah-tengah perjalanan itu mereka banyak bercerita mengenai seks, agama, dan pernikahan.

Cerita perjalanan Yusuf dan Ambar dimulai dari kecerobohan Ambar yang ketinggalan pesawat bersama keluarganya untuk pergi ke Jogja. Di malam sebelumnya, Ambar mengajak Yusuf untuk mabuk-mabukan. Suasana rumah yang sedang penuh sesak oleh saudara-saudara yang berkumpul membuat Ambar gerah. Mengetahui bahwa ketinggalan pesawat, Ambar mengajak Yusuf untuk berangkat naik mobil ke Jogja. Kebetulan, Yusuf diberikan tugas untuk mengantar sebuah kotak yang berisi piring-piring peninggalan keluarga.

Mereka pun segera berangkat. Membutuhkan 3 hari untuk mereka menuntaskan perjalanan dari Jakarta ke Jogja. Hal yang menarik dari film yang diproduseri oleh Mira Lesmana ini adalah cerita perjalanan Yusuf dan Ambar. Ambar bisa dibilang adalah tipikal anak Jaksel. Open minded, bebas, dan party itu wajibadalah yang paling mencolok. Sedangkan Yusuf, adalah orang yang sedikit tertutup atau bahkan introvert, bandel tapi cool. Setiap masuk ke tempat dugem, Yusuf selalu mengenakan topi ala pemancing.

Obrolan-obrolan yang mereka lontarkan sepanjang film adalah salah satu hal yang menggemaskan. Ada banyak isu yang diangkat oleh Riri di film ini. Soal kebebasan individu dan pernikahan saat awal perjalanan, soal kehidupan seks di tengah, dan soal beragama. Dari ketiga topik di atas, yang paling menonjol justru cara pandang kehidupan seks.

Film ini tentu menjadi problematika bagi beberapa penontonnya. Alasannya sederhana, bagaimana kalau kita bercinta dengan saudara kita sendiri? Mungkin itu hal yang bisa bikin geleng-geleng. Tapi, tentu saja itu hal yang lucu.

Riri seperti memotret kondisi masyarakat yang memandang seks hanya sekadar urusan hawa nafsu serta urusan kuat atau tidak kuat di ranjang. Potret itu terlihat sekali saat Yusuf dan Ambar menginap di rumah orang di Tegal. Pemilik rumah itu adalah orang yang berpoligami. Saat pemilik rumah dan Yusuf sedang berbincang, terlihat sekali bahwa dari kehidupan berumahtangga adalah soal pemenuhan hasrat seksual. Padahal, tidak semudah itu.

Asumsi saya, urusan poligami ini nampaknya sedang marak dilakukan oleh masyarakat Indonesia di tahun 2000-an. Bukan hanya Riri saja yang mengangkatnya dalam film ini, walaupun porsinya pun tak banyak. Film yang disutradarai oleh Nia Dinata yang berjudul Berbagi Suami yang diproduksi tahun 2006. Senang sebenarnya melihat isu tentang poligami ini diangkat melalui medium film. Saya sendiri sangat tidak setuju dengan poligami. Selain soal keadilan untuk masing-masing individu, tak lain adalah permasalahan kesehatan.

Hal yang paling saya ingat dari film yang disutradarai oleh Riri ini adalah adegan di mana, Yusuf bertemu dengan Edwin, kawan Yusuf. Di adegan itu, mereka berdua nampak sedang bersalaman dengan menukar sebungkus dedaunan. Tapi, poin yang menarik bukanlah dedaunan-nya. Apalagi kalau bukan poster bertuliskan “Aceh untuk Perdamaian”.

Itu adalah hal yang sangat menarik. Alasannya, tentu saja, karena menyangkut Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Perlu diingat bahwa pada tahun 2005 adalah peristiwa penting bagi Indonesia. Di tahun 2005 itu, GAM dengan pemerintah resmi berdamai. Sebelumnya, GAM melawan. GAM sendiri merupakan bentuk perlawanan masyarakat Aceh terhadap negara karena isu sumber daya alam dan semakin miskinnya Aceh akibat kolonialisme Indonesia. GAM didirikan oleh Hasan Tiro di tahun 1976.

Sekilas poster atau tempelan kertas di dinding terlihat remeh. Namun, apabila melihat itu dalam konteks Indonesia di tahun 2000an awal pasca reformasi tentu sangat berarti. Konflik GAM dengan pemerintah telah banyak menelan korban. Korban utamanya bukan dari pihak GAM ataupun pemerintah, melainkan masyarakat sipil di Aceh. Dengan berdamainya GAM dengan pemerintah menandakan kabar baik. Sikap Riri terhadap isu kemanusiaan, ia tuangkan dengan baik di film ini.

Tentang musik yang ada di film buatan Riri menurut saya sangatlah gila. Dinahkodai oleh grup band Float, lagu-lagu yang ada bahkan melampaui dari sekadar tempelan belaka. Lagu-lagu tersebut memiliki magis yang dapat membuat penonton bisa bernyanyi dengan sendirinya. Dan itu merupakan hal yang unik. Gara-gara saya menonton film 3 Hari Untuk Selamanya ini, sehabis nonton, saya langsung beranjak ke Spotify. Tentu saja yang diputar adalah lagu yang mempunyai judul yang sama dengan film. 3 Hari Untuk Selamanya.

Penulis: Arvin Nugroho

Penyunting: Della Meydi Pertiwi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *