#SENOPATI Solaris: Sebuah Perjalanan

Solaris / Solyaris (1972) | Director: Andrei Tarkovsky | Writer: Friedrich Gorenstein | Cast: Natalya Bondarchuk, Donatas Banionis, Nikolai Granko | USSR | 167 min

Terinspirasi dari novel berjudul sama yang ditulis oleh Stainslaw Lem, Solaris merupakan salah satu film science fiction yang terkenal pada zamannya. Disutradarai dan ditulis oleh Andrei Tarkovsky, film ini mendapatkan Grand Prize of the Jury di Cannes Film Festival pada tahun 1972.

Solaris bercerita tentang seorang psikolog bernama Kris Kelvin (Donatas Banionis) yang ditugaskan untuk menginvestigasi kejadian aneh yang menimpa sekumpulan kru astronot di sebuah stasiun luar angkasa. Menariknya, stasiun tersebut mengorbit sebuah planet asing yang bernama Solaris. Meskipun film ini berdurasi tiga jam, Andrei Tarkovsky berhasil menjadikan Solaris sebagai film yang tetap menarik.

Istilah science fiction sangat familiar dengan sajian-sajian seperti teknologi canggih, pesawat luar angkasa, makhluk asing,dan latar kota yang futuristik. Menghadirkan tontonan yang berbeda, bukan dengan sajian perang luar angkasa nya Star Wars (1977), bukan dengan sajian makhluk asing jahatnya Alien (1979), bukan pula dengan sajian kota futuristik ala cyberpunk dari Blade Runner (1982), Solaris mengedepankan aspek perjalanan psikologis dari karakternya (character development) sebagai sajian utama. Mirip dengan 2001: A Space Odyssey (1968), Solaris menghadirkan elemen luar angkasa sebagai bagian dari pencarian ataupun pengembangan diri dari karakternya.

Solaris memberikan sajiannya dengan sangat detail demi memberikan kesan yang mendalam kepada penonton. Dibalut dengan pengambilan gambar long take, Solaris memberikan ruang bagi penonton untuk ikut mengontemplasikan alur cerita yang terkandung di dalamnya. Kekuatan pada gambar juga dihiasi dengan perbedaan warna yang mendominasi di beberapa adegannya, sehingga memperkuat mood yang dimiliki. Diiringi dengan scoring bernuansa dreamy dengan tempo lambat, melengkapi keindahan yang ada dari segi visual. Tidak lupa dengan genre science fiction-nya, latar tempat disajikan dengan gaya uniknya yang retro-futuristic memperkuat ciri khas yang dimiliki oleh film ini.

Sesuatu yang menarik dari film ini, yaitu perjalanan karakter tidak dilakukan dengan berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya untuk mencapai tujuan, tetapi perjalanan itu dilakukan dengan berpindahnya tingkat pemahaman diri oleh karakter itu ke tingkat pemahaman yang lebih tinggi lagi. Dengan kata lain, manusia sebagai makhluk hidup, tidak hanya memiliki perjalanan dalam bentuk ruang dan waktu, tetapi manusia juga memiliki perjalanan berupa kesadaran dalam diri yang selalu melekat di dalam manusia itu sendiri.

Meskipun demikian, film ini dihadirkan dengan tema yang agak absurd, Solaris merupakan film yang tidak cocok untuk dijadikan sebagai penghibur dikala kita banyak pikiran. Bukannya mengurangi beban pikiran, Solaris justru akan menambah beban pikiran. Namun hal itu menjadikan film ini semakin unik, karena genre nya sebagai science fiction, suatu genre yang biasanya menjadi penghibur. Dengan nuansa yang bergaya surealis, Solaris memiliki nuansa yang mirip dengan film berjudul Annihilation (2018).

Annihilation adalah sebuah film yang menceritakan sebuah ekspedisi menuju zona asing yang membuat hukum alam tidak berlaku dengan semestinya. Kemiripannya dengan Annihilation adalah kedua film ini sama-sama menghadirkan objek atau fenomena asing yang berusaha untuk dipahami. Namun Annihilation masih memiliki elemen-elemen penghibur seperti adegan-adegan aksi. Solaris mungkin bukan tayangan yang cocok untuk dinikmati murni sebagai penghibur. Namun boleh dicoba bagi yang penasaran dengan film bergenre science fiction dengan gaya yang tidak biasa.

Penulis: Ian Iqbal

Penyunting: Maulana Ihza

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *